1 Tesalonika 2:1-12 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Yohanes Adrie; Minggu, 18 Agustus 2019

Definisi Alkitab: integritas adalah orang yang hidupnya tidak bercela di hadapan Allah, yang bersih kelakuannya. Definisi lebih jelas: integritas tidak berbicara dalam satu aspek, namun ke- terkaitan keseluruhan aspek keberadaan kita yang menyatu. Integritas nampak dari dalam hati dan terpancar keluar, bukan double life (hidup ganda). Konsisten dalam setiap aspek hidupnya, dalam setiap kondisi apapun: ketika di depan publik, ketika di tengah keluarga bahkan ketika sedang sendirian. Integritas bukan image, bukan pencitraan namun siapa adanya diri kita.

Paulus berkata ikutilah aku, sama seperti dia mengikuti Yesus. Ada 2 hal yang dimaksud: di dalam kehidupan dan pelayanannya, ia terus belajar dari Kristus, dan ia mengajak orang-orang yang ia layani untuk meneladani dirinya yang meneladani Kristus. 1 Tes 2:1-12 tidak secara khusus bicara tentang apa itu integritas, tapi lebih menyoroti integritas diri Paulus:

1. Integritas berkaitan dengan keberadaan hati (ayat 3): “Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.” Dalam melayani, berkotbah dan mengajar, ia melakukan semuanya dengan ketulusan, bukan dengan kepura-puraan.

2. Menyatunya hati dan perkataan (ayat 5): “Karena kami tidak pernah bermulut manis–hal itu kamu ketahui–dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi–Allah adalah saksi.” Ia tidak bermulut manis, memakai topeng, ataupun mencari keuntungan dari Firman yang ia ajarkan.

3. Menyatunya perkataan dan perbuatan (ayat 10): sangat tegas Paulus berkata: “Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya.” Perkataan Paulus yang berani ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelayan yang berintegritas. Paulus juga berani mengatakan bahwa para pengikutnya adalah saksi-saksi teladanan hidupnya. Yesus dicatat dalam Injil kerap mengritik para ahli Taurat dan orang Farisi karena ada jurang besar antara pengajaran mereka dan perbuatan mereka. Tantangan kita dalam berintegritas adalah melakukan dan menghidupi apa yang kita katakan.

4. Dilandasi pada kesadaran bahwa ada Allah yang melihat dan yang menguji hati (ayat 10): ‘Allah adalah saksi’). Integritas harus dilandasi dengan kesadaran bahwa Allah melihat siapa kita sesungguhnya. Orang lain tidak bisa melihat hati kita, namun Allah melihat! Jika dilepas dari Allah, sebagai manusia berdosa, kita tidak mungkin berintegritas. Ini yang membedakan integritas anak Tuhan dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Integritas juga berbicara tentang relasi dengan Allah!

Yesus, sebagai teladan Paulus, di dalam hidup-Nya juga menjunjukkan integritas: “Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka” (Mat 22:16). Yesus dan Paulus tidak melihat reputasi atau popularitas lebih penting dari integritas. Mereka dengan berani mengatakan kebenaran, walaupun banyak konsekwensi yang mereka terima. Inilah integritas!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here