Efesus 2 : 19-22, Ringkasan kotbah Pdt. Martin Tjen

Setiap orang Kristen tentu punya pandangan yang berbeda tentang gereja, rumah dan keluarga, di mana ia beribadah, bertumbuh dan melayani. Perlu disadari bahwa acapkali orang Kristen mengabaikan peranan gereja, rumah dan keluarga seutuhnya. Karena itu, kita perlu memahami lebih dalam peran ketiga hal tersebut melalui Efesus 2:19-22. Paulus ingin tekankan bahwa status jemaat Efesus bukanlah orang asing/pendatang tetapi mereka adalah sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah. Mengapa? Jemaat Efesus dahulu sebagai orang non-Yahudi (2:11), mereka terpisah dari orang Yahudi (horizontal) terpisah dengan Allah (vertikal). Mereka tidak termasuk kewargaan Israel, sehingga mereka tidak menikmati semua hak istimewa sebagai umat Allah (2:12). Ada tembok pemisah dan perseteruan antara mereka, jemaat Efesus dengan orang Yahudi (2:13-15,17). Terpisah dalam relasi dengan Allah dan mereka hidup tanpa Kristus dan Allah, sehingga mereka tidak memiliki pengharapan (2:12). Ada perseteruan dengan Allah (2:16). Hanya melalui penebusan Kristus, keterpisahan tersebut dapat dijembatani dengan sempurna. Tembok pemisah dapat diruntuhkan (2:14). Baik orang Yahudi maupun non-Yahudi dipersatukan di dalam satu tubuh serta dibawa untuk menikmati perdamaian dengan Allah (2:16,18).

Penebusan Kristus menyelesaikan perseteruan, selanjutnya lahirlah ‘keintiman’ yang dihasilkan melalui darah Kristus sehingga menciptakan satu kesa- tuan, “yang menjadikan keduanya satu” (2:14); “satu manusia baru” (2:15); “satu tubuh” (2:16); dan “di dalam satu Roh” (2:18). Dengan demikian, kedamaian (2:15 dan 2:17) dapat terjadi; karena ada persatuan dan kesatuan yang intim di dalam dan melalui Kristus Yesus. Oleh karena itulah, “Kesatuan di dalam gereja jauh melampaui kesatuan secara politis maupun sosial dan lebih kuat daripada ikatan etnis maupun status ekonomi.” Gereja harus menjadi sebuah rumah bagi setiap jemaat. Tidak ada orang asing di dalam gereja; tetapi semuanya adalah: satu keluarga, yaitu Keluarga Allah. Kita sebagai anggota keluarga Allah tentu ada tempat/wadah kita dapat bersatu untuk beribadah dan melayani dalam keluarga Allah; inilah yang di sebut ‘rumah Allah’/ bangunan rohani (20-22). Dahulu jemaat Efesus dahulu di luar Kristus, mereka hidup “tanpa Allah di dunia” (2:12), kini Allah yang berkenan berdiam di dalam mereka (2:21-22). Mereka yang dahulu mati di dalam dosa, dikuasai roh-roh jahat dan berbagai hawa nafsu (2:1-3) kini hidup mereka menjadi kediaman Allah yang kudus (2:21-22).

Kediaman Allah adalah ‘bangunan rohani’ memiliki beberapa karakteristik luar yang biasa. (1) Dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi (20a). Apa yg diajarkan Paulus di Ef.2:19a bersumber dari ajaran Tuhan Yesus, tatkala Ia berjanji untuk mendirikan jemaat-Nya di atas Petrus sebagai perwakilan dari semua rasul (Mat.16:18-19). (2) Dibangun dengan Kristus sebagai batu penjuru (20b). Batu penjuru sebagai bagian dari pondasi yang berperan amatlah penting. Tanpa batu penjuru, maka sia-sia apa yang telah dibangun oleh para Nabi dan Rasul. Hal ini sesuai dengan kata “di dalam Dia” (2x) di ayat 21-22. Batu penjuru adalah batu yang paling kokoh dan berfungsi untuk memastikan ketepatan dan kekokohan seluruh bangunan. Seperti nubuat Yesaya 28:16 “sebuh batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh.” (3) Dibangun dengan menyeluruh, rapi, dan berkelanjutan (21-22). Ungkapan “seluruh bangunan” berarti “seluruh ruangan/struktur.” Semua orang percaya berkumpul di suatu tempat menjadi satu bangunan rohani. Setiap jemaat lokal bergabung dengan jemaat lokal lain membentuk sebuah gereja yang utuh. Itu artinya semua jemaat harus berperan aktif. Keragaman seringkali menghasilkan kerumitan dan kekacauan; namun tidak demikian halnya dengan gereja sebagai rumah Allah. Dengan kata lain, “Kesatuan di dalam Kristus harus menjadi alasan kuat bagi kesatuan gereja dan kesatuan dalam keluarga harus menjadi alasan kuat bagi kesatuan dalam gereja.”

Yang disayangkan, ada sebagian orang Kristen tidak mau secara aktif terlibat di dalam “proses pembangunan rumah Tuhan.” Mengapa? Karena tidak sedikit orang Kristen menganggap gereja hanya sebuah tempat pertunjukkan/bioskop. Bahkan ada yang merasa bahwa kebaktian/ibadah/persekutuan baik di gereja/rumah/keluarganya tidak lebih sekedar rutinitas kosong. Jika ada di antara kita yang masih berpikir demikian, mari bertobat! Seharusnya di dalam gereja dan ibadah yang kita lakukan tentu akan membawa kita lebih dekat dengan Allah dan sesama. Dengan kata lain, ibadah menumbuhkan iman kita kepada Allah dan persekutuan di antara orang percaya dapat membangun bait Allah yang sesungguhnya. Cintailah ibadah dalam gereja dan cintailah ibadah dalam rumahmu dan keluargamu. Dengan demikian istilah gerejaku, rumahku dan keluargaku; semakin lama semakin kental terasa di dalam kehidupan kita bergereja; bahkan semakin kuat mengakar dalam rumah dan keluarga kita sebagai keluarga Allah. Ada istilah yang berkata “I feel homey at church, while I feel “the church” at home” (saya merasakan ‘at home’ (suasana rumah) ketika berada di gereja; seperti saya merasakan ‘at church’ (suasana gereja) ketika berada di rumah. “在教会中,要亲如一家; 在家庭中,要心生敬畏 (Zài Jiào Huì Zhòng, Yào Qīn Rú Yī Jiā; Zài Jiā Tíng Zhòng, Yào Xīn Shēng Jìng Wèi). Soli deo gloria. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here