Ringkasan Khotbah GKKK Malang; Ev. Yohanes Tan, Minggu 22 Maret 2020

Tema: Perkataan Yesus di Salib: “Allahku, Allahku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”

Nats Alkitab: Matius. 27:45-56

Introduksi

Selama minggu-minggu pra-paskah ini, dalam Kebaktian Umum kita merenungkan 7 perkataan Tuhan Yesus di kayu salib.  Pada hari ini kita akan merenungkan perkataan Tuhan Yesus di kayu salib yang keempat: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  Perenungan ini didasarkan pada Injil Matius 27:45-56, perikop Yesus mati, dengan fokus kepada ayat 46.

Apologi Singkat Terhadap Musuh Injil

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  Para musuh Injil mengartikan perkataan Yesus yang keempat ini sebagai ketakutan dan ketidakrelaan Yesus menghadapi derita salib.  Mereka menuduh bahwa Yesus takut mati.  Bahkan ada dari mereka yang kemudian mereka-reka kisah yang dibungkus dalam kemasan ilmiah dan menyebarluaskannya dalam bentuk buku dan film untuk mendapat keuntungan.

Apakah betul Tuhan Yesus merasa takut dan tidak rela menderita di salib?  Sungguhkah Ia takut mati?  Sudah tentu TIDAK!

  • Bagi Yesus Kristus yang adalah Roti Hidup, Kebangkitan & Hidup, Sumber Hidup, kematian bukanlah masalah. Itu terlihat dari kuasa-Nya membangkitkan orang mati, bahkan Lazarus yang telah mati empat hari pun sanggup Dia bangkitkan.
  • Lagi pula, Tuhan Yesus tahu maksud kedatangan- Nya bahwa Ia harus meminum cawan pahit, menanggung banyak derita dan ditolak (Mrk. 8:31-33), menderita karena murka Allah terhadap dosa umat manusia (Yoh. 18:11) sebagai suatu korban tebusan bagi orang banyak (Mat. 20:28). Itu sebabnya ketika bergumul di Taman Getsemani, Tuhan Yesus menyatakan kerelaan-Nya, bahkan sampai tiga kali, untuk melakukan kehendak Bapa untuk meminum cawan penderitaan (Mat. 26:39, 42, 44).  Semuanya itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus secara sadar dan sepenuh tekad menyatakan kerelaan dan kesediaan-Nya untuk menderita.  Dia tahu dan siap menanggung salib dengan segala konsekwensinya dan taat sampai ke atas kayu salib (Flp. 2:7-8).

Seruan Yang Menyingkapkan Derita Rohani

Eli, Eli, lama sabakhtani.  Dalam seruan ini Tuhan Yesus menyebut “Allahku,” bukan “Bapaku,” karena pada momen ini Dia memandang diri-Nya sebagai kurban penebusan bagi orang berdosa.  Seruan ini mungkin yang paling menyayat hati di seluruh Alkitab.  Tuhan Yesus berseru dengan suara nyaring bukan dikarenakan rasa sakit fisik, kebingungan psikologis, atau ketakutan akan kematian.  Ini adalah tangisan Allah Anak, yang sekarang mengalami sesuatu yang tidak pernah dikenal-Nya dalam kekekalan: terpisah dari dan ditinggalkan oleh Allah Bapa.  Ini merupakan teriakan kesedihan yang menunjukkan penderitaan rohani yang sangat hebat yang dirasakan oleh Tuhan Yesus.

Matius, Markus, dan Lukas mencatat bahwa saat siang hari, kira-kira jam 12, tiba-tiba kegelapan meliputi seluruh negeri sampai jam tiga.  Ini adalah mukjizat Allah, suatu tanda kosmik tentang penghakiman Allah atas dosa yang dicurahkan kepada Anak-Nya (Yes. 5:25-30; Am. 8:9-10; Mi. 3:5-7; Zef. 1:14-15).  Kegelapan Kalvari selama tiga jam adalah pengumuman murka Allah yang diikuti dengan Anak sulung Allah memberikan hidup-Nya untuk dosa-dosa dunia!  Seruan Tuhan Yesus dan kegelapan yang menutupi seluruh daerah itu saling melengkapi menyatakan sebuah kebenaran.  Allah meninggalkan Allah.  Allah terpisah dan berpaling dari Allah.  Untuk sementara Bapa mengabaikan Anak.  Ini adalah harga yang Dia bayar sebagai “tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45).

Tuhan Yesus mengalami derita yang hebat ini untuk saya, anda, dan kita semua.  Ia dijadikan yang terkutuk karena kita (Gal. 3:13) untuk membenarkan orang-orang berdosa yang percaya kepada-Nya (Rm. 3:25-26).  Sebelum salib, manusia diusir dari hadirat Allah; karena salib, kita sekarang diundang ke hadirat Allah.  Sebelum salib, manusia takut kepada Allah dan ada di bawah penghakiman dan ancaman hukuman, karena salib kita sekarang dimerdekakan, dijadikan sahabat bahkan ahli waris Allah.  Itulah efek salib, manfaat dari derita rohani yang ditanggung Yesus, bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.  Bagaimana kita harus memberi respons terhadap Kristus yang telah  menderita dan memberikan manfaat yang begitu luar biasa bagi kita?

  • Berikanlah dirimu diperdamaikan dengan Allah. Datang dan percayalah kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan agar saudara diselamatkan dan memiliki kembali persekutuan dengan Allah! Jangan sia-siakan manfaat luar biasa dari penderitaan rohani yang ditanggung-Nya.  Kalau saudara tidak mau, maka saudara adalah musuh Allah dan berada di bawah ancaman kebinasaan kekal!
  • Jika saudara sudah menjadi orang percaya maka hiduplah sebagai anak-anak terang. Berjalanlah bersama Allah dengan salib menjadi pusatnya.  Berfokus pada salib membantu kita melawan godaan karena kita diingatkan akan penderitaan hebat Yesus ketika menggantikan kita.  Bagaimana saya bisa berdosa terhadap Dia yang begitu mengasihi saya?  Hargai keselamatan yang dianugerahkan-Nya dengan tidak lagi hidup dalam kedagingan dan menurut dunia.
  • Allah ingin semua ujung bumi berbalik kepada-Nya dan menyembah-Nya (Mzm. 22:28). Untuk itulah Yesus rela menanggung derita yang sedemikian hebat di kayu salib.  Oleh sebab itu, jadikanlah hati Tuhan untuk jiwa-jiwa yang terhilang sebagai prioritas sementara kita berjalan bersama dengan Tuhan.  Upayakanlah dalam setiap kesempatan untuk memberitakan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang.

Seruan Yang Memberikan Pengharapan

Ketika hidup berjalan ke arah yang tidak kita harapkan, ketika segala sesuatu terlihat mengecewakan, tidak sedikit orang yang meragukan kebaikkan Allah, komplain dan dengan marah sambil tangan teracung ke langit mengutip perkataan Tuhan Yesus: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  Namun, ketika menyerukan kalimat ini, Tuhan Yesus tidak sedang komplain, marah, atau putus asa.  Jangan pernah kita berpikir bahwa Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada Bapa-Nya, “Mengapa Engkau melakukan ini kepada-Ku?”  Ini adalah seruan kebergantungan pada Allah yang penuh pengharapan.

Dalam kitab Ester dikisahkan Haman yang marah karena Mordekhai menolak untuk sujud memberi hormat kepadanya.  Haman dengan licik mengatur rencana dan membuat raja menetapkan pembinasaan semua orang Yahudi di wilayah kekuasaan Media Persia.  Orang Yahudi terancam binasa, tidak berdaya untuk meluputkan diri, hanya bisa berkabung, berpuasa dengan meratap dan menangis.

  • Menghadapi situasi ini, Mordekhai meminta Ester untuk menghadap raja guna membela bangsanya. Ester pada awalnya keberatan tetapi pada akhirnya setuju.  “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang.  Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Est. 4:16).
  • Talmud (kitab pengajaran orang Yahudi berkaitan dengan hukum, etika, kebiasaan, dan sejarah) menyatakan bahwa Ester membaca Mazmur 22 ini sehubungan dengan situasinya saat ia akan datang di hadapan Raja Ahasyweros tanpa dipanggil.
  • Midrash (kitab pengajaran lainnya dari orang Yahudi) mengatakan bahwa pada hari ketiga puasanya, Ester menangis dan berkata, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:2).  Setelah itu dia pergi menghadap raja Ahasyweros (Est. 5:1) dan memulai perjuangan heroik untuk mendatangkan keselamatan bagi orang Yahudi.
  • Kitab Ester mencatat mukjizat luar biasa, kemenangan gemilang yang mengakhiri suasana suram dan mencekam oleh karena rencana licik Haman. Musuh dikalahkan dan orang Israel akhirnya luput dari kebinasaan (Est. 7-9).  Peristiwa luputnya orang Yahudi dari kebinasaan dan kemenangan yang gemilang ini kemudian diperingati dan dirayakan dengan sukacita sebagai Hari Raya Purim (Est. 9:20-32).
  • Mazmur 22 menjadi bagian dari Hari raya Purim dimana orang Yahudi biasanya membaca atau menyanyikannya. Orang Yahudi pada masa itu memahami “rusa di kala fajar” (ayat 1)sebagai gambaran sosok Ester yang berteriak kepada Allah mengharapkan pertolongan di tengah-tengah situasi bangsanya yang sulit.

Selain itu, Mazmur 22 ini juga dinyanyikan pada waktu-waktu tertentu oleh terutama kalangan wanita Yahudi, sebagian pria juga melakukannya, untuk meratapi sesuatu yang terjadi dengan harapan ada mujizat sebagaimana dahulu Ester mengalaminya.  Dengan kata lain, sebagai orang Israel, Tuhan Yesus, para murid khususnya wanita-wanita yang ada di dekat salib akrab dengan Mazmur 22.

Eli, Eli, lama sabakhtani adalah seruan Tuhan Yesus dengan mengutip Mazmur 22.  Jika di saat sangat menderita di kayu salib Tuhan Yesus mengutip dan menyerukan Mazmur ini dengan suara nyaring, pastilah ada pesan penting yang ingin disampaikan oleh-Nya.  Tuhan Yesus dengan suara keras menyerukan Mazmur ini adalah untuk memberi hiburan, harapan, dan kekuatan kepada ibu-Nya, para wanita dan murid lainnya yang ada di dekat salib.

  • Tuhan Yesus tahu betul bagaimana ibu-Nya, para wanita dan murid lain teriris-iris hatinya menyaksikan Yesus menderita di kayu salib. Melalui seruan-Nya ini Tuhan Yesus mengajak mereka untuk kembali mengingat doa orang Yahudi ketika sedang berduka-cita dan menantikan pertolongan Allah.  Walaupun Tuhan Yesus hanya mengutip satu ayat saja, tetapi mereka pastilah langsung diingatkan pada keseluruhan Mazmur ini; mereka diingatkan pada kisah Ester dan kelepasan bangsa Israel dari ancaman kebinasaan.  Ketika hidup terlihat kelam dalam pandangan mereka, Tuhan Yesus mengajak mereka semua untuk menaruh pengharapan kepada Allah, menanti pertolongan dan kelepasan yang daripada-Nya.

Seruan Tuhan Yesus ini tidak saja mendatangkan ketenangan dan pengharapan bagi ibu-Nya, para wanita, dan murid yang mendengar tetapi bagi kita juga pada masa sekarang ini.

  • Sudah hampir tiga bulan dunia dihebohkan oleh virus Corona dan penyebarannya yang begitu cepat. Mulai dari Wuhan kemudian merebak lintas negara dan lintas benua.  Banyak orang terpapar, banyak korban meninggal.  Orang-orang menjadi resah dan panik.    Demikian juga kita yang tinggal di Malang.  Mendadak optimisme di tahun baru berubah suram dan kelam.  Banyak orang merasa tidak berdaya dan seperti kehilangan tujuan.  Dalam situasi yang begini, kita perlu sekali lagi mendengarkan seruan Tuhan Yesus di kayu salib. Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  Kiranya seruan Tuhan Yesus ini membuat kita menggantungkan harapan kita kepada Allah saja, mendatangkan keteduhan dan kekuatan.  Gelap memang meliputi tetapi fajar akan segera terbit.  Situasi memang sulit, tetapi mukjizat Allah akan dialami oleh mereka yang berharap kepada-Nya.
  • Biarlah kita bisa berkata seperti Daud, “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong” (Mzm. 40:2).
  • Biarlah kita mendapati pertolongan Tuhan seperti yang dikatakan oleh Pemazmur, “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka” (107:6).
  • Biarlah kita bisa mengalami apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (40:31).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here