Ev. Happy Marhein – Minggu, 10 Desember 2017
Matius 1 : 18 – 25

Dosa adalah masalah yang sangat serius bagi seluruh umat manusia. Dosa mengakibatkan manusia mengalami keterpisahan dengan Allah yang maha kudus dan berada di bawah murka-Nya. Tidak seorang pun dapat menyelesaikannya walaupun dengan segala bentuk perbuatan baik. Hanya Allah yang dapat menyelesaikannya dengan cara datang ke dalam dunia dalam wujud bayi Yesus, Sang Putra Natal (ay. 21). Kisah Para Rasul 4:12 juga memberikan penegasan yang sama: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Sesungguhnya pada waktu itu yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi adalah seorang pemimpin politik yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Sementara yang lainnya menantikan penyelamat yang dapat menyembuhkan mereka dari penyakit dan penderitaan hidup. Tetapi misi Allah melalui kelahiran Yesus Sang Putra menyelesaikan masalah yang jauh lebih serius dari semuanya itu, yaitu dosa. Itulah keajaiban misi-Nya. Dan untuk menggenapinya diperlukan 2 hal penting, yaitu:

1. Kerelaaan Allah untuk Mengosongkan Diri (ay. 21)

Di dalam Filipi 2:6-8 di katakan: “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (BIS: Melepaskan semuanya), dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dia yang telah mengosongkan diri-Nya bukanlah manusia biasa, tapi Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya. Dia adalah Allah yang di dalam Perjanjian Lama (PL) telah mendemonstrasikan keperkasaan tangan-Nya, keputusan-Nya yang tak terbantahkan, dan tidak kenal kompromi. Dalam Keluaran 20:18-19 diceritakan bahwa bangsa Israel takut dan berdiri jauh-jauh karena menyaksikan kehadiran Allah yang disertai dengan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Dia juga adalah Allah yang telah mengangkat dan menurunkan raja-raja di dalam PL. Tetapi Dia yang agung rela mengosongkan diri-Nya menjadi bayi mungil yang lahir di kandang binatang yang kotor. Semua itu dilakukan karena Dia mengasihi manusia yang berlumuran lumpur dosa.

Kiranya masa natal ini membawa setiap orang untuk berfokus pada palungan yang akan mengingatkan kembali bahwa Dia adalah Allah besar namun rela mengosongkan diri-Nya dan layak untuk dikagumi.

2. Kerelaan Kita untuk Mengosongkan diri (ay. 24)

Ada yang berpendapat bahwa masa-masa bertunangan adalah masa di mana dunia ini menjadi milik berdua. Masa-masa dimana dua sejoli sedang merajut mimpi-mimpi indah merka. Hari-hari yang dijalani tidak lagi sepi karena selalu ada puisi cinta yang bersahut-sahutan keluar dari dua hati yang saling mencintai. Masa-masa seperti itu juga yang sangat mungkin dialami oleh Yusuf dan Maria. Mereka adalah dua sejoli yang sedang merajut mimpi-mimpi indah mereka. Mungkin Maria sedang membayangkan betapa senangnya sebentar lagi dia akan mengenakan pakaian bersulam warna-warni dan telekung yang biasa digunakan pengantin wanita pada waktu itu. Dia juga mungkin membayangkan betapa bahagianya berjalan di antara dara-dara pengiring disertai dengan nyanyi-nyanyian, musik dan tarian yang juga menjadi tradisi pada waktu itu. Semua itu akan segera menjadi kenyataan, karena mereka sudah bertunangan. Menurut tradisi Yahudi, pertunangan sama mengikatnya seperti pernikahan, hanya tanpa hubungan seksual, dan bisa dibatalkan dengan cara perceraian (ay. 19).

Tetapi, mimpi-mimpi indah itu diinterupsi oleh kehadiran malaikat yang menghampiri Maria dan mengatakan bahwa dia akan mengandung sebelum menikah. Kenyataan itu juga yang pada akhirnya menghancurkan hati Yusuf dan sulit untuk menerimanya.

Tetapi setelah malaikat menjelaskan kepada Maria, kemudian Maria berkata: “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Demikian juga setelah malaikat menjelaskan kepada Yusuf lewat mimpi, Yusuf melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya (ay. 24). Demi tergenapinya misi Allah di dunia, mereka rela melakukannya bahkan rela menaggung segala konsekuensi hingga Yesus lahir.

Kiranya di masa natal ini, kerelaan Yusuf dan Maria untuk mengosongkan diri memotivasi setiap orang percaya. Sudah tentu untuk melakukannya tidaklah mudah karena dibutuhkan kerelaan hati untuk melepaskan semua cita-cita dan pencapaian untuk sebuah misi ilahi. Kiranya kuasa Roh Kudus memampukan kita sehingga misi Allah tergenapi atas orang-orang yang membutuhkan kasih Yesus. Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Allah. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here