Gal. 5:22-23; Yoh. 15:5; Wahyu 2:10b
Ringkasan Khotbah Pdt. Martin Tjen, KU 1, 2 & 4; Minggu, 09 Februari 2020
Buah Roh tidak pernah bergantung pada musim apa pun, atau perasaan kita. Sebagai orang Kristen, kita perlu memiliki buah Roh ini. Ingat, perkataan Yesus tentang Pokok Anggur yang Benar, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh.15:5)
Hari ini, kita belajar buah roh ke-7 (kesetiaan, faithfulness atau xìn shí), dan semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Apa itu kesetiaan? Mengapa kita perlu Setia? Bagaimana kita berlaku Setia? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) Setia adalah salah satu sifat Allah; salah satu buah Roh; salah satu bentuk nyata dari iman Kristen. (2) Mengapa seorang Kristen perlu setia? Karena Allah itu setia (2Tim.2:13; 1Kor.1:9); b. Karena kita adalah gambar & rupa Allah (Kej. 1:26); c. Karena Allah sangat mengasihi & menghargai orang-orang yang setia (Mat. 25:21; Why. 2:10b); (3) Bagaimana berlaku Setia? Teladani Yesus Kristus (1Kor. 1:9; 1Yoh. 1:9); b. Menjadi serupa Kristus (Rom. 8:29; 2Kor. 3:18); c. Dibuktikan dalam segala kondisi, baik kepada Allah dan sesama (Mrk. 12:30; Luk. 16:10).
Kita harus berusaha dengan sebaik-baiknya agar semua buah roh itu bekerja dengan maksimal dalam pertumbuhan iman kita. Tentu kita perlu terus berkomitmen kepada Tuhan dan diri sendiri agar buah Roh itu semakin hari semakin dapat dirasakan/dinikmati oleh Tuhan; diri sendiri dan orang lain. Kata “kesetiaan” yang dimaksud dalam Gal. 5:22 memiliki makna yg luar biasa. Dalam bahasa asli “kesetiaan” disebut ‘pistis’/iman; demikian juga dalam bahasa Inggris dan Mandarin. Artinya, di dalam kesetiaan, iman memiliki peran yang sangat penting. Ketika seorang dikaruniakan iman oleh Tuhan; iman inilah yang terus bekerja di dalam dia untuk semakin rindu mengenal siapakah Tuhan yang telah mengasihinya dan yang telah berkorban baginya untuk menyelamatkan hidupnya. Kerinduannya semakin hari semakin besar sampai pada satu titik bahwa, “Saya harus belajar mengasihi Tuhan; mengingat perbuatan Tuhan dan meniru Tuhan (we must know Him, love Him, remember Him, and imitate Him); agar setiap kita hari lepas hari, semakin serupa Yesus Kristus, Tuhan kita.
Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, maka kita mau belajar melakukan kesetiaan yang sudah Tuhan lakukan. Kita ingin serupa dengan Yesus. Semakin kita hidup dalam kesetiaan kepada Kristus, maka kita semakin serupa Yesus.
Kita belajar dari Tuhan Yesus. (1) Tuhan Yesus setia menjalani jalan kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Mari kita belajar untuk setia dalam menjaga, merawat, memperjuangkan, bahkan menyelamatkan pernikahan, keluarga, dsb. (2) Tuhan Yesus setia menemani dan menolong manusia dalam menghadapi pergumulan. Dia tahu siapa kita (1Kor. 10:12). Ketika kita tahu bahwa ada saudara seiman sedang mengalami masalah, hendaklah kita setia untuk mendampinginya dan menemaninya dalam menghadapi berbagai pergumulan. Berdoa, mohon hikmat dan kekuatan Tuhan itu untuk cari jalan keluar yang terbaik. (3) Tuhan Yesus setia mengampuni dosa (1Yoh. 1:9). Dari kesetiaan Tuhan ini, kita perlu belajar untuk terus mengampuni, memaafkan, dan menerima orang yang telah melakukan kesalahan atau berkhianat pada kita. Ketika kita bersedia belajar setia seperti Yesus, maka karakter kita semakin hari semakin serupa Yesus. Bukan hal yang mustahil jika setiap orang akan melihat Yesus dalam hidup saudara dan Tuhan dimuliakan melalui kehidupan kita. Kiranya Tuhan menolong kita serupa Yesus yang setia, Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here