Pdt. Samuel Wahyudi – Minggu, 20 Mei 2018

Masalah klasik dalam hidup manusia adalah soal keberadaan. Mengapa aku ada? Untuk apa aku ada? Apa yang harus aku raih dari keberadaanku? Pertanyaan-pertanyaan ini membuahkan mulai dari ciri khas hidup seseorang, nilai baik-buruk, berharga-tidak ber- harga dan bagaimana meraih tujuan hidupnya. Alkitab menyatakan, oleh karena dosa maka tidak ada seorangpun yang mampu memiliki hidup sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Apa yang berharga di mata Allah kita “buta” tidak mampu melihatnya, sebaliknya hal hal yg tidak ada harganya di hadapan Allah kita kejar dan cari sampai menghabiskan mayoritas waktu, kapasitas dan kesempatan hidupnya. Kita semua sedang mengejar, mencari hal yang tidak ada harganya di mata Allah, kita juga tidak menyadari semuanya itu menuju kepada kebinasaan.

Namun Allah mengulurkan tangan-Nya untuk kita, memberikan anugerah di dalam Kristus untuk memperbaharui status dan hidup kita, sehingga mampu mengikut ritme rencana dan kehendak-Nya sesuai dengan konteks zaman di mana kita berada. Apakah yang seharusnya terjadi dalam hidup kita sebagai orang percaya?

1. Meterai Roh Kudus bagi orang percaya, menyatakan jaminan dari perjanjian-Nya yang kekal (covenant of God) yang memperbaharui status kita di hadapan-Nya sehingga kita menjadi layak dan menuntun hidup yang kita jalani agar mampu menjadi bagian meskipun terkecil dari rencana-Nya yang besar.

2. Roh Kudus menuntun hidup kita sehari lepas sehari untuk mendidik dan membentuk menjadi orang yang tegar dan tangguh menghadapi tantangan hidup ini. Kerap kali kebaikan Allah justru dinyatakan melalui berbagai pergumulan hidup dengan bahasa para- doks, kebaikan yang dinyatakan melalui penderitaan, kepahitan hidup bahkan realitas yang sulit kita terima. Namun dengan Roh-Nya yang menuntun kita menelusuri liku liku hidup ini (Roma 8:26-28). Daud diizinkan mengalami keringnya padang belantara, sengat matahari dan dinginnya malam, sehingga melalui semua itu lahir Mazmur 23, Mazmur 121. Paulus juga mengalami paradoks kebaikan Allah dimana dia seolah dibiarkan-Nya difitnah, dianiaya bahkan dipenjara dan maut mengancamnya sewaktu waktu, untuk apa semuanya itu? Justru melalui hal itu kita mendapatkan surat-surat yang ia tulis dan menyaksikan betapa besar karya-Nya di balik semua itu! Allah sedang bekerja di balik segala pergumulan hidup kita!

3. Roh Kudus menuntun kita untuk memiliki hidup dengan tujuan yang jelas, yakni hidup memuliakan-Nya dalam kiprah nyata pada masing masing kancah hidup yang kita jalani, sehingga kita tidak menyesal menjadi diri kita karena di dalam pimpinan-Nya telah menjadikan hidup kita bermakna, bukan hidup seperti bung rumput yang pagi berkembang…sore menjadi lisut dan layu. Namun seperti rembang yang kian bersinar di siang hari.

Akhir kata, untuk apa kita ada hari ini? Apa yang sedang kita cari dalam hidup kita? Kita bisa mengerti dan tahu ke mana kita melangkah bukan karena kita hebat dan punya segudang ilmu dan pengalaman, namun karena Roh-Nya yang memimpin hidup kita.
Selamat Hari Pentakosta! Fide Quaerens Intellectum …. (faith seeking understanding).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here