Pdt. Benny Solihin – Minggu, 29 Mei 2018, Lukas 2 : 25-33

Banyak orang enggan berbicara tentang kematian, walau pun kematian bisa datang kepada siapa saja. Mengapa? Ada beberapa sebab, misalnya karena (1) kematian menyebabkan keterpisahan dengan orang-orang yang dekat dengan kita, dan kita tidak mau berpisah dengan mereka; (2) karena kita merasa masih banyak tugas yang menjadi tanggung jawab kita; (3) dan karena kita belum siap menghadap penghakiman Tuhan. Kita merasa dosa-dosa yang kita perbuat jauh lebih banyak dari kebaikan yang kita lakukan. Namun, berbeda dengan orang yang bernama Simeon. Ia bukan hanya tidak takut pada kematian, malah ia berdoa kepada Tuhan, memohon kematiannya (ay. 29).

Siapakah Simeon? Alkitab tidak banyak memberi penjelasan tentang dia. Seolah-olah Alkitab mau mengatakan latar belakangnya tidaklah penting, namun apa yang dikatakannya yang mencerminkan imannya itulah yang penting untuk kita perhatikan : ia tidak takut pada kematian bahkan memohon Tuhan memanggilnya pulang ke alam baka, setelah ia melihat seorang Bayi yang berusia delapan hari.

Siapakah bayi itu? Yesus. Sebelumnya, Roh Kudus menyatakan kepada Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Sang Mesias. Begitu ia tahu bahwa bayi kecil itu adalah Sang Mesias, hatinya bersukacita dan meminta dari ibu bayi itu untuk mengendong-Nya. Ia lalu menatang-Nya, serta berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu. “Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,…”Jadi, ketidaktakutan Simeon akan kematian berkaitan dengan bayi itu. Keselamatan yang dari Tuhan juga berkaitan dengan bayi itu. Bayi itu adalah sang Juruselamat manusia yang datang dari Allah. Perhatikan, Simeon dengan jelas menya takan bahwa matanya telah melihat keselamatan yang datang dari Allah. Keselamatan itu bukan dari manusia.

Ada dua hal yang dikatakan Alkitab tentang identitas Simeon: “Ia seorang yang benar dan
saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel” (ay. 25). Disebutkan bahwa Simeon adalah “seorang yang benar dan saleh,” dan ini tidak berarti bahwa Simeon adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa, namun hanya menunjukkan bahwa sebagai manusia Simeon telah berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Allah. Disebutkan juga bahwa ia adalah seorang “yang menantikan penghiburan bagi Israel.” Mengapa bangsa Israel perlu dihibur seolah-olah Israel sedang berduka? Ada dua kemungkinan. Yang pertama, orang-orang Israel merindukan hidup sebagai bangsa yang merdeka. Bangsa Israel telah berkali-kali hidup dalam penjajahan bangsa asing, pada saat itu mereka sedang dijajah bangsa Romawi. Mereka berharap Sang Mesias yang telah dijanjikan itu datang dan memerdekakan mereka dari tangan penjajahan Romawi. Yang kedua, orang-orang Israel merindukan hidup sebagai orang-orang yang merdeka dari dosa. Ribuan tahun mereka berusaha hidup di bawah Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada mereka, tetapi hukum Taurat bukan memerdekakan mereka, tetapi malah menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk lepas dari kuasa dosa (Roma 7:7). Kenyataan inilah yang membuat orang-orang Yahudi berduka dan menanti penghiburan dari Allah.

Ribuan tahun mereka berusaha menjalankan Taurat, tetapi mereka mendapati bahwa mere
ka tidak mampu menaatinya. Di sinilah keselamatan itu hanya menjadi ketidakpastian dan
kematian itu menjadi momok yang menakutkan mereka. Dalam duka Israel menantikan penghiburan dari Tuhan. Tuhan yang menyelamatkan mereka.

Ketika Simeon melihat Yesus, Sang Juru Selamat, ia berkata: “Sebab mataku telah melihat
keselamatan yang dari pada-Mu” (ay. 30). Perhatikan, sekarang keselamatan itu bukan hasil dari kemampuan kita melakukan hukum-hukum Allah, bukan juga karena amal bakti, sedekah, ibadah, persembahan kita kepada Allah, tetapi keselamatan itu datang dari Tuhan sendiri. Itulah sebabnya Simeon tidak lagi takut akan kematian, bahkan memohon agar kematian cepat-cepat datang kepadanya.

Hal ini adalah berita yang disampaikan Allah sejak Perjanjian Lama. Di dalam kisah tulah
ke 10 di Mesir, Allah menyatakan bahwa darah anak domba yang dibubuhkan pada tiang dan ambang pintu rumah telah menyebabkan keselamatan bagi anak sulung yang ada di dalam rumah tersebut. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus berkata: “Sudah selesai!” Artinya, bukan hanya seluruh misi yang Allah Bapa berikan kepada Yesus telah selesai dijalankan-Nya sampai akhir, melainkan juga seluruh hutang hukuman dosa manusia telah selesai dilunaskan dengan kematian-Nya di kayu salib.

Apa dampak pelunasan ini bagi kita yang percaya pada Yesus? Tak ada lagi penghukuman
bagi kita (Roma 8:1). Penghukuman itu sudah ditanggung oleh Yesus dengan kematian-Nya di kayu salib. Selain itu, Allah memberikan hidup kekal bagi kita (Yoh. 10:28).

Jika demikian, Apakah kematian menakutkan? Tidak! (1) Kematian adalah kebebasan dari
penderitaan. Tubuh jasmaniah kita yang telah rapuh karena usia, atau sakit penyakit yang
berkepanjangan, termasuk yang penuh dosa, diganti dengan tubuh yang baru (2 Kor.5:2); (2)Kematian merupakan sarana kita untuk masuk ke surga dan bertemu dengan Tuhan.

Kiranya Tuhan meneguhkan iman kita semua. Dan selama kita masih hidup, marilah kita
mengisi hidup ini dengan menghasilkan buah yang menyenangkan hati Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here