BAPA, AMPUNILAH MEREKA

Ringkasan Khotbah Pdt. Gindo Manogi, Minggu 01 Maret 2020

LUKAS 23:33-43

 Yesus divonis bersalah dan harus dihukum mati (disalib). Selama berada di kayu salib, Yesus mengucapkan tujuh perkataan yang sangat terkenal (Luk. 23:34; 43; Yoh. 19:25-27; Mat. 27:46; Yoh. 19:28; 30; Luk. 23:46). Di dalam ketujuh perkataan tersebut, tidak ada satu pun pernyataan yang bernada makian, hujatan, atau pun kutukan. Sebaliknya, menyatakan penggenapan janji Allah dan demonstrasi kasih Allah.

Ketujuh perkataan itu sekaligus merupakan sanggahan terhadap pandangan bahwa yang mati di kayu salib bukanlah Yesus, melainkan seseorang yang wajahnya dibuat mirip dengan wajah Yesus. Pandangan itu menyatakan bahwa tokoh yang menyerupai wajah Yesus adalah Yudas. Tujuh perkataan salib merupakan kata-kata yang tidak cocok diucapkan oleh Yudas. Sebaliknya, kata-kata itu cocok diucapkan oleh Sang Juruselamat, yakni Yesus Kristus.

 

Makna “Ampunilah…”

Dari kata “ampunilah …,” ada 2 hal yang terkandung di dalam kalimat itu, yakni:

  1. Pernyataan bahwa “ada yang bersalah.”
  2. Akibat dari pelanggaran tersebut, maka harus ada yang membayar ganti ruginya. Biasanya, yang berbuat salah yang membayar ganti ruginya.

Ketika Tuhan Yesus berkata kepada Bapa, “Ampunilah mereka…” Yesus menegaskan bahwa manusia telah berbuat dosa dan melanggar kebenaran Allah. Tapi, untuk membayar nilai tuntutan dan hukum Allah, manusia tidak mampu. Sebaliknya, Yesuslah yang membayarnya.

Dalam hal ini, Tuhan Yesus menjalankan peran sebagai Imam Besar yang membawa darah-Nya sendiri untuk pengampunan dosa manusia. “Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar … dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri… Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:11-14).

Allah yang menyediakan “korban penebusan dosa” tersebut, karena manusia tidak akan pernah dapat memenuhi tuntutan kekudusan dan kesempurnaan Allah. Lalu, Allah memberikannya secara cuma-cuma kepada manusia. Mazmur 49:8-9, “ Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”

Ini merupakan kabar baik yang Allah sampaikan kepada dunia, sebagaimana yang dikumandangkan oleh malaikat ketika Yesus lahir, “..sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Manusia berada di dalam cengkeraman dosa, dan manusia tidak dapat membebaskan diri dari hukuman dosa. Melalui kayu salib ini, Allah mendeklarasikan pengampunan (“Ya Bapa, ampunilah mereka…), dan ini merupakan kabar baik bagi dunia. Kabar baik ini merupakan pengampunan, penerimaan dan pemulihan relasi yang dilakukan Allah bagi manusia.

 

Implikasinya:

  1. Allah memberikan jaminan hidup kekal bagi orang yang percaya pada-Nya.

Dosa menjadi penghalang antara Allah dengan manusia; dan upah dosa adalah maut. Untuk pengampunan dosa, maka diperlukan pengorbanan. Tanpa pengorbanan, maka tidak ada pengampunan dosa. Tanpa pengampunan dosa, tidak ada jaminan hidup kekal. (Lih. Ibrani 9:22)

 

  1. Menjadi pembawa kabar baik di dalam dunia.

Dunia penuh dengan kebencian, kemarahan dan dendam. Kabar baik “pengampunan, penerimaan dan pemulihan dari Kristus” merupakan kebutuhan dunia. Menjadi pembawa kabar baik ini tidaklah mudah karena natur kita, sebagai orang berdosa, adalah membalas. Kita harus belajar dari teladan Tuhan Yesus: ketika berada dalam kesakitan yang luar biasa, Ia justru mengucapkan kalimat yang agung dan indah ini, “ya Bapa, ampunilah mereka…” Kita memohon pertolongan Tuhan untuk memampukan kita dapat mengampuni.

 

  1. Menjadi teladan di dalam dunia.

Tuhan Yesus bukan hanya mengajarkan tentang mengampuni (Matius 5:43-44), tapi Ia pun mengajarkan-Nya. Ini menjadi kesaksian bagi sang penjahat yang disalib bersama dengan Yesus dan juga kepala prajurit (Mat. 27:54). Mengampuni merupakan tindakan ketaatan kita kepada Kristus, sebagaimana yang dinyatakan oleh C.S. Lewis, “Menjadi seorang Kristen berarti mengampuni orang yang tidak dapat diampuni, karena Tuhan telah mengampuni engkau yang tidak dapat diampuni.” Ini menjadi kesaksian yang indah di dalam dunia, dan bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan.

SHARE
Previous articleWarta 01 Maret 2020
Next articleWarta 08 Maret 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here