Sunrise scene

Ev. Tan Kian Guan – Minggu, 19 November 2017
Habakuk 2 : 1-5

Penderitaan adalah realita kehidupan yang tak terhindarkan. Kita sering bertanya “Mengapa Tuhan ijinkan hal ini terjadi?” Tetapi bukankah Tuhan berdaulat atas hidup ini? Kita yang harus terus beriman kepada-Nya. Iman yang melihat rancangan Tuhan itu indah pada waktu-Nya. Tetapi menyadari hal ini tidak langsung membuat kita menerima kenyataan. Mungkin kita bisa berkata, “Tuhan, saya akan tetap beriman bahwa Engkau Allah yang berdaulat, Engkau tahu yang terbaik buat anak-anak-Mu,” tetapi kita akan kembali bertanya:

1. How long? (berapa lama?).

Habakuk bertanya hal yang sama, “Berapa lama lagi Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu: ‘penindasan’ tetapi tidak Kau tolong?” Sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau puluhan tahun menderita. Bagi mereka yang tidak sedang dilanda penderitaan, setahun waktu yang cepat berlalu. Tetapi bagi mereka yang mengalami penderitaan berat satu hari ibarat satu tahun. Waktu berjalan sangat lambat. Pertanyaan how long ini erat hubungannya dengan pertanyaan kedua.

2. How hard? (Seberapa berat?).

Mengapa tidak semakin ringan dari hari ke hari? Sebaliknya, makin putus asa dan tak berpengharapan. Makin berat. Satu masalah belum selesai, masalah yang lain datang, bahkan datang bertubi-tubi. How long dan how hard itu menjadi pergumulan kita semua.

Perasaan ini yang berkecamuk dalam diri Habakuk. Setidaknya ada 2 pertanyaan penting dari Habakuk kepada Tuhan :

1) Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan yang dilakukan bangsa Babel? Habakuk hadir di zaman sebelum pembuangan Babel men capai final. Kemungkinan Habakuk hadir di zaman Yosia sampai Yoyakim (2Raj. 22-24). Raja Yosia adalah Raja yang baik yang mem bawa bangsa Yehuda kepada Tuhan, tetapi itu hanya berlangsung sesaat. Setelah itu, bangsa Yehuda kembali hidup dalam kelaliman, kejahatan, dan penindasan di bawah pemerintahan Yoahas dan Yoyakim (1:3, lih. Juga Yer. 22:13-19). Mereka yang berkuasa menumpahkan darah orang tidak bersalah, mereka mengambil pajak dan menyengsarakan rakyat, mereka membuat patung berhalaan, dan banyak hal lain yang diperbuat mereka yang membuat murka Allah. Tuhan menjawab Habakuk, ada waktunya bangsa Yehuda akan dihukum ke dalam pembuangan dan Tuhan akan memakai bangsa lain. Tetapi ini membawa habakuk kepada pertanyaan kedua,

2) Bagaimana mungkin Allah menghukum bangsa Yehuda, umat pilihan-Nya melalui bang sa Kasdin? Bangsa Kasdim yang dimaksud nantinya dikenal dengan kerajaan Babel yang akan bangkit menjadi bangsa yang kejam dan sadis (lih. 1:7-10). Habakuk tidak bisa terima bahwa bangsa Yehuda yang memiliki Allah yang berkuasa ditaklukkan oleh bangsa lain. Tetapi Tuhan menjawab habakuk, bangsa ini pun akan menerima hukuman atas per buatan mereka. Tuhan memerintahkan Habakuk menulis semua itu di loh-loh batu su paya orang semua dapat melihat janji Allah bahwa yang jahat pasti akan menerima hu kuman Allah (baik orang-orang Yehuda maupun bangsa Kasdim/babel yang menindas).

Habakuk di tengah keraguannya, di tengah ratapannya, dia mengarahkan kembali pandangannya kepada Tuhan. Apa yang dapat kita pelajari dari Habakuk :

1. Melihat (ay. 1).

Melihat apa? Melihat Tuhan bekerja. Habakuk memposisikan dirinya seperti seorang penjaga di menara pengawal. Seorangpenjaga tidak boleh tertidur dan tidak boleh terlalu reaktif sehingga meninggalkan posnya. Seorang penjaga harus diam, melihat dan siaga. Apa arti dari menara pengawal ini? Ini merupakan sebuah tindakan menarik diri dari pandangan kita di dunia dan mengarahkan pandangan kita ke surga. Ini merupakan kebiasaan nabi-nabi Allah menantikan dengan sabar dan setia wahyu Allah, apa yang menjadi rencana Tuhan (Yes. 21:8; Yer. 6:17; Yeh. 3:17; 33:2). Pemahaman ini membawa kita mengerti bahwa Tuhan menghendaki kita tenang menghadapi pergumulan kita. Tuhan ingin kita melihat bukan apa yang di depan mata, tetapi apa yang ada di balik penderitaan itu. Tuhan ingin kita fokus kepada janji Allah, bukan kepada masalahnya. Latihan spiritual yang baik dalam hal melihat adalah berdoa. Habakuk berdoa di pasal 3. Doa adalah cara kita tenang di dalam Tuhan. Membiasakan diri berdoa di tengah pergumulan berat melatih kita diam dan melihat dengan mata iman bahwa Tuhan sedang bekerja dengan cara-Nya.

2. Menunggu (ay. 2-3).

Tuhan tidak main-main dengan janji-Nya. Kita mau semua cepat selesai. Tidak ada yang mau berlama-lama dalam penderitaan. Tetapi waktu Tuhan bukan waktu kita. Apa yang kita lakukan di waktu menunggu? Habakuk mengingat firman Tuhan, yang di sana Ia mengingat pribadi Tuhan dan pekerjaan tanganNya yang lampau (3:2). Habakuk menantikan waktu Tuhan dengan merenungkan karya Tuhan. Bagi kita, lewat karya salib, kita mengingat penderitaan Yesus. Dia telah menyelesaikan penderitaan manusia yang terbesar yaitu dosa. Dosa bukan hanya bicara soal penderitaan yang diakibatkan sakit penyakit yang kita alami, penyiksaan, kekerasan yang kita terima, kemiskinan materi, dosa adalah segala penderitaan itu yang bersifat kekal. Percayalah bahwa yang terberat saja sudah dibereskan Tuhan. Ingatlah selalu akan salib-Nya!

3. Mengimani (ay. 4).

Bangsa Babel merasa sombong sebagai bangsa yang terkuat, tetapi yang akan hidup di hadapan Tuhan adalah orang yang hidup oleh percayanya. Tuhan Yesus di dalam kisah Matius 8:2327 mengajarkan kepada kita bahwa Dia tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya dalam keadaan apapun. Bahkan di dalam keadaan yang seolah-olah Dia tidak bekerja, sesungguhnya Dia terus bekerja menggenapkan rencana-Nya dalam hidup kita. Ingatlah bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu ada di dalam hidup kita. Mengaa harus kuatir? Mengapa harus takut? Percayalah! Tuhan memberkati.

SHARE
Next articleWarta, 26 November 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here