Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 28 Januari 2018
Lukas 17 : 11-19

Bersyukur adalah salah satu hal yang penting dalam iman seorang Kristen. Hal ini diajarkan oleh Alkitab secara berulang-ulang (Kol. 2:7; 1Tes. 5:18; Ef. 5:20). Daud pernah mengingatkan, “…dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Maz. 103:2).

Dalam perikop yang kita baca, kita menemukan kisah tentang sepuluh orang yang sakit kusta dan disembuhkan oleh Allah. Ke- sepuluh orang tersebut sama-sama berteriak kepada Tuhan Yesus, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (ay. 12), dan mereka sama-sama disembuhkan (ay. 14). Akan tetapi, hanya satu orang saja yang “kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya” (ay. 15-16). Satu orang itu adalah seorang Samaria.

Orang Samaria ini tidak berhenti hanya pada kesembuhan saja, tapi ia ingin membangun relasi yang lebih dalam dengan Kristus, sang Penyembuh. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah bermaksud agar umat-Nya berhenti hanya pada “menerima berkat” saja, tapi yang Ia inginkan adalah relasi. Ia menginginkan agar umat-Nya membangun relasi yang mendalam dengan diri-Nya.

Apa yang membuat orang Samaria ini bisa bersyukur?
1. Karena ia merasa tidak layak untuk menerimanya.

Sebagai orang Samaria, ia sadar bahwa ia adalah orang yang tidak layak untuk menerima kasih karunia Allah. Bangsa Yahudi menganggap bahwa diri mereka adalah bangsa yang istimewa, sehingga mereka merasa bahwa mereka adalah bangsa yang memang sudah sepantasnya untuk mendapatkan kasih karunia Allah.

Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang layak untuk menerima berkat dari Allah. Kita adalah orang-orang yang berdosa. Bahkan Israel pun dijadikan umat kesayangan oleh Allah, bukan karena mereka lebih hebat dari bangsa lainnya, tapi karena kasih-Nya saja (Ul. 7:6-8). Dengan kata lain, relasi kita adalah relasi anugerah. Jika bukan Allah yang berkasih karunia, maka kita tidak akan pernah mendapatkannya. Salah satu tujuan Lukas menulis Injil adalah untuk menyatakan bahwa anugerah Allah ditujukan untuk semua orang, termasuk orang-orang yang sakit kusta dan bangsa Samaria. Sikap “merasa layak untuk mendapatkannya” adalah penghalang untuk bisa bersyukur.

Jika kita bisa memiliki sesuatu, bekerja, dan melakukan banyak hal, sesungguhnya hanyalah karena anugerah Allah. Kita tidak sepantasnya menerimanya. Tapi Allah menyediakannya bagi kita.

2. Karena ia mendapatkan kebaikan yang sangat besar.

Orang Samaria ini disembuhkan oleh Tuhan. Dia mengalami berkat yang sangat banyak melalui kesembuhan ini: secara fisik (tubuhnya dipulihkan oleh Tuhan), secara sosial (bisa berkumpul lagi dengan keluarganya), dan secara rohani (mendapatkan perkenanan Allah). Hal ini membuatnya bersyukur kepada Allah.

Memang kita masih memiliki banyak pergumulan hingga saat ini. Tapi, marilah kita sejenak mengalihkan pandangan kita: tidak berfokus kepada masalah kita, tapi melihat berkat dan kebaikan Tuhan di sekeliling hidup kita. Yakinlah bahwa masih banyak berkat Tuhan yang disediakan-Nya bagi kita. Bahkan, yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, Allah tetap sediakan. Karena itu, tetaplah belajar untuk bersyukur. Walaupun pergumulan utama kita belum dijawab oleh Tuhan, kebaikan Allah yang lainnya tetap masih berlimpah disediakan-Nya bagi kita. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here