Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 06 Mei 2018

Efesus 5:15-6:4

Banyak keluarga yang mengalami goncangan yang sangat hebat saat ini, bahkan berada di ambang kehancuran. Hal ini berbeda sekali dengan situasi sebelum menikah atau di awal pernikahan: ingin menjadi suami atau istri yang baik dan membangun keluarga yang baik pula. Namun faktanya, banyak relasi antar anggota keluarga yang buruk.

Renungan pada hari ini mau mengajak kita semua untuk merenung sejenak: jika keluarga kita ibarat kapal yang sedang berada di tengah lautan, maka “kapal keluarga” kita mau mau berlayar ke arah mana? Jika diibaratkan dengan sebuah kapal, maka Tuhan itu adalah nakhodanya. Dialah yang mengarahkan kapal tersebut menuju pelabuhan yang dikehendaki-Nya. Setiap orang yang berlayar harus mengerti sang Nakhoda mau membawa ke mana. Surat Efesus menempatkan topik pernikahan dalam konteks “manusia baru” yang bertumbuh menjadi “anak-anak yang menyerupai Bapa.” Dengan kata lain, setiap keluarga Kristen perlu menyadari betapa pentingnya relasi pribadi dengan Kristus, dan bertumbuh menjadi serupa Kristus.

Akan tetapi, proses untuk menjadi serupa dengan Bapa ini tidaklah mudah. Sebagai suami atau istri atau anak akan menghadapi banyak tantangan. Itu sebabnya Paulus menyebutkan dalam ayat 16, “hari-hari ini jahat.” Artinya, banyak godaan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga, dan godaan itu begitu hebatnya. Untuk menghadapinya, Paulus menasehati agar “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh…” (ay. 17-18).

Kata “mengerti kehendak Allah” merupakan kata dalam bentuk perintah dan bersifat terus menerus. Itu berarti, setiap orang percaya (anggota keluarga) diperintahkan untuk terus menerus mengerti kehendak Allah berkenaan dengan kehidupan setiap hari. Hal itu bisa terjadi bila kehidupan kita “dipenuhi oleh Roh Kudus” setiap saat. Kata “dipenuhi” menyatakan kesediaan untuk dipimpin oleh Roh Kudus, mengizinkan Roh Kudus untuk mengendalikan hati, pikiran dan kehendak kita. Dengan demikian, orang yang dipimpin oleh Tuhan adalah orang yang bisa mengerti kehendak Tuhan.

Setidaknya ada 2 ciri dari orang yang hidupnya dipimpin oleh Allah, yakni:
1. Penggunaan kata-kata secara benar dan tepat di dalam keluarga kita. Kata-kata mempunyai dampak yang besar: bisa memberi dampak yang inspiratif, membangun dan memberkati; tapi juga bisa memberi tampak yang destruktif, melukai dan menghancurkan. Seorang yang dipimpin oleh pimpin oleh Allah adalah orang yang bersedia untuk menggendalikan kata-katanya, sehingga seisi rumah tangganya diberkati. Kata-kata yang merendahkan, melukai, dan menghina hanya akan menghancurkan.

2. Penundukan diri kepada Kristus, sebagaimana Kristus menundukkan diri kepada Bapa. Penundukan diri ini merupakan tindakan yang aktif dan disengaja. Akan tetapi, hal ini sulit dilakukan bila orang tersebut merasa memiliki kelebihan yang bisa menjadi kekuatannya.

Dalam ayat 22, Paulus menasehati para istri untuk tunduk kepada suami dan menghormati
suami. Sesungguhnya, seorang istri mudah untuk tunduk kepada suami. Namun, ada setidaknya ada dua alasan mengapa seorang istri sulit tunduk kepada suami: pertama, karena ia melihat prilaku yang tidak pantas dari suaminya; dan kedua, karena ia merasa memiliki kelebihan misalnya karir, kepandaian, keterampilannya. Tapi, Paulus tetap menasehati agar menghormati suami.

Dalam ayat 25, Paulus menasehati para suami agar mengasihi istri dengan meneladani Kristus. Hal ini tentu tidak mudah. Karena itu, seorang suami pun harus menundukkan diri (ego) kepada Kristus dan belajar dari Kristus. Dengan demikian, seorang suami dapat menggunakan kekuatannya secara fisik dan finansial untuk melindungi dan membahagiakan istri dan anak-anaknya.

Dalam 6:1-4, Paulus menasehati anak-anak. Ketika anak masih kecil, maka mereka masih
mau takluk (dengan gampang). Mengapa? Karena mereka masih belum memiliki kekuatan apa-apa. Namun, ketika sudah remaja dan pemuda: merasa sudah memiliki kekuatan. Setiap anak pun haruslah belajar menaklukkan diri sehingga tetap bisa memberikan rasa hormat kepada orang tua. Bagi orang tua, kita pun perlu mengaku kepada anak kita bila kita melakukan kesalahan, serta meminta maaf. Hal ini akan membangun relasi yang semakin kuat antara orangtua dengan anak.

Setiap keluarga memiliki pergumulan masing-masing. Tapi percayalah, seberat apa pun pergumulan yang kita alami dalam keluarga kita, masih ada harapan. Serahkan kepemimpinan keluarga kita kepada Yesus, sang Nakhoda yang agung. Dia yang akan memandu setiap anggota keluarga kita dan membaharui keluarga kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here