Kisah Rasul 2:41-42; Ringkasan khotbah Pdt. Gindo Manogi: Minggu, 14 Oktober 2018

Ketekunan merupakan salah satu kata yang penting dalam kehidupan kita – dalam aspek apa saja. Misalnya: Pekerjaan, pendidikan, dsb. Ketekunan itu penting karena dibalik kata tersebut ada tantangan. Tantangan itu harus dihadapi.

Ketekunan juga diperlukan dalam hal kerohanian (spiritualitas), karena ada “tantangan” dalam mempelajari dan menghidupi Firman Tuhan. Salah satunya adalah natur manusia lama kita yang masih menggoda kita untuk berbuat dosa. Hal itu menyebabkan kita cenderung untuk tidak merindukan Firman Tuhan, namun cenderung untuk menikmati dan memuaskan “kedagingan” kita ini.

Dalam perikop yang kita baca, maka kita menemukan sebuah keadaan yang sangat indah: jemaat mula-mula tekun belajar Firman Tuhan (ay. 42). Disebutkan bahwa setelah Petrus berkhotbah, banyak orang yang menjadi percaya pada Kristus dan mereka dibaptis. Sesudah itu, mereka melanjutkan pertumbuhan iman mereka dengan “bertekun dalam pengajaran para rasul.”

Kata “bertekun” ini mengimplikasikan bahwa mereka tidak membiarkan pertumbuhan kerohanian atau pengenalan mereka kepada Tuhan “bertumbuh begitu saja” atau “berjalan seadanya” atau mengabaikannya. Sebaliknya, mereka memberikan perhatian yang serius terhadap hal ini. Mereka menunjukkan sebuah kesungguhan, komitmen dan kerinduan yang sangat besar untuk belajar Firman Tuhan. Ketekunan belajar Firman Tuhan ini merupakan salah satu ciri dari jemaat mula-mula, sebagaimana yang dicatat oleh Kitab Kisah Rasul ini (Kisah Rasul 17:11, “…dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”). Ketekunan mereka ini mengingatkan kita bahwa setiap orang Kristen dibentuk oleh Allah melalui firman-Nya.

Akan tetapi, tidak semua orang memberikan perhatian kepada kehidupan rohaninya. Salah satu alasannya adalah “karena kita merasa ada hal lain yang lebih penting” sehingga spiritualitas kita tidak terperhatikan dengan baik. Padahal salah satu ciri seseorang memiliki kerohanian yang sehat adalah dia memberikan perhatian pada kehidupan batiniahnya. Spiritualitasnya.

Tuhan Yesus pernah mengingatkan: “manusia tidak hidup hanya dari roti saja, tapi juga dari firman Allah.” Hal ini bukan berarti Tuhan tidak memperhatikan kebutuhan jasmani (makan-minum) kita. Tapi pada bagian ini, yang menjadi perhatian Tuhan adalah hidup manusia juga tergantung pada relasinya dengan Tuhan. Tuhan mau mengingatkan agar kita tidak terjebak pada “fokus untuk yang jasmani, tapi mengabagikan hal rohani.” Sebaliknya, Tuhan mau kita melihatnya secara seimbang.

Tuhan menginginkan kita untuk memperhatikan spiritualitas kita. Jika kita secara sengaja tidak belajar untuk mengenal Allah dan kebenaran firman-Nya, maka kita secara sengaja membiarkan dunia mengubahkan hidup kita dan secara sengaja pula untuk menjalani hidup yang seadanya, bahkan hidup yang duniawi. Ketika firman tidak membentuk kita, maka dunia yang akan membentuk kita.

Salah satu hal penting yang perlu kita pelajari dari Firman Tuhan adalah mengenal Yesus Kristus. Petrus, yang berkhotbah dalam Kisah Rasul 2 tersebut, mengalami perubahan pengenalan tentang Tuhan Yesus. Dalam Matius 16 disebutkan bahwa Petrus menolak konsep Mesias yang menderita, mati dan bangkit. Tapi dalam Kisah Rasul 2, Petrus menyebutkan bahwa Yesus adalah Mesias yang menderita, mati, dan bangkit. Dia adalah Tuhan. Hal ini mengingatkan kita semua bahwa kita semua harus mengalami perubahan-pertumbuhan pengenalan tentang Tuhan Yesus. Hanya melalui Alkitab kita dapat mengenal Yesus secara benar dan tepat.

Akan tetapi, kita harus menyadari juga bahwa tidak mudah untuk bertekun di dalam firman. Selain hal-hal yang di atas, ada 2 hal lagi yang perlu menjadi perhatian kita, yakni (1) Kesibukan. Perubahan zaman menuntut kita semua bergerak dengan cepat. Semakin cepat, semakin sibuk. Hal ini membuat kita lelah. Akibatnya, kita tidak memiliki waktu dan minat untuk memperhatikan spiritualitas kita. Karena itu, kita perlu mengatur waktu kita secara bijaksana, sehingga kita tetap memiliki waktu untuk bertekun dalam Firman Tuhan. (2) Pergumulan hidup. Walaupun pergumulan bisa dipakai Tuhan untuk menolong kita bertumbuh secara rohani (mengalami Tuhan), tapi pergumulan itu melelahkan. Karena itu, tidak jarang kita “menyerah” dan ingin berhenti. Hal ini menyebabkan kita menjadi lemah secara rohani, emosi dan moral. Karena itu, kita membutuhkan anugerah Tuhan untuk selalu bersandar penuh pada Tuhan. Jangan menjauhkan diri dari persekutuan dengan Tuhan. Tapi tetaplah bertekun di dalam Tuhan.

Saya mengajak setiap jemaat untuk memohon kepada Allah agar Tuhan menolong kita dalam perjalanan iman ini. Kita bersama-sama belajar untuk menggumuli Firman Tuhan: mempelajarinya dan menghidupinya. Kiranya Tuhan memberkati kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here