Pdt. Yakub Tri Handoko – Minggu, 21 Januari 2018
Kolose 3 : 1 – 4

Kata sambung “karena itu” di awal 1 menyiratkan kesinambungan pemikiran dengan pasal 2. Sebelumnya Paulus sudah menentang ajaran sesat asketisisme Yahudi (2:16, 21, 23) yang beribadah kepada malaikat dan berkanjang pada penglihatan-penglihatan (2:18). Dia tidak hanya menunjukkan kesalahan pihak lain. Dia juga mengajarkan apa yang seharusnya kita lakukan, yaitu mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas (3:1-4).

Apa yang dimaksud dengan mencari dan memikirkan ?

Kata “memikirkan” (phroneō) di teks ini bukan sekadar aktivitas mengingat atau merenungkan sesuatu. Ini masalah meletakkan pikiran pada sesuatu. Sebuah orientasi pikiran. Bukan apa yang dipikir, melainkan bagaimana seseorang berpikir. Hampir semua versi Inggris secara tepat memilih terjemahan “meletakkan pikiran pada” (NIV/ESV/ASV/RSV, bdk. Mat. 16:23; Flp. 3:19).

Selaras dengan poin di atas, kata “mencari” (zēteō) juga bukan sekadar aktivitas mencari sesuatu yang hilang. Ini tentang apa yang terpenting dan terus dikejar. Lebih ke arah sikap hati daripada aktivitas mencari. Walaupun bukan terjemahan hurufiah, tetapi terjemahan NIV dalam hal ini sangat tepat: “meletakkan hati pada”.

Dua arti di atas juga sesuai dengan bentuk kekinian dalam dua kata imperatif “mencari” dan “memikirkan.” Bentuk ini menyiratkan tindakan yang terus-menerus. Sekali lagi, ini bukan sekadar aktivitas. Ini tentang arah hati dan pikiran.

Apa yang dimaksud dengan perkara-perkara di atas ?

Paulus memberikan keterangan untuk “perkara-perkara yang di atas.” Penjelasan ini diperlukan supaya jemaat tidak salah paham. Apa yang diupayakan oleh orang-orang sesat di 2:16-23 terkesan sangat spiritual. Beberapa mungkin menganggap itulah perkara-perkara yang di atas. Karena itu penjelasan sangat diperlukan.

Keterangan “di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” menunjukkan bahwa Paulus tidak hanya memikirkan surga. Dia memikirkan kekuasaan Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah. Ini merujuk pada kemenangan Kristus atas segala kuasa dan kekuatan (2:10, 15). Tidak ada yang bisa dan boleh memperbudak kita lagi, baik itu dosa, tradisi manusia, kebiasaan buruk atau ketakutan.

Keterangan berikutnya adalah “bukan yang di bumi.” Sesuai konteks pasal 2, apa yang ada di bumi merujuk pada hal-hal yang sementara di dunia ini (2:22-23). Dari sisi konteks pasal 3, hal-hal di bumi merujuk pada berbagai dosa yang ada (3:5). Memikirkan perkara-perkara yang di atas berarti tidak meletakkan pikiran pada hal-hal yang sementara dan berdosa.

Mengapa kita harus mencari dan memikirkan hal tersebut ?

Apa yang kita lakukan ditentukan oleh siapa kita. Status menentukan perilaku. Kita meletakkan pikiran dan hati kita pada perkara-perkara yang di atas karena kita tahu siapa kita di dalam Kristus: kita mati dan dibangkitkan bersama Kristus.

Frasa “kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus” (3:1) mungkin kurang begitu jelas. Terjemahan yang lebih tepat adalah “karena kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus”. Suatu peristiwa yang sudah terjadi, bukan sekadar pengandaian.

Kata sambung “sebab” di 3:3 menerangkan alasan kedua. Kita mencari dan memikirkan perkara-perkara di atas sebab kita telah mati bersama Kristus. Hidup kita tersembunyi bersama Dia.

“Tersembunyi” (3:3) di sini dikontraskan dengan “menyatakan” dan “dinyatakan” (3:4). Jikalau kita nanti dinyatakan dalam kemuliaan, maka sekarang hidup kita tersembunyi dalam kehinaan. Meletakkan pikiran dan hati pada Kristus yang menang atas segala sesuatu tidak secara otomatis membebaskan kita dari berbagai persoalan: kegagalan, kekecewaan, penyakit, dan kematian. Namun, semua ini hanyalah sementara. Sama seperti Kristus hanya mati sementara dan dibangkitkan selama-lamanya, demikian pula dengan kita. Kehinaan kita hanya sementara. Kelak kita akan dinyatakan dalam kemuliaan. Soli Deo Gloria.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here