Mikha 6:1-4a; Matius 2:1; Ringkasan Khotbah Pdt. Hendra; Minggu, 01 Desember 2019

Pada 18 Nov lalu, seorang ko-pilot sebuah maskapai diduga bunuh diri dan ditemukan selembar surat pemecatan dan denda 7 milyar. Tentu saja kabar ini menjadi viral krn berkaitan dengan denda yang dipikulnya. Sepertinya pelaku merasa tidak punya harapan hidup yang lebih baik pada waktu akan datang. Pengharapan itu sangat penting bagi hidup seseorang. Firman Tuhan berkata pengharapan itu sauh yang kuat bagi jiwa kita. Yang menjadi masalah adalah dimanakah kita meletakkan pengharapan hidup kita? Salah menempatkan pengharapan kita akan membuat hidup kita menjadi kacau dan berantakan.

Pengharapan orang percaya perlu ditempatkan pada janji dari Allah. Itulah yang akan memampukan seseorang untuk menjalani hidupnya di tengah badai yang melanda. Umat Yehuda saat itu mengalami juga badai kehidupan: di ambang perperangan karena akan diserbu oleh bangsa utara/Asyur. Para Nabi Tuhan sudah berulang kali memperingatkan terutama pemimpin saat itu agar bertobat dari hidup yang tidak benar. Sebentar lagi malapetaka dari Tuhan akan datang. Tetapi para pemimpin Israel seperti tidak bertelinga dan tidak bertobat dari dosa dan kesalahan mereka terhadap umat Yehuda. Di tengah suasana demikian, nabi Mikha menyuarakan suatu janji dari Allah tentang kedatangan sang pemimpin baru, Sang Mesias.

Belajar dari kisah nubuatan janji nabi Mikha untuk Yehuda, kita belajar bersama bagaimana memandang janji Allah di tengah badai kehidupan ini?

1. Pegang Erat janji Tuhan (Mi 5:1; Mat. 2:1)
“Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji. Lain di bibir lain di hati …….dst.” demikian potongan bait sebuah lagu, yang menggambarkan manusia senang berkata-kata, sering berjanji, namun sering mengingkari janji.

Saat pernikahan di gereja pengantin saling berjanji setia dalam suka duka, kaya miskin, susah senang…. tapi ada saja yang bercerai, selingkuh dan pisah dengan pasangannya. Sebagai orang tua, kita juga sering buat janji dengan anak kita, namun harus diakui ada janji-janji yang tidak dapat kita tepati karena berbagai alasan.

Manusia yang berjanji terkadang tidak mau, tidak mampu atau lupa untuk menggenapinya. Berbeda dengan janji Tuhan. Janji Tuhan pasti digenapi-Nya.

Nabi Mikha menubuatkan (5:1) seorang yang memerintah Israel yang permulaannya sejak purbakala. Seorang raja yang akan lahir dari Betlehem Efrata, yang terkecil dari kaumnya. Penggenapan nubuat ini terjadi 700 tahun kemudian, di mana Matius 2:1 dicatat “ sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.

Setelah nabi Mikha mengucapkan demikian, jarak waktu penggenapan adalah 700 tahun. Waktu penggenapan 700 tahun berbicara banyak hal bagi kita zaman sekarang :

  • Tuhan tidak lalai dalam menggenapi janji-Nya, walau di mata sebagian manusia menganggap lalai. Janji Tuhan pasti digenapi
  • Waktu penggenapan adalah waktu Tuhan yang terbaik. Kalau menurut manusia pastilah ada berbagai macam waktu terbaik, tetapi dalam kekekalan-Nya dan pengetahuan Allah yang melampaui pikiran manusia maka waktu Tuhan tetap yang terbaik.
  • Rencana penggenapan Allah tentang kehadiran Mesias yang memerintah bukan dalam bentuk kerajaan yang terlihat seperti kerajaan Inggris… tetapi kerajaan Rohani – dimana Kristus yang menjadi Raja memerintah di hati setiap orang percaya. Kerajaan Yesus adalah kerajaan yang bersifat kekal dan bukan sementara seperti yang dilihat oleh manusia.

Belajar dari kisah nubuatan janji nabi Mikha untuk Yehuda, kita belajar bersama bagaimana memandang janji Allah di tengah kesukaran hidup yang dialami ?

2. Percaya Pimpinan sang Gembala Agung (v 3-4a)
Kalau kita melihat kepemimpinan dan kehidupan para kaisar atau raja, ada yang memimpin secara tirani, atau menganggap diri sebagai raja yang harus dipuja dan di hormati oleh semua rakyatnya. Menarik, nubuat Mikha bahwa raja yang akan lahir dan memimpin umat dengan kekuatan Tuhan dengan suatu penggambaran bagaikan gembala. “Ia akan bertindak dan menggembalakan mereka” (v3).

Nubuat itu digenapi oleh Yesus. Ia berkata: Akulah gembala yang Baik, gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh. 10:10) Ya, Yesus telah menyatakan bagaimana Ia menggembalakan kita dengan mengorbankan nyawa-Nya mati di salib bagi anda dan saya. Namun Yesus juga bangkit dan hidup selamanya menjadi Gembala Agung bagi kita semua. Selanjutnya bagian kita adalah mendengarkan suara sang Gembala, taat pada apa kata sang Gembala Agung.

Mengapa kita harus taat? Karena Ia-lah yang paling tahu garis besar hidup kita, tujuan hidup kita. Saat kita kehilangan arah dan harapan untuk masa depan yang lebih baik, jangan putus asa! Masih ada Yesus yang adalah gembala kita yang tahu arah hidup kita. Yakinlah janji Tuhan dalam Ibrani: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau, sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here