Ringkasan Khotbah Pdt. Budianto Lim; Minggu, 07 April 2019

“Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.” Salam tersebut cukup sering didengarkan setiap hari diucapkan oleh masyarakat Muslim di negeri ini. Salam yang digunakan dalam berbagai macam konteks seperti waktu di mesjid, bertamu atau aktifitas lain dalam keseharian mereka. Kaum Nasrani juga memiliki ungkapan yang sangat mirip, hanya berasal dari bahasa Ibrani yang berbunyi “shalom aleichem” artinya ‘damai menyertaimu’. Sayangnya, salam tersebut belum dengan konsisten digunakan oleh orang-orang Kristen dalam hidup sehari-hari khususnya ketika berada di luar gereja.

Mengapa demikian?
Saya menduga mayoritas orang Kristen tidak pakai salam tersebut karena tanpa sadar kita tidak mengintegrasi apa yang terjadi di gereja dengan aktifitas hidup sehari-hari. Banyak orang Kristen menganggap penyembahan hanya terjadi di gereja ketika ada panduan liturgi dengan pimpinan liturgos dan ada yg ajak menyanyi ataupun ada iringan musik enak dan ada yang memaparkan makna Alkitab. Begitu pulang dari gereja-menjalani hidup dari Senin sampai dengan Sabtu, tanpa ada liturgos, tanpa liturgi, maka kita menjalani hidup seolah-olah rutinitas itu tidak terkait dengan ibadah. Akibatnya kehidupan yang dikotomis merambah ke seluruh aspek keseharian, sehingga pertumbuhan jati diri Kristiani terjadi dengan tidak sehat. Demi terhindar dari situasi hidup demikian, umat Kristiani perlu belajar mengintegrasikan Liturgi Kebaktian menjadi Liturgi Kehidupan. Bagaimana caranya?

Cara pikir atas beberapa aspek perlu diluruskan, antara lain:
• Makna “liturgi” adalah “karya komunitas tebusan Allah”. Artinya karya komunitas ini tidak hanya terjadi ketika orang Kristen berkumpul di satu tempat untuk lakukan kebaktian. Karya ini harusnya terjadi dalam keseharian.

• Dasar Firman Tuhan dari Imamat 18 dan 19 menunjukan maksud TUHAN Allah bagi umat tebusan. Yaitu TUHAN ingin kita menyembahnya bukan sekedar ritual kewajiban agama, tetapi mewujudkan hidup kudus dalam rutinitas sehari-hari. Hal ini terjadi dalam berbagai konteks hidup sehari-hari.

Berdasarkan kedua hal di atas, kita perlu meyakini bahwa Liturgi Kebaktian dapat diaplikasikan menjadi Liturgi Kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya mengaplikasikannya?
Ada dua prinsip utama berdasarkan Roma 12:1-2, yaitu:

1. Ibadah Kristen adalah sebuah persembahan tubuh. Artinya tiap umat percaya perlu melakukan tindakan aktif yang menjadikan penyembahannya rasional menurut standar Allah.

2. Ibadah Kristen yang rasional di tengah dunia ini tidak bisa terjadi tanpa ada perubahan pola pikir yang menggabungkan pendalaman dan pengalaman. Pendalaman artinya kita perlu memahami semua makna elemen Liturgi Kebaktian Minggu. Pengalaman artinya kita perlu mentransfer makna tersebut menjadi tindakan-tindakan dalam hidup sehari-hari.
Sebagai contoh, kita dapat mengambil Liturgi Kebaktian Minggu dalam GKKK Malang agar difungsikan sebagai panduan Liturgi Kehidupan.

Liturgi Kebaktian MingguLiturgi Kehidupan
• Persiapan Hati - mengajak kita berdiam diri - berdiam diri maksudnya adalah supaya kita tahu diri sebab Tuhan ada ditengah kita melalui Roh-Nya
• Votum-Salam - mempertegas inisiatif Allah memulai ibadah.
• Kidung Penghormatan (Nyanyian Bersama) - respons umat
Awal Hari (pagi)
• Bangun pagi, berdiam diri sebelum beraktifitas.
• Ucapkan Mazmur 124:8
• Berdoa menyadari panggilan hidup dari Tuhan.
• Memuji Tuhan atas hari yang baru.
• Doa Pengakuan Dosa
• Berita Anugerah
Siang Hari
• Sisihkan waktu 5-10 menit untuk pemeriksaan diri
• Ucapkan Maz 19:13
• Doa “Tuhan kasihanilah aku orang berdosa ini”
• Imani bahwa Allah selalu terbuka menerima kita yang sungguh bertobat.
• Berita FirmanSepanjang Hari
• Renungkan kembali ayat Alkitab dari saat teduh.
• Atau renungkan ulang isi khotbah di Kebaktian Minggu
•Persembahan Syukur & SyafaatSore Hari
•Ucapkan syukur dengan spesifik
•Doakan orang lain
•Pengutusan & Berkat
•Doksologi & Amin
Malam Hari
•Lakukan doa examen (introspeksi)
•Tutup hari dengan Doksologi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here