A Christian family having worship together with a Bible

Efesus 4:7-16 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Bambang Wijanto; Minggu, 21 Juli 2019

Perikop ini berbicara tentang kesatuan dalam kehidupan bergereja. Dalam dalam kepelbagaian karunia, budaya, sifat dan kepribadian, hendaklah jemaat saling melayani. Yang sangat menarik adalah bahwa saling melayani hanya bisa diwujudkan kalau jemaat memiliki pertumbuhan spiritualitas dan kasih (lihat ayat 11-16).

Pertumbuhan spiritualitas yang dimaksudkan dalam bagian ini dapat dilihat dalam kata “sampai” (ay. 13). Kata ini berarti “menuju kepada” atau “mencapai suatu tujuan tertentu namun final” yakni kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Kedewasaan penuh ini digambarkan dengan jelas melalui ayat: 14-16. Jadi, kita dapat menarik benang merahnya, yakni gereja, dalam membangun kehidupan yang saling melayani, harus memperlengkapi jemaatnya supaya tercapai pertumbuhan spiritualitas (kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah) yang membawa jemaat kearah kesatuan yang adikodrati dan kasih yang adikodrat

Pertanyaan yang perlu kita renungkan: mengapa saling melayani antar jemaat dikaitkan dengan pertumbuhan spiritualitas sebagai fondasi untuk mencapai kesatuan yang adikodrati dan kasih yang adikodrati? Apakah seseorang yang tidak memiliki spiritualitas yang dewasa bisa melyani? Ya, memang bisa. Akan tetapi, pelayanan tanpa spiritualitas dewasa hanya pelayanan sebatas tugas (sama dengan seoang customer service di bank) tanpa dilandasi pertumbuhan rohani, sehingga tidak merasa jemaat yang lainnya sebagai sesama anggota tubuh Kristus dan tidak memiliki kasih yang kristiani. Mengapa? Karena gereja melatih atau memakai metode training seperti metode yang diterapkan dalam profesionalisme dalam dunia sekuler tanpa dibekali oleh landasan Firman Tuhan dan menghidupi Firman Tuhan.

Francis Chan (yang mengembangkan Gereja Cornerstone dengan jumlah jemaat puluhan ribu orang, namun kemudian meninggalkan gereja tersebut dan menggembalakan gereja baru, We Are Church) dalam bukunya Letters To The Church memberikan satu wawasan bahwa gereja seharusnya para jemaatnya adalah satu keluarga yang memiliki kesatuan yang adikodrati dan kasih yang adikodrati. Namun kenyataanya tidak terjadi walaupun gereja tersebut melakukan pemuridan. Salah satu kelemahannya adalah bila jemaat tidak membaca Alkitab secara tekun maka sulit terjadi perubahan dalam hidupnya. Hal ini dinyatakan dengan mengacu kepada Kisah Para Rasul 2 :42-47. Kata kuncinya adalah bertekun dalam pengajaran rasul dan dalam persekutuan. Kata “ketekunan” inilah yang menjadi kunci sehingga gereja memiliki kesatuan adikodrati dan kasih yang adikodrati. Mengapa? Ibrani 4:12, Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Hari ini apakah kita masih tetap memiliki keyakinan yang teguh bahwa Firman Tuhan memiliki kuasa yang mengubah hidup kita? Jemaat mula-mula membuktikan bagaimana kuasa Firman Tuhan itu mengubahkan hidup mereka. Mereka memiliki kesatuan adikodrati dan kasih yang adikodrati.

Bila jemaat mula-mula bisa menerapkan karena kuasa Firman Tuhan yang mengubahkan, maka Firman Tuhan yang sama yang dapat kita baca dan renungkan saat ini akan mengubahkan kehidupan kita dan mengubahkan gereja kita.

Francis Chan menyatakan hanya firman-Nya yang tidak dikotori oleh dunia ini. Firman Allah adalah satu-satunya yang memiliki kuasa untuk membersihkan kita secara menyeluruh. Jika kita benar-benar ingin datang di hadapan Allah dengan tangan yang bersih dan hati yang murni, kita perlu memiliki rasa takut dan kerinduan yang lebih besar untuk membaca Firman Allah.

Tema HUT kali ini adalah Gerejaku Rumahku, gereja yang menjadi “rumah spiritual” bagi seluruh jemaat. “Rumah Spiritual” yang menjadikan kita mengalami pertumbuhan spiritualitas. “Rumah Spiritual” d imana jemaat merasakan adanya kesatuan adikodrati dan kasih yang adikodrati.

Mari kita wujudkan tema HUT tahun ini: Gereja Rumahki: Bersama Keluargaku Menjadi Murid Kristus dengan mengajak seluruh keluarga tekun membaca Firman Tuhan! Amin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here