Matius 7:24-27 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Gindo Manogi, 26 Mei 2019

Pernikahan yang kokoh menjadi dambaan semua orang. Bagi yang belum menikah, mereka berharap agar kelak mereka memiliki pernikahan yang kokoh. Bagi anak-anak, mereka mendambakan keluarga yang kokoh sebagai tempat yang aman untuk bertumbuh. Bagi pasangan suami-istri, kita sedang memperjuangkannya dan terus memperjuangkannya. Jika demikian, apakah itu keluarga yang kokoh? Bagaimana membangun keluarga yang kokoh?

Melalui perikop yang kita baca, Tuhan Yesus mengajarkan tentang bagaimana seorang Kristen menjalani hidup, yakni “mendengar dan melakukan” firman Tuhan. Gambarannya adalah seperti seseorang yang sedang membangun rumah di atas batu. Pengajaran ini bisa diaplikasikan di dalam pembangunan keluarga dan pernikahan. Artinya, tatkala seorang Kristen mau membangun rumah tangganya, maka ia harus mendengar dan melakukan firman Tuhan.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari melalui pesan Tuhan ini.

1. Semua orang, termasuk keluarga dan pernikahan, akan mengalami badai.
Hal itu yang Tuhan Yesus ingatkan lewat pengajaran ini: “turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu” (ay. 25 dan 27). Istilah “hujan, banjir dan angin” menunjukkan pada kita tentang berbagai kesulitan besar yang kita hadapi, dan itu bisa menunjuk pada godaan maupun pergumulan (misalnya: ekonomi, kesehatan, dsb.). Semuanya ini terjadi secara tiba-tiba, tanpa dapat kita perkirakan. Karena itu, keadaan-keadaan seperti ini dapat menggoncang perkawinan, relasi di dalam keluarga, bahkan iman kita. Jadi, dari faktor eksternal, ada tekanan yang sangat kuat, dan faktor internal, kita lemah dan terbatas. Hal ini membuat kita bisa menjadi lemah dan lelah.

Akan tetapi, jangan pernah menyerah dengan berbagai situasi. Atau, lari dari tanggung jawab yang seharusnya kita tanggung. Ada Allah yang akan menyertai dan menopang kita. Allah yang telah “menumpangkan tangan-Nya” atas kita saat pernikahan, adalah Allah yang berjanji hadir di dalam sepanjang pernikahan kita. Dia mengulurkan tangan-Nya kepada kita dan menemani kita melewati berbagai pergumulan.

2. Ketaatan membutuhkan perjuangan.
Untuk membuat “pondasi di atas batu,” maka dibutuhkan sebuah upaya dan perjuangan yang sangat keras. Meskipun berat, dampak dari ketaatan adalah sebuah keindahan. Misalnya, menjaga kekudusan. Ini merupakan sebuah tantangan ketaatan yang sangat berat pada masa kini. Tapi, jika setiap anggota keluarga bisa menjaga kekudusannya, maka mereka bisa menjaga kekudusan pernikahan dan keluarganya.

Gary Thomas menyatakan “Pernikahan yang baik (kokoh) adalah pernikahan yang Anda ciptakan (diperjuangkan), dan Anda harus terus menciptakannya (memperjuangkannya).” Artinya, setiap kita harus mengupayakannya. Ia juga menegaskan tentang pentingnya spiritualitas di dalam pernikahan. “Tidak ada apa pun yang bisa menggantikan kehidupan yang dipersembahkan kepada bagi kerajaan kekal Allah, karena demikianlah Allah menciptakan kita. Setiap pernikahan tanpa sebuah obsesi agung sesungguhnya sedang berlomba menuju kebosanan besar. Ini hanya masalah waktu.” Jika kita tidak memperbaiki kehidupan rohani kita (kedalaman relasi kita dengan Allah), maka segala upaya untuk memperbaiki yang lain akan tetap sia-sia. Tuhan Yesus menegaskan “di luar Aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Jadi, relasi kita dengan Tuhan adalah sumber kekuatan dan inspirasi kita dalam membangun pernikahan dan rumah tangga kita.

Karena itu, saya mau mengajak Saudara:
1. Rawatlah pernikahan dan keluarga Saudara mulai sekarang. Perjuangkanlah, berapa pun harganya.
2. Cintailah seluruh anggota keluarga anda dengan sungguh, walaupun mereka memiliki banyak kekurangan. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Mohon agar Tuhan memberikan kasih-Nya kepada kita.
3. Jangan lakukan semuanya ini dengan kekuatanmu sendiri. Tapi andalkanlah Tuhan.

Keluarga yang kokoh bukan berarti tidak ada masalah. Sebaliknya, meskipun ada banyak badai yang menyerang, keluarga kita tetap “berjalan di dalam jalan kebenaran” karena ada pertolongan dan kehadiran Tuhan yang terus menerus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here