Amsal 21:1; Nehemia 2:1-8; Ringkasan kotbah Ev. Yoseph Gunawan

Dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden dipastikan akan meramaikan pesta demokrasi di tahun 2019 mendatang, yaitu pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakilnya untuk periode 2019-2024. Beberapa respon yang muncul berkenaan dengan dipastikannya dua pasang calon tersebut di antaranya adalah kaget atau tidak menyangka, kecewa, ketidakpuas-  an sampai munculnya keinginan pribadi akan siapa pasangan yang ideal atau seharusnya menjadi presiden dan wakil presiden Bangsa Indonesia. Dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden dipastikan akan meramaikan pesta demokrasi di tahun 2019 mendatang, yaitu pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakilnya untuk periode 2019-2024. Beberapa respon yang muncul berkenaan dengan dipastikannya dua pasang calon tersebut di antaranya adalah kaget atau tidak menyangka, kecewa, ketidakpuas-  an sampai munculnya keinginan pribadi akan siapa pasangan yang ideal atau seharusnya menjadi presiden dan wakil presiden Bangsa Indonesia.

Lalu dari beberapa respon di atas tidak sedikit yang akhirnya berujung kepada kekuatiran tentang apa yang akan terjadi atau bagaimana keadaan bangsa ini pada masa yang akan datang apabila pemimpinnya bukanlah orang yang ideal menurut kita. Termasuk kita juga mungkin dihantui oleh kekuatiran apabila hal-hal yang buruk terjadi di bangsa ini atau lebih tepatnya menimpa kita kaum minoritas.

Di tengah segala keadaan tidak baik yang terjadi dan kekuatiran akan masa depan bangsa ini di bawah kepemimpinan yang baru maka Firman Tuhan di dalam Amsal 21:1 sungguh sangat menyejukkan dan menentramkan hati kita semua. Firman-Nya mengatakan bahwa, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.” Sekiranya kita me- yakini bahwa kemahakuasaan dan kedaulatan Allah adalah yang tertinggi maka seharusnya kita juga meyakini bahwa kehidupan dan kekuasaan setiap pemimpin ada di dalam kendali-Nya dan dipakai sesuai dengan keinginan atau untuk kemuliaan-Nya dan yang kita yakini juga adalah untuk kebaikan umat-Nya.

Apa makna yang terkandung di dalam kalimat “Hati Raja di Tangan Allah”? Agar lebih mudah memahaminya maka Nehemia 2:1-8 dapat dijadikan sebagai contoh. Dan dari kisah tersebut dapat ditarik beberapa makna yang kemudian dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita di bangsa ini, yaitu…

 

1. Allah jauh lebih berkuasa dari setiap pemimpin di dunia ini (ayat 2). Raja adalah penguasa tertinggi di dalam suatu sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Kekuasaannya bersifat mutlak sehingga tidak jarang seorang raja memerintah rakyatnya deng-an otoriter atau tangan besi. Sampai-sampai perkataan atau perintah raja bisa menjadi undang-undang dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Ayat 2 menjelaskan bahwa Nehemia menjadi sangat ketakutan ketika menghadap Raja Artahsasta padahal hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Mengapa demikian? Karena tidak boleh ada kesedihan atau muka muram di hadapan raja. Resikonya besar bahkan bisa saja berujung kepada kematian. Artinya raja mempunyai kekuasaan yang begitu besar dan sangat ditakuti. Contoh lain adalah Raja Ahasyweros di dalam kisah Ester. Dijelaskan bahwa setiap orang yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Kemudian Raja Nebukadnezar. Di satu masa karena kebesaran kerajaan dan kekuasaannya maka dia menjadi sombong. Akibatnya dia diredahkan/dihukum Tuhan menjadi seperti binatang dengan rumput sebagai makanannya, tubuhnya dibasahi oleh embun dari langit dan hidup di antara binatang-binatang di padang. Dan yang terakhir adalah Raja Herodes yang disamakan dengan Allah akhirnya ditampar oleh malaikat Tuhan, mati dan tubuhnya dimakan cacing-cacing. Dari beberapa contoh itu dapat diambil kesimpulan bahwa Allah jauh lebih berkuasa dari raja-raja tersebut. Dan yang kita yakini Allah juga jauh lebih berkuasa atas setiap pemimpin di bangsa ini baik yang sekarang masih menjabat ataupun pemimpin terpilih yang akan datang.

 

2. Allah sanggup memakai para pemimpin sesuai kehendak-Nya (ayat 6 dan 8). Raja Artahsasta adalah seorang raja yang tidak mengenal Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub yang disembah oleh bangsa Israel. Tetapi dia dipakai oleh Allah untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Dengan demikian, di ayat 6 dan 8 dikatakan bahwa raja mengabulkan permintaan Nehemia dan mengutusnya untuk kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang telah runtuh dan pintu-pintu gerbangnya yang telah terbakar. Namun hal lain yang tidak kalah penting adalah penderitaan dan kesukaran yang dialami oleh umat Allah (Nehemia 1:3) akibat dari tangan besi para raja yang tidak mengenal Allah bertujuan supaya umat-Nya sadar dan betobat dari dosa-dosa mereka dan kembali kepada Allah (Nehemia 1:6). Jadi, tujuan dari kembali ke Yerusalem dan penderitaan yang dialami oleh umat Israel tiada lain adalah supaya umat-Nya kembali kepada Allah, hidup sesuai dengan perintah-Nya dan untuk memelihara kehidupan umat-Nya. Mungkin ada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemimpin bangsa ini yang menekan dan membuat kita sebagai kaum minoritas menderita. Namun percayalah bahwa Allah sanggup mengubah, menggerakkan dan memakai mereka sesuai kehendak-Nya, yaitu untuk memelihara kehidupan setiap umat-Nya yang ada di bangsa ini. Dan juga supaya kita menyadari kesalahan kita, kembali kepada-Nya dan terus hidup di dalam perintah-Nya.

3. Mendoakan para pemimpin agar dapat memimpin dengan baik (1:2 dan 2:4). Sejak didengar Nehemia bahwa umat yang tertinggal dan terhindar dari penawanan hidup di dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela maka dia langsung menangis dan berkabung selama beberapa hari. Kemudian dia berpuasa dan berdoa kepada Allah. Lebih kurang empat bulan dia berdoa sebelum akhirnya menghadap raja Artahsasta. Dan ketika ditanya oleh raja apa yang dia inginkan maka langkah pertama yang dilakukannya adalah berdoa kepada Allah. Akhirnya Allah di dalam kuasa dan kedaulatan-Nya mengubah dan menggerakkan hati raja Artahsasta untuk mengizinkan dan mengutus Nehemia bersama kaumnya untuk kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok dan pintu gerbangnya. Menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa menunjukkan betapa Nehemia mempunyai hati yang terbeban untuk keselamatan bangsanya. Di negeri pembuangan Nehemia tidak hidup egois dan hanya memikirkan kenyamanan sendiri saja dikarenakan posisinya yang tinggi di hadapan raja. Tetapi dia sedih mendengar penderitaan dan kehancuran bangsanya. Hati yang terbeban itulah yang mendorongnya selalu berdoa bagi keselamatan bangsanya. Bagaimana dengan kita sebagai umat Tuhan yang ditaruh oleh-Nya di bangsa ini? Bagaimana sikap kita melihat kondisi bangsa dan para pemimpin negeri ini? Adakah hati kita terbeban untuk mau menagis, berkabung, meratap, berpuasa dan berdoa bagi pemimpin kita dan keselamatan bangsa ini? Melihat kondisi bangsa ini seringkali kita hanya mencaci-maki, mengutuk, sumpah serapah, membandingkan dengan negara lain dan tidak puas tanpa ada tindakan apa-apa. Daripada melakukan itu semua lebih baik apa yang telah dilakukan oleh Nehemia kita lakukan juga bagi bangsa kita tercinta ini, yaitu berdoa. Mendoakan para pemimpin agar dapat menjalanlan pemerintahan dengan baik sehingga Indonesia dapat menuju ke arah yang lebih baik. Dan berdoa agar kemuliaan Tuhan dinyatakan di bangsa ini.

Saudara, yakinilah bahwa benar hati pemimpin ada di tangan Allah dan dipakai sesuai kehendak-Nya. Mari di dalam semangat memperingati HUT RI ke-73 sebagai umat Tuhan yang ditempatkan di bangsa ini kita dipanggil untuk menjadi pendoa bagi pemerintah dan keselamatan bangsa ini karena mereka dapat dipakai oleh Allah untuk memelihara umat-Nya yang ada di bangsa ini. Merdeka…!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here