2 Timotius 3:10-17; Ringkasan khotbah Ev. David Alinurdin: Minggu, 21 Oktober 2018

Ada sebuah insiden yang terjadi pada masa perang Korea. Seorang letnan menginspeksi satu pleton prajurit yang baru datang. Mereka terlihat gagah dan siaga memegang senjata. Namun letnan ini menemukan ada cukup banyak prajurit yang senjatanya berkarat dan macet, tidak berfungsi sama sekali untuk menembak. Padahal, keesokan harinya mereka sudah harus pergi ke medan pertempuran. Akhirnya, para prajurit ini tetap pergi ke medan peperangan dalam kondisi tidak siap, tidak diperlengkapi dengan baik bahkan tidak sanggup untuk membela diri sekalipun. Dari luar mereka tampak gagah berani dan mantap untuk berperang, padahal kenyataannya dalam hati kecil mereka ada ketakutan yang sangat besar. Mereka sedang menyodorkan diri untuk jadi sasaran empuk musuh.

Bagaimana respons Anda mendengar kisah di atas? Tentu kita merasa concern dengan kepura-puraan yang berakibat fatal seperti itu. Hal yang senada juga menjadi concern dari rasul Paulus dalam pasal 3:1-9 dari surat 2 Timotius. Surat ini ditujukan kepada Timotius yang saat itu sedang menggembalakan jemaat di Efesus. Paulus melihat gejala dan fenomena yang terjadi di dalam kehidupan orang-orang pada masa itu. Dari penampakan luar mereka kelihatan saleh dan rajin menjalankan ibadah namun pada dasarnya hati mereka masih tetap dikuasai dosa, keegoisan dan hawa nafsu kedagingan. Fenomena kesalehan palsu ini mungkin juga terjadi di tengah jemaat Efesus. Karena itulah, jemaat yang seperti ini menjadi sasaran empuk para pengajar palsu yang menyesatkan mereka.

Kekuatiran Paulus ini tentu juga menjadi kekuatiran kita pada saat ini. Fenomena kesalehan palsu juga bisa terjadi dalam kehidupan gereja saat ini. Ada pengunjung gereja yang dari luar tampak saleh, dengan membawa Alkitab ke mana-mana, selalu hadir di setiap kegiatan gereja, senang mengucapkan kata-kata rohani, namun pada kenyataannya mereka seperti prajurit dengan senjata rusak. Bagaimana kita sebagai jemaat Tuhan dapat terhindar dari kesalehan palsu atau Kristen imitasi seperti di atas? Bagaimanakah kita bisa menjadi umat Allah di masa kini yang bukan hanya kelihatannya saja saleh, namun sungguh-sungguh memiliki kehidupan rohani sejati dan sehat dari dalam ke luar? Melalui hamba-Nya, rasul Paulus, Tuhan mau mengingatkan kita umat-Nya di masa kini, bahwa kehidupan rohani yang otentik dan sehat hanya bisa terjadi ketika umat Allah berakar di dalam kebenaran firman Allah yang sanggup mengubahkan hidup dari dalam ke luar. Bagaimanakah caranya firman Allah dapat mengubahkan hidup?

I. Firman mengubahkan hidup karena diilhamkan Allah (3:16)
Alkitab adalah firman Allah. Ia bukan buku biasa seperti yang ditulis oleh manusia pada umumnya. Alkitab sanggup mengubahkan hidup seseorang karena Allah yang mengilhami penulisannya. Meskipun dicatat oleh banyak penulis dengan latar belakang yang berbeda-beda dalam kurun waktu ribuan tahun, namun Penulis utama yang sesungguhnya adalah Allah sendiri. Dia yang mengilhami para penulis ini secara sadar untuk mencatat seluruh maksud dan kehendak-Nya bagi manusia. Karena itu, firman Allah berkuasa mengubahkan hidup manusia.

Bagaimanakah kita memahami Alkitab? Pemahaman yang benar tentu akan menghasilkan pendekatan yang benar dan mengubahkan hidup. Sebaliknya, pemahaman yang salah akan menghasilkan pendekatan yang salah dan sia-sia. Jika kita memahami Alkitab hanya sebagai tulisan manusia biasa atau buku sejarah belaka, maka kita akan membaca Alkitab dengan sikap sekadar menambah pengetahuan, biasa-biasa saja, anggap enteng atau bahkan meremehkan. Sebaliknya, jika kita menyadari Alkitab adalah firman Allah yang hidup dan berotoritas maka kita akan membaca Alkitab dengan sikap rendah hati, siap mendengarkan dan sedia menaatinya. Dengan demikian barulah firman itu mengubahkan hidup kita.

II. Firman mengubahkan hidup dengan mentransformasikan orang berdosa menjadi umat kepunyaan Allah yang setia hidup dalam kebenaran dan kasih (3:15-17)
Seseorang bisa bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, semata-mata karena pekerjaan Roh Kudus yang berbicara dengan firman Allah untuk menginsyafkannya dari dosa dan me- lahirbarukannya sebagai anak Allah. Melalui firman pula, Roh Kudus terus bekerja membentuk hidupnya menjadi manusia baru yang serupa Kristus. Dengan firman, Roh Kudus mengajar dan mendidiknya untuk hidup dalam kebenaran. Ketika hidupnya menyimpang dari kehendak Allah, melalui firman pula, Roh Kudus akan mengingatkan kesalahannya dan memperbaiki kelakuannya. Dengan firman, Roh Kudus juga akan memperlengkapi dan melatihnya untuk hidup mempraktekkan kasih dan perbuatan baik. Semua karya keselamatan dan pengudusan di dalam hidup orang percaya, dikerjakan Roh Kudus melalui firman. Orang Kristen yang dewasa secara rohani baru bisa terjadi ketika firman Allah hidup di dalamnya. Karena itu, firman Allah memiliki peran yang signifikan dalam transformasi hidup orang percaya.

Bagaimanakah dengan praktik membaca dan merenungkan Alkitab yang kita lakukan selama ini? Apakah praktik pembacaan firman itu menolong kita mengalami perubahan hidup? Apakah pembacaan Alkitab kita hanya bersifat informasional (untuk menguasai isi Alkitab, mendapat informasi atau pengetahuan semata) atau bersifat transformasional (rendah hati untuk mendengarkan, membangun relasi dengan Tuhan, dikuasai firman dan mau taat melakukannya)?

III. Firman mengubahkan hidup melalui keteladanan orang-orang yang setia menghidupinya (3:10-14)
Dampak transformasi firman Allah tidak akan terjadi jika seorang percaya tidak melakukan dan menghidupi apa yang dinyatakan firman. Pemahaman akan firman Allah harus menjadi prinsip hidup, membentuk konsep nilai dan tujuan hidup, mempengaruhi perilaku hidup sehari-hari, yang pada akhirnya terpatri menjadi kebiasaan, karakter dan jati diri yang tak terpisahkan. Itulah yang dikatakan Paulus kepada Timotius di pasal 3:10. Paulus berani menyatakan kesaksian hidupnya yang berbeda dari para pengajar sesat yang hidupnya makin hari makin bertambah buruk (3:13). Sementara mereka hanya tampaknya saja saleh, Paulus memperlihatkan hidupnya yang sungguh-sungguh diubahkan oleh firman Allah dari dalam ke luar.

Sekarang, bagaimanakah Timotius bisa mengalami kuasa firman yang mengubahkan hidup? Paulus menasihatkannya untuk tetap berpegang pada kebenaran firman yang telah diterimanya sambil mengingat (meneladani) orang-orang yang telah mengajarkannya (3:14-15). Timotius akan mengalami kuasa firman yang mengubahkan hidupnya ketika ia setia menaati firman sambil meneladani iman, karakter, prinsip dan cara hidup para mentornya yang setia kepada firman. Kesetiaan kepada firman itu tidak hanya diteladani Timotius dari Paulus namun juga dari ibunya, Eunike, dan neneknya, Lois (1:5).
Bagaimanakah dengan hidup kita saat ini? Pertama, sudahkah kita setia menghidupi kebenaran firman sampai hari ini? Mungkin kita akan berkata, “Saya sudah setia kepada firman karena buktinya dari sejak bertobat sampai detik ini, sudah puluhan tahun berlalu, saya masih Kristen, masih rutin baca Alkitab dan ibadah Minggu.” Kita memang sepatutnya bersyukur kepada Tuhan yang setia memelihara iman kita sampai saat ini. Namun, kesetiaan kita di masa lalu tidak menjamin kesetiaan kita di masa yang akan datang. Itulah sebabnya kita harus setiap hari menegaskan kembali komitmen kita untuk berpegang erat dengan keyakinan yang teguh kepada kebenaran firman Allah yang kuasa transformasinya sudah teruji selama berabad-abad. Kedua, apakah kita menyadari kuasa transformasi firman Allah tidak berhenti hanya sampai pada diri kita saja? Firman Allah tidak hanya mengubahkan hidup kita sendiri tetapi juga sanggup mengubah hidup orang-orang lain melalui teladan kesetiaan kita. Allah mau memakai kita untuk mengubahkan hidup orang lain. Para orangtua, sudahkah kita memperlihatkan hidup yang taat kepada firman di hadapan anak-anak kita? Para guru dan pendidik, sudahkah kita mendemonstrasikan hidup yang setia kepada firman di hadapan para murid kita? Para pemimpin, sudahkah Anda memberi contoh hidup yang menerapkan firman di hadapan orang-orang yang Anda pimpin?

SHARE
Previous articleWarta, 21 Oktober 2018
Next articleBenih yang Ditabur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here