Lukas 1:26-38; Ringkasan Khotbah Pdt. Christian Sulistio; Minggu, 23 Desember 2018

Zaman kita adalah zaman yang ditandai dengan banjir informasi. Tiap hari kita dipenuhi deng-an informasi dari televisi, internet, alat-alat komunikasi kita mulai dari facebook, whatsapp, line, instagram, dan lain sebagainya. Hal ini membuat kita tidak lagi mampu membedakan mana berita yang penting dan yang tidak penting. Namun berita yang kita baca pada saat ini adalah berita yang penting bukan hanya untuk Maria dua ribu tahun yang lalu tetapi juga untuk kita yang hidup pada abad keduapuluh satu ini. Berita ini penting karena berkaitan dengan kehi- dupan kita yang berdosa dan bagaimana Allah menyediakan jalan keluarnya.

Berita yang disampaikan oleh malaikat kepada Maria memberi kita dua pelajaran penting: pertama, dari sisi Allah, keselamatan adalah murni anugerah Allah semata (ay. 28, 30, 35). Malaikat itu memberitahukan kepada Maria bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki yang merupakan Juru Selamat dunia ini. Namun pembaca dapat memperhatikan bahwa Yesus, yang berarti Yahwe menyelamatkan, tidak datang karena upaya atau kesalehan Maria. Kehadiran Juru Selamat manusia adalah inisiatif dan rancangan Allah dan bukan rancangan dan inisiatif manusia. Oleh sebab itulah kekristenan mengajarkan bahwa keselamatan manusia adalah anugerah Allah artinya dirancang dan dikerjakan oleh Allah sendiri melalui cara Allah dan bukan oleh rancangan manusia dan melalui cara manusia.

Namun orang-orang berdosa sejak dulu sudah berupaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan berbagai macam cara. Mereka bukan hanya mengandalkan upaya sendiri untuk mencapai keselamatan tetapi juga menolak cara Allah untuk mencapai keselamatan. Jadi manusia berdosa dua kali lipat dengan mencari keselamatan dengan cara sendiri ditambah dengan menolak cara Allah untuk mencapai keselamatan. Akan tetapi para pembaca mungkin ada yang bertanya bagaimana Allah yang Mahakudus dan Mahatinggi mau datang ke dunia yang kotor dan penuh dosa ini? Nabeel Qureshi memberikan cerita yang baik. Ia bercakap-cakap de- ngan seorang mahasiswi dari tanah Arab bernama Sahar. Sahar mempertanyakan “Bagaimana kamu dapat mempercayai Yesus adalah Allah jika Ia dilahirkan melalui rahim seorang pe- rempuan dan Ia harus menggunakan kamar kecil? Bukankah hal-hal tersebut tidak pantas untuk Allah?” Nabeel kemudian menjawab andaikan jika anda [Sahar] hendak ke sebuah upacara penting dan sudah menggunakan gaun yang bagus dan harus datang tepat waktu tetapi anda mendapati bahwa anak anda jatuh ke dalam kolam yang berlumpur. Apa yang akan Sahar lakukan? Membiarkan anaknya tenggelam ke dalam kolam berlumpur itu atau menolongnya dan tiba di pesta dengan baju yang berlumpur? Sahar menjawab bahwa sudah pasti ia akan terjun ke dalam kolam berlumpur dan menolong anaknya. Nabeel bertanya lebih lanjut: “Jika ada teman-temanmu di sana bersama kamu apakah kamu akan mengutus temanmu untuk menyelamatkan anakmu atau kamu sendiri yang akan menyelamatkan?” Sahar menjawab bahwa jika itu adalah anaknya sendiri maka pastilah ia sendiri yang akan menyelamatkan. Nabeel kemudian mengatakan: “Jika anda, seorang manusia, sangat mengasihi putrimu sehingga engkau bersedia mengenyampingkan martabatmu untuk menyelamatkan dia, terlebih lagi Allah, jika Ia adalah Bapa kita yang penuh kasih, pasti akan mengenyampingkan keagungan-Nya untuk menyelamatkan kita.”

Kedua, dari sisi manusia, sikap Maria adalah menerima rencana keselamatan Allah kepada di- rinya dengan rendah hati sebagai seorang hamba (ay. 38). Maria menerima perannya di dalam rencana keselamatan Allah sebagai seorang hamba Tuhan yang bersedia melakukan kehendak Allah. Keputusan yang diambil oleh Maria ini memiliki resiko karena ia bisa disalahpahami oleh orang-orang di kampung dia di Nazaret dan tunangannya sebagai kehamilan di luar nikah. Tapi dia taat dengan kehendak Tuhan bagi dia. Pembaca sekalian, sama seperti Maria, kita sebagai orang-orang Kristen zaman now memiliki panggilan di dalam rencana Allah untuk memberitakan Injil di dalam dunia yang gelap ini. Pemberitaan Injil kepada orang-orang seperti membawa resiko sama seperti jemaat mula-mula. Meski berresiko kita yang sudah diperlengkapi di dalam gereja perlu taat kepada kehendak Tuhan ini.

Pembaca yang baik, pada momen Natal ini baiklah kita melihat karya keselamatan Allah yang Allah berikan kepada manusia. Kita menerima karya keselamatan Allah ini dengan rendah hati dan bukan dengan membangun jalan keselamatan kita sendiri. Kita juga sama seperti Maria mau masuk ke dalam rencana keselamatan Allah dan menjadi bagian darinya dengan jalan memberitakan kabar kesukaan tersebut kepada orang-orang lain. Pada waktu kita memberitakan Injil, ada resiko penolakan dan pertanyaan. Namun Allah memanggil kita bukan supaya kita merasa aman dan hangat tetapi untuk satu misi yakni membagikan kabar kesukaan itu kepada orang-orang lain. Marilah kita, sama seperti Maria, masuk ke dalam rencana Allah ini. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here