Titus 2: 3-5 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Daniel Tanusaputra, 12 Mei 2019

Siapakah seorang perempuan? Apa yang menentukan identitas dirinya? Apa yang dilihat laki-laki? Dunia mode atau iklan? Apa yang membuat perempuan adalah perempuan? Apakah penampilannya? Tubuh, pakaian, dandanan, kencantikannya? Tidaklah heran jika seorang pe- rempuan menjadi komoditi dalam dunia medsos dan periklanan? Tidaklah heran, jika banyak perempuan berada dalam tekanan untuk tetap muda, sexy dan menarik! Tetapi lain dengan apa yang Alkitab katakana tentang seorang perempuan yang saleh!

1) Siapakah seorang “perempuan yang saleh” – “a godly woman”?
Perempuan yang dikasihi Allah, tahu ia oleh kasih karunia-Nya, ia ditebus dan adalah milik-Nya (Tit 2:14), Allah yang memiliki rencana dalam hidupnya apa pun yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa yad! Ia mengasihi Allah dengan segenap hatinya lebih dari segalanya, seorang murid Tuhan yang mau belajar, terus-menerus belajar, rajin untuk berbuat baik dan bertumbuh (bukan karena perbuatannya yang baik, tetapi karena rahmat-Nya memampukannya untuk melakukan perbuatan yang terhormat, baik dan anggun adanya (Tit 3:4-5.14). Gambar dan harga dirinya dikendalikan oleh bagaimana Allah sendiri melihat dirinya! Seorang perempuan yang saleh berani menghadapi kehidupan ini, karena ia menumpukan pengharapan masa depannya kepada Allah yang berkuasa atas hidupnya (Tit 2:13).

Konteks Sidang Jema’at Kreta, lingkungan:“Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas,pelahap yang malas“(Tit 1:12). Ditengah-tengah budaya „kebohongan menjadi bagian hidup yang normal“ (kebohongan = „dongeng-dongeng“ dan ‚berpaling dari kebenaran“, ay 14. Melalui Titus 2 ini, Paulus menasihati Titus untuk mengajar dan memberikan dorongan kepada anggota jemaatnya yang terdiri dari berbagai kelompok (penatua, penilik, laki-laki dan perempuan), sejak mereka hidup di bawah kasih karunia Allah dan memiliki pengharapan untuk kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali (2:13). Fasal 3 Pls kembali memberikan nasihat-nasihatnya, supaya mereka melakukan perbuatan yang baik dan perilaku yang baik yang merupakan ciri khas sebagai orang-orang percaya! Dengan mengungkapkan beberapa kepedulian dan kekwatiran pribadi.

Pagi ini kita ingin melihat apa yang Paulus tulis kepada Titus yang berhubungan dengan perempuan tua dan muda, ia telah membahas tentang laki-laki yang tua di ay 2 dan tentang laki-laki muda ay 6-10.

2) Seorang Perempuan Yang Saleh (Tit 2: 3-5)
“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua . . .” seorang perempuan yang sudah memiliki pengalaman membesarkan anak, dalam literatur Yunani bisa kita temukan perempuan yang berusia sekitar 50’ atau Lk 1:18:”Seorang Zakharia dan istri Elisabeth yang usianya sudah lanjut . . .” atau Paulus (Filemon 9), ketika ia beranjak ke usia 60’ tahun! Satu hal tidak menjamin orang-orang yang menjadi tua adalah menjadi orang-orang yang lebih saleh dan hidupnya dekat dengan Tuhan, oleh sebab itu Paulus menasihati Titus untuk mengingatkan perempuan-perempuan tua, artinya perempuan yang sudah memiliki pengalaman hidup hendaknya mereka pun memiliki kerohanian yang baik, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah (Tit 3:14).

Kesalehan: Yang ‘Beribadah’: Perilaku dan sikap hidup dalam keseharian, seperti seorang imam yang saleh ‚reverent‘ serasi untuk sesuatu yang kudus ‚sacred‘. Seorang perempuan yang hidup saleh hidup, ia memiliki menyangkut perilaku dan sikap – suatu sikap dari seorang imam dalam bait suci: Perilaku dan sikap hati yang setangkup, hidup dalam bait suci dan keseharian yang utuh! Seperti gambaran yang Paulus tulis dalam: 1 Tim 5:22: “Tetapi seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang dan malam”, bdk Hanna, Lk 2:36-37:”. . . siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa” – Di Yope ada seorang bernama Tabita, Dorkas (Yunani), “Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” Kis 9:36-39. Seorang perempuan yang saleh, hidupnya intim, melekat pada Allahnya.

Karakter: Jangan memfitnah (‚diabolous‘ = mengatakan kebohongan, kata-kata yang menyesatkan, inilah yang merupakan karakter dari Setan! Ditengah-tengah budaya di Kreta saat itu dimana kebohongan dan dusta menjadi sesuatu yang wajar, bdk Tit 1: Paulus dalam nada yang sama dengan keras mengatakan “Lagi pula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter (KBBI = perkataan yang keluar terus-menerus dengan tidak tentu maksud dan tujuannya, peleter atau pembual) dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas” (1 Tim 5: 13).

Kebiasaan: Jangan menjadi hamba anggur ‘bebas dari anggur!” Artinya: Tidak terikat atau kecanduan, dahulu belum ada obat anti nyeri seperti, ibu profen atau panadol, bodrex, jadi anggur yang mengandung alkohol, bisa berfungsi sebagai obat anti nyeri dst, tetapi merupakan suatu bahaya sampai di jaman ini orang bisa terikat atau kencanduan! Ketika seseorang menghadapi kesepian, penderitaan dan kesakitan, mudah sekali kita melarikan diri untuk mengobati diri dengan segera melarikan diri ke dalam kencanduan minuman atau obat-obatan. Paulus ingin mengatakan:”Tidak harus melarikan diri dari kenyataan hidup ini, walaupun sulit dan dalam segala keterbatasan usia yang sudah uzur atau kelemahan, tetapi tetap perempuan-perempuan yang tua ini, hidup dalam kesalehan, perilaku, sikap yang baik, terhormat, berguna dan menjadi berkat bagi sesamanya, terutama bisa menurunkan dengan mendidik perempuan-perempuan yang muda.

Kecakapan: Cakap mengajar – Guru dari apa yang baik/indah/anggun, pendidik atau pelatih yang baik atau dari kebaikan, artinya: guru yang baik dalam perkataan dan perbuatan – perempuan yang mengajar, bdk dalam sidang jema’at di Efesus, seperti Priska dan Akwila (2 Tim 4: 19) – Mendidik, mereka yang melatih, “seorang yang memberikan pelatihan” – ‘ada proses belajar dan mengajar yang terjadi, ada sesuatu yang dilihat dan didengar dan dilakukan’ (= suatu pembelajaran yang menyangkut ‘asah, asih dan asuh’ – bukan sekedar apa yang dikatakan, tetapi harus ditunjukkan bagaimana melakukannya dan melihat apakah benar yang diajarkan itu melakukannya dengan benar, sehingga perempuan-perempuan yang muda bisa memiliki kehidupan yang bijaksana, suci artinya diistimewakan untuk Allah, rajin mengatur rumah tangga, baik hati dan taat kepada suaminya (1 Ptr 3: 1-7)

Tujuan Pengajaran: „ . . . supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita“ (Tit 2: 10)

Perempuan saleh sebagai model untuk perempuan-perempuan muda lainya, supaya nyata, bahwa: “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia“ (Tit 3: 8)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here