Ev. Dyah Pamitra – Minggu, 29 April 2018

1 Korintus 3:1-9

Pada Firman Tuhan yang kita baca terlihat jemaat Korintus mengalami perpecahan. Mereka mulai menggolongkan diri menjadi kelompok Paulus, kelompok Apolos, dan kelompok Kefas/Petrus. Karena masalah inilah Paulus menegur jemaat Korintus. Pada perikop sebelumnya, Paulus menjelaskan tentang perbedaan manusia rohani dan manusia duniawi, dan pada bagian yang kita baca, Paulus berkata bahwa perpecahan yang terjadi di antara
jemaat korintus adalah bukti yang menunjukkan bahwa jemaat korintus masih hidup sebagai manusia duniawi. Melalui hal ini kita dapat melihat bahwa pengelompokkan atau perpecahan menjadi tanda yang kuat bahwa kehidupan orang percaya masih bersifat du-niawi. Perpecahan menjadi bukti bahwa orang-orang percaya mesih hidup secara duniawi. Pada bagian ini kita akan melihat ada dua ciri orang kristen yang masih hidup sebagai manusia duniawi, yaitu:

1. Tidak bertumbuh.
Paulus adalah penanam/pendiri jemaat Korintus. Setelah itu Paulus pergi ke Efesus untuk melanjutkan pelayanannya. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, tentu ia berharap akan mendengar kabar jemaat Korintus bertumbuh, akan tetapi dalam pasal 1 dikatakan bahwa orang-orang dari keluarga Kloe datang dan menyampaikan bahwa keadaan jemaat Korintus tetap sama. Ke- rohanian mereka tidak bertumbuh. Dan Paulus harus menuai kekecewaan.

Kekecewaan Paulus ini ditunjukkan dengan jelas melalui kata “manusia duniawi” yang digunakannya. Pada ayat 1, kata manusia duniawi berasal dari kata sarkinos yang berarti “terbuat dari” daging, substansinya daging, menunjuk pada waktu yang lalu ketika jemaat Korintus baru bertobat dari hidup kedagingan dunia. Tetapi kata “sekarang” di akhir ayat ke 2 menunjukkan saat yang berbeda, yakni setelah Paulus pergi, seharusnya sudah bertumbuh.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kata manusia duniawi yang digunakan adalah sarkikos, yang berarti substansinya bukan lagi daging tetapi masih bersifat daging. Sarkikos juga berarti: memiliki pemahaman spiritualitas tetapi berprilaku duniawi. Melalui 2 kata ini Paulus ingin berkata: Dulu, ketika baru bertobat sampai setelah sekian lama di dalm Tuhan jemaat korintus tidak bertumbuh. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bertumbuh? Sejauh mana kita bertumbuh? Seberapa jauh pengenalan kita akan kebenaran mengubah perilaku kita? Mungkin sudah waktunya kita melatih diri dengan makanan keras, tetapi kita terlalu menikmati susu. Sudah waktunya menjalani perubahan hidup seorang kristen, tetapi menolak pendisiplinan diri.

2. Perpecahan.
Hidup kerohanian jemaat Korintus dipenuhi dengan perselisihan dan perpecahan. Sebagai
satu jemaat, mereka terbagi dalam kelompok-kelompok yang saling berselisih, bersaing dan menganggap dirinya paling benar. Pada ayat 3, iri hati dan perselisihan disejajarkan dengan manusia duniawi, dan pada ayat 4, penggolongan (perpecahan) disejajarkan dengan manusia yang bukan rohani. Melalui ayat-ayat ini, Paulus ingin menekankan bahwa perpecahan adalah ciri kuat dalam kehidupan duniawi, sehingga seharusnya tidak lagi menjadi ciri kita yang hidup sebagai manusia rohani. Tidak semua perpecahan disebabkan oleh favoritisme terhadap hamba Tuhan. Tetapi perpecahan akan selalu menjadi ancaman ketika kita tidak mau atau tidak mampu menghadapi perbedaan/keberagaman. Oleh karena itu pada ayat selanjutnya (5-9), Paulus memberikan pemahaman penting untuk mengatasi perpecahan, yaitu: Di dalam sebuah komunitas, Fokus kita adalah Tuhan, bukan pelayan Tuhan.

Di dalam ayat 5, dikatakan :“Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Mengapa Paulus meng-
gunakan kata “apa” dan bukan “siapa” untuk menyebutkan seseorang. Paulus sedang menegaskan tentang fungsi mereka. Mereka hanya alat, dan hanya bekerja sesuai jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada ayat 5 sampai 8, 4x Paulus mengkontraskan kedudukan hamba dan Tuhan: Paulus dan Apolos hanyalah pelayan, tetapi Allahlah sang pemberi tugas (ayat 5), Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (Ayat 6), Penanam dan penyiram tidak penting, Tuhanlah yang terpenting (ayat 7), penanam dan penyiram sederajat, Allahlah penentu upah mereka (ayat 8). Dapat disimpulkan bahwa yang utama bukan alatnya, tetapi Allah. Demikian juga dengan pelayan Tuhan di gereja kita. Mereka hanya alat. Mereka memiliki perbedaan karunia, minat, keterbebanan, kelebihan dan kekurangan. Tuhan menempatkan mereka dalam kebersamaan untuk saling melengkapi dalam membangun keindahan pelayanan. Kita semua yang ada di tempat ini berbeda dalam banyak hal. Kita beragam. Tapi Tuhan menempatkan kita bersama dalam 1 gereja, untuk mengajar kita bertumbuh dalam keberagaman. Diperlukan kerendahan hati untuk saling menerima, bersedia menjadi sama dengan yang lain, tidak menonjol, tidak selalu menjadi yang utama. Dan fokus kita bukan pada perbedaan, tetapi pada Allah. Biarlah pemahaman ini juga mengandung tekad untuk kita bisa saling menerima sebagai satu keluarga Allah. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here