Yohanes 1:14; Ringkasan Khotbah Ev. Yohanes Tan; Minggu, 15 Desember 2019

Inkarnasi: Kemuliaan Pribadi Yesus yang Unik

Di dalam kasih kepada umat manusia yang memberontak terhadap-Nya, Allah tidak hanya mengirimkan surat dan selembar cek. Dalam kerinduan-Nya agar manusia berbalik kembali kepada-Nya, Dia melakukan satu hal teramat luar biasa: turun ke dunia dan menjadi manusia. Itulah kebenaran yang diungkapkan oleh Yoh. 1:14, yang merangkum dan sekaligus menjadi titik fokus dari Injil Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan diam di antara kita.” Allah mengunjungi planet kita. Kristus datang dan tinggal di antara kita.

Allah menjadi manusia. Para teolog menyebutnya dengan istilah Inkarnasi. Kebenaran ini tidak mudah untuk dipahami dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, apakah Dia menjadi manusia sejati? Apakah Dia masih Allah ketika hidup di dalam daging? Gereja mula-mula, juga gereja masa sekarang, menghadapi banyak perdebatan berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan ini.

Beberapa orang mengatakan Yesus tidak benar-benar manusia, hanya terlihat seperti manusia. Yesus memiliki tubuh manusia tetapi tidak memiliki jiwa manusia. Yesus adalah dua orang dalam satu tubuh, semacam setengah Tuhan dan setengah manusia. Orang-orang yang tidak percaya mengatakan bahwa inkarnasi adalah omong kosong, Yesus sama sekali bukan Tuhan; Yesus adalah orang biasa seperti Anda dan saya dengan sifat dosa, sama seperti orang lain di planet bumi, TITIK! Sudah tentu semua pendapat itu tidak benar.

Ketika Yesus dikandung dalam rahim Maria, Tuhan yang tak terbatas, Allah yang kekal, menambahkan kemanusiaan yang fana pada diri-Nya tetapi tidak mengurangi keilahian-Nya. Ia tidak berhenti menjadi Allah ketika menjadi manusia. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, Ia Manusia-Allah. Tidak ada yang bisa secara rinci dan tepat menjelaskan bagaimana hal itu terjadi, atau bagaimana Tuhan bisa menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Tuhan. Tetapi, itulah yang diajarkan Alkitab.

Sebagai Firman yang menjadi manusia, Yesus menyatakan seperti apakah Allah yang tidak kelihatan itu. “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Dengan Firman menjadi manusia kita memiliki gambar eksak dari Bapa. Jika kita melihat Yesus, kita telah melihat Bapa (Yoh. 14:9).

Firman itu menjadi manusia dan tinggal di antara kita. “Tinggal di antara kita” memiliki akar kata yang sama dengan Kemah Suci dalam Perjanjian Lama, yang merupakan tenda tempat kemuliaan Allah tingga. Tabernakel kadang juga disebut “Kemah Pertemuan” (Kel. 33:7) adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Dengan cara yang sama, tetapi dalam arti yang jauh lebih dalam, Yesus menjadi tempat di mana kita bertemu Allah sekarang ini. Jadi, hanya melalui Yesus kita dapat mengenal dan menghampiri Allah secara pribadi (Luk. 10:22).

Implikasi 1
Jika Firman itu menjadi manusia, tinggal di antara kita, dan Allah telah berbicara kepada kita melalui Dia, maka kita seharusnya percaya kepada-Nya! Yohanes menulis tentang Firman yang menjadi manusia ini “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31). “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36). Karena itu, kita harus percaya kepada-Nya sebagai Juru Selamat dan mengikuti-Nya sebagai Tuhan.

Implikasi 2
Jika Firman itu telah menjadi manusia maka Dia dapat merasakan kesusahan dan kelemahan umat-Nya karena Dia “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Dia bukan saja bisa berempati, lebih dari itu Dia sanggup memberikan pertolongan pada waktunya – apapun persoalan dan derita yang kita alami – sebab Dia adalah Allah yang Imanuel.

Implikasi 3
Pernahkah kita membayangkan dan coba memahami seberapa rendah Allah menempatkan diri-Nya demi menjangkau dan mengampuni manusia yang berdosa? Firman itu menjadi manusia dan tinggal di antara kita untuk memberi contoh dan teladan agar kita “hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh. 2:6). Kristus menjadi manusia seperti kita agar Dia dapat menjadikan kita seperti diri-Nya (Athanasius). Dapatkah kita membayangkan seberapa banyak konflik yang bisa diselesaikan, rumah tangga yang dapat dipertahankan, pelayanan dan kesaksian gereja yang akan diselamatkan jika kita mencoba menjalani hidup yang Yesus hidupi?

Implikasi 4
Allah berulang kali berbicara melalui para nabi (Ibr. 1:1-2). Ketika kata-kata saja tidak cukup, maka Firman yang kekal harus berinkarnasi ke dalam waktu dan budaya manusia agar “komunikasi” terjadi. Inilah prinsip dan contoh bermisi yang Tuhan berikan.

Tidak cukup hanya berharap orang-orang akan mendengar firman dan kemudian diselamatkan. Seperti Firman menjadi manusia agat dapat diterima, kita pun harus rela untuk berinkarnasi. Injil tidak harus berhenti sebatas retorika; Injil harus mendapatkan bentuk nyatanya melalui kerelaan kita untuk “turun” ke tempat-tempat di mana orang-orang paling membutuhkan keselamatan. Kita harus “memberi kaki” kepada Injil agar bisa sampai kepada dunia yang terhilang ini. Kita harus membawa firman ke tempat di mana orang-orang yang membutuhkan kasih Allah berada. Kita harus memberi “tangan” kepada Injil agar mereka yang terhilang dapat melihat dan menikmati bentuk nyata dari kasih Allah melalui perbuatan dan tindakan yang kita lakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here