Matius 13:3-9, 18-23 ; Ringkasan khotbah Ev. Esther G. Sulistio: Minggu, 28 Oktober 2018

Sebagai orang Kristen kita “terbiasa” tiap minggu datang beribadah. Kita memiliki pendengaran yang normal untuk dapat mendengar khotbah dengan baik. Namun masalahnya, apakah kita selalu mengembangkan sikap yang tepat dalam “mendengar” firman-Nya? Apakah kita mendengarkan firman-Nya dengan hati kita (Spiritual Hearing)?

Kata kunci dari perumpamaan tentang seorang penabur ini adalah “mendengar” (LAI: 14x). Bukan secara hurufiah karena penekanan Yesus bahwa “barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (13:8) adalah suatu penegasan bahwa ini bukan sekadar anjuran untuk mendengar. Bukan juga sekadar mengerti secara intelektual karena para murid yang disebut sebagai orang-orang yang diberi karunia mengetahui rahasia kerajaan Allah (13:11), mereka pun tidak memahami makna dari perumpamaan itu. “Mendengar” di sini lebih kepada mendengar dengan hati atau secara spiritual (13:9-17; 13-15).

Yesus tahu dengan jelas bahwa para pendengar-Nya adalah orang-orang Yahudi yang tengah menantikan Mesias/Raja yang dinubuatkan para nabi, yang akan melakukan pemulihan secara fisik bagi kejayaan Israel dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk kembali memberitakan tentang Kerajaan Allah. Secara tersirat Ia juga mengingatkan para pendengar-Nya bahwa Dia lebih dari sekadar pembawa pesan Injil Kerajaan Allah melainkan Dialah Mesias/Raja itu, yang akan membebaskan mereka dari dosa, bukan sekedar bebas dari belenggu penjajah dan penderitaan fisik di dunia! Pesan itu disampaikan dengan sebuah perumpamaan yang akrab untuk konteks mereka sebagai petani.

Dalam perumpamaan ini, benih yang dilempar oleh si petani itu tentu saja ditujukan ke tanah yang subur (yang telah digarap terlebih dahulu), namun ketika ditabur, ada benih yang jatuh di 3 lokasi yang salah dan tentu saja menghasilkan hasil yang berbeda! Benih yang jatuh di 3 lokasi yang salah itu menggambarkan mereka yang tidak mendengar Firman dengan hati (Artificial Hearing); sedangkan benih yang jatuh ditanah yang telah digarap adalah mereka yang mendengar Firman dengan hati (Spiritual Hearing)

MENDENGAR TIDAK DENGAN HATI (Artificial Hearing)
3 lokasi yang salah itu:

1. Tanah yang keras/pinggir jalan (ay. 4 dan 19). Tanah ini keras karena memang dipakai untuk lalu lintas pejalan kaki atau kendaraan yang ditarik hewan. Tidak heran benih yang ditaburkan di pinggir jalan ini tidak dapat tumbuh dan berbuah malah akhirnya di makan oleh burung. Kondisi ini menggambarkan mereka yang mendengar firman tapi hatinya sudah keras, menolak, tidak mau mendengar apalagi tunduk kepada firman sehingga firman itu tidak dapat tertanam di dalam hatinya dan akhirnya diambil oleh si Iblis.

2. Tanah yang berbatu (ay.5-6, 20-21). Benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu hanya tumbuh namun tidak berakar kuat karena lapisan tanahnya tipis, sehingga benih ini menjadi layu dan kering begitu panas sinar matahari menerpanya. Kondisi ini menggambarkan mereka yang mendengar firman dan menerimanya, tetapi ketika penderitaan dan penganiayaan datang mereka tidak bertahan dan memilih meninggalkan Tuhan.

3. Tanah yang dipenuhi semak duri (ay. 7, 22). Benih itu tumbuh sebentar tetapi kalah kuat dengan semak duri yang menghimpit benih tersebut dan membuatnya mati. Kondisi ini menggambarkan mereka yang mendengar firman dan menerimanya, tetapi kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak bertumbuh dan berbuah. Harta benda dan kenyamanan hidup membuat mereka jauh dari hadirat Tuhan!

Ke-3 golongan orang ini bukanlah orang-orang yang tidak mendengar firman. Mereka mendengarnya tetapi mereka tidak mendengar dengan benar. Kegagalan mereka dalam mendengar sebenarnya membuktikan keadaan spiritual/rohani mereka yang sebenarnya. Yesus pun berkata (ay. 13): “….karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” Ketidakmampuan ini bukan masalah kapasitas intelektual dalam menangkap pesan dari Firman, tetapi lebih kepada sikap hati, sekalipun kebenaran itu disampaikan berkali-kali kepada mereka (ay. 15): “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Ini adalah kondisi spiritual seseorang hati mereka yang tuli tidak mampu mendengar secara spiritual.

Firman Tuhan menyatakan, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Iman itu timbul dari hati yang sungguh-sungguh mau mendengar akan Firman. Iman dalam pandangan teologi Reformed menjelaskan bahwa ada 3 aspek penting yang menunjukkan keotentikan dari iman:

Ke-3 golongan orang yang digambarkan dalam perupamaan ini menunjukkan iman yang tidak utuh, tidak otentik karena hanya dalam sebatas percaya tanpa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

MENDENGAR DAN MENGERTI (Spiritual Hearing)
Mereka yang mendengar firman dengan hati mereka, diibaratkan dengan tanah yang subur (ay. 8, 23). Firman itu tertanam lalu berbuah: seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat. Lalu bagaimana seharusnya respon kita ketika firman itu ditaburkan? Kita perlu mengembangkan sikap yang benar terhadap firman-Nya:

1. Berdoa memohon Roh Kudus melembutkan hati kita. Hormati hadirat Allah, siapkan diri kita dijamah oleh firman-Nya.

2. Mendengar dan memahami Alkitab. Duduklah tenang, jangan biarkan pikiran dan HP kita menjauhkan kita dari firman-Nya.

3. Tunduk dan taat kepada kebenaran Alkitab lebih dari hikmat dan pengalaman kita. Biarkan Roh Kudus leluasa mengoreksi diri kita, taklukkan diri kepada kebenaran firman dan lakukan firman tersebut. Taruhlah semua hikmat, intelektual, teologi ataupun pengalaman rohani kita dibawah otoritas Firman-Nya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here