Yohanes 11:57-12:8; Ringkasan Khotbah KU 3 Pdt. Yung Tik Yuk; Minggu, 29 September 2019

Alasan utama Maria menuangkan minyak narwastu bukan karena Yesus telah membangkitkan Lazarus. Jika ia melakukannya sebagai ungkapan syukur karena Yesus telah membangkitkan Lazarus, maka Maria pasti segera melakukannya di depan kubur Lazarus. Tapi, peristiwa pe- nuangan minyak ini terjadi beberapa hari kemudian.

Jika demikian, apa yang menjadi alasan utama Maria menuangkan minyak tersebut? Berdasarkan Yohanes 11:57 (“Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia”) maka Maria menyadari bahwa situasi waktu itu sangat genting: Yesus, pribadi yang dihormati dan dikasihinya, akan segera ditangkap.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: apakah kita pun menyadari situasi-situasi yang berkembang di sekitar kita pada saat ini? Ataukah, kita tidak peka dengan berbagai perubahan yang ada? Sebagai contoh: ada orang-orang yang Kristen yang memiliki gaya hidup semakin bebas, sedangkan yang lain semakin konservatif. Apakah kita peka dengan keadaan ini? Dunia di sekitar kita semakin garang dan ganas, tetapi apakah kita siap menghadapi kegarangan dan keganasannya ini? Inilah misi kita di dalam dunia.

Maria menyadari bahwa mengikut Kristus berarti memberikan keteladanan di dalam dunia. Maria melihat hal itu di dalam diri Yesus: memenuhi tuntutan Allah demi menyelamatkan manusia. Kematian Yesus di kayu salib karena Ia telah memenuhi tuntutan yang paling maksimal dari kekudusan Allah Bapa. Banyak orang Kristen hari ini menjalani hidup hanya untuk mencapai keinginan pribadi. Ini bukan berarti tidak boleh memiliki keinginan. Tapi sadarilah bahwa Allah menuntut hidup kita. Gereja juga dituntut oleh Tuhan, bukan dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana. Tuhan mau kita terjaga dan memperhatikan dunia di sekitar kita.

Minyak narwastu merupakan minyak yang mahal. Tapi sekarang setelah Maria melihat Yesus, maka nilai minyak itu tidak sebanding dengan kayu salib. Tidak ada yang terlalu mahal di depan kayu salib. Ini menjadi perenungan bagi kita: apa yang terlalu mahal di dalam hidup kita sehingga kita masih tidak mau menyerahkan diri kita kepada Yesus? Apakah hidup kita terlalu mahal untuk ditaruh di bawah kayu salib? Bagi Maria, tidak ada sesuatu pun yang terlalu mahal bila dibandingkan dengan kayu salib.

Mari kita melihat ladang misi dan pekerjaan Tuhan secara meluas, baik di kota besar, maupun di daerah pedalaman. Begitu banyak yang bisa dan harus kita kerjakan. Karena itu, mari kita bergerak bersama untuk mengerjakan pekerjaan misi ini. Di depan kayu salib, tidak ada yang terlalu berharga. Kayu salib itulah yang gereja harus beritakan. Apa yang akan Saudara persembahkan kepada Tuhan? Masih adakah yang terlalu mahal bagi kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here