Ev. Esther Gunawan S. – Minggu, 15 Juli 2018, Wahyu 3:7-13

Gereja dalam kitab Wahyu dilukiskan sebagai kaki dian emas, dimana kaki dian berfungsi sebagai tempat api atau lilin yang menerangi kegelapan. “Api” atau “lilin” melukiskan terang atau cahaya Injil. Terbuat dari “emas” melukiskan betapa Tuhan mengasihi gereja-gereja-Nya. Gereja itu sendiri adalah jemaat Tuhan yang sejati (bukan gedung atau organisasi), dimana Tuhan meletakkan kaki dian emas-Nya.

Gereja Filadelfia adalah gereja yang terletak di Asia Kecil, sekarang ditafsirkan terletak di Alasehir, Turki. Gereja ini adalah gereja yang kecil dan miskin, Tuhan mengatakan mereka adalah jemaat yang “kekuatanmu tidak seberapa…” (ay.8b). Gereja ini juga mengalami tekanan penganiayaan bagaikan “pintu-pintu yang tertutup” (mengalami pintu yang terkunci dari golongan Romawi [sekuler, mayoritas], dan dari golongan Yudaisme [kaum beragama]). Namun Tuhan memuji gereja ini, bahkan Ia memberikan berkat ”Pintu Yg Terbuka”: “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun” di mana Kristus adalah Sang Juru Kunci Pintu tersebut (ay.7-8a).

Pintu Terbuka adalah kesempatan berharga untuk memberitakan Injil karena Allah menganugerahkan banyak jiwa yang lapar dan haus akan Kristus dan Injil-Nya. Juga kesempatan berharga untuk melayani jiwa-jiwa. Dari ke-7 gereja yang ada, Tuhan hanya memberi anugerah ini kepada gereja di Filadelfia. Sungguh anugerah yangg luar biasa. Ketika murid-murid hasil pelayanan para Rasul harus menderita berjuang bahkan sampai mati syahid demi pekabaran Injil, tetapi kepada gereja ini, Tuhan memberikan kemudahan untuk seluas-luasnyanya memberitakan Injil dan memenangkan jiwa! Karena Tuhan sebagai Juru Kunci, telah membuka seluas-luasnya pintu pengijilan! Bayangkan kalau GKKK Malang ini diberi anugerah seperti gereja di Filadelfia!

Namun, apa sebenarnya alasan Tuhan “membuka pintu” bagi gereja Filadelfia? Apa yang telah dilakukan gereja ini di tengah penantian mereka menantikan kedatangan Tuhan?

1. SETIA DALAM FIRMAN-NYA (ay. 8b)
Kota Filadelfia mempunyai begitu banyak kuil dan pesta atau perayaan-perayaan bagi dewa-dewa sehingga kota ini sering disebut sebagai ‘Athena kecil’ (yang menjadi pusat penyembahan berhala). Kota ini juga dikenal sebagai penghasil anggur di mana masyarakatnya menyembah Dionysus (dewa Yunani untuk pohon anggur dan minuman anggur) menjadi pusat penyembahan atau agama bagi kaum kafir kota itu. Tuhan memuji gereja ini karena walaupun mereka berada di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala namun mereka tetap setia kepada Allah yang benar! Mereka tidak kompromi walaupun mereka harus menderita karenanya.

Salah satu hal yang menjadi bahaya bagi gereja adalah sinkretisme. Sin-kretisme adalah penyatuan dan pencampuradukkan ajaran Kristus dengan ajaran agama-agama atau paham-paham lain. Yang sangat disayangkan, praktek-praktek sinkretisme terkadang masih terjadi di jemaat, padahal ini adalah kekejian di hadapan Tuhan. Misalnya: dalam berdagang, dalam kematian, dalam pernikahan dan berbagai aspek lain dalam hidup jemaat. Suatu kali Tuhan Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:6-8). Marilah kita hidup dengan berpegang teguh pada Firman-Nya dan tidak berkompromi terhadap sinkretisme.

2. SETIA MENDERITA KARENA NAMA-NYA (ay. 9-10)
Ada tanda-tanda jelas gereja ini mengalami penganiayaan, baik dari bangsa Romawi, maupun dari bangsa Yahudi. Di Filadelfia terdapat sinagog Yahudi. Orang-orang Yahudi anggota sinagog ini sangat kejam terhadap jemaat gereja Filadelfia. Dalam Wahyu 3:9a mereka disebut “jemaah iblis” (sinagog milik setan). Namun di tengah penderitaan dan penganiayaan “jemaah iblis” ini, mereka tetap setia kepada Kristus dan tidak menyangkal nama-Nya. Bahkan di tengah penderitaan, mereka tidak menjauh dari Tuhan tapi justru lebih mendekat dan tidak menyimpang dari Firman-Nya!

John Stott: “Salah satu ciri yang melekat terhadap Gereja yang sejati adalah selain kasih adalah penderitaan.” Kepada gereja-Nya terkadang Tuhan mengijinkan penganiayaan karena nama-Nya itu terjadi! Siapkah kita semua menderita demi nama-Nya dan tidak menyangkalnya sebagaimana gereja di Filadelfia?

John MacArthur dalam bukunya “Marks of a Healthy Church” menulis, “Ketika suatu zaman hanya menilai gereja berdasarkan penampilan luarnya, hal yang sangat penting diketahui adalah bagaimana menentukan sebuah gereja yang benar-benar sehat. Kriteria Alkitabiah untuk melihat kesehatan rohani dari sebuah gereja bukanlah apa yang tampak diluar dihadapan dunia, tapi apa yang tampak di dalam di hadapan Allah.” Gereja yg sehat jika di dalamnya terdiri dari jemaat yang setia kepada Firman-Nya dan rela menderita karena nama-Nya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here