Pdt. Yohanes A. Hartopo – Jumat Agung, 30 Maret 2018

1 Petrus 2:1825

Sangat disayangkan bahwa orang-orang Kristen jarang merenungkan penderitaan Yesus dengan lebih mendalam. Biasanya, mereka hanya melihat salib secara sempit dan dangkal, bahwa karena Yesus telah mati maka kita beroleh keselamatan, kita tidak menerima murka Allah karena Yesus telah menanggungnya untuk kita. Orang-orang Kristen hanya melihat penebusan Yesus sekedar sebagai jaminan untuk masuk sorga, lalu menginjili orang supaya mereka bertobat masuk sorga. Padahal, karya Yesus di salib merupakan rancangan
dan karya besar Allah yang unik, bukan hanya sekedar supaya manusia diselamatkan, karena sebagai Allah sebenarnya Ia memiliki otoritas atas kematian dan hidup-Nya. Apakah kematian Kristus “hanya” untuk memperoleh keselamatan semata? Bagaimana sebenarnya karya dan dampak ”salib” itu di dalam diri kita yang masih harus menjalani hidup ini?

1 Petrus 2:18-25 adalah pesan Petrus kepada para budak yang telah bertobat, yang notabene adalah orang-orang kalangan bawah, tidak dianggap, tidak diperlakukan adil, dan
tidak memiliki kekuasaan besar. Bagaimana mereka harus menghadapi kehidupan kekristenan mereka di tengah kondisi seperti itu? Pada waktu Petrus menasehati mereka, Petrus tidak sekedar berbicara tentang hal-hal praktis sederhana namun menarik, ia juga bicara tentang “salib” yang harus menjadi dasar hidup mereka.

Mengapa demikian? Karena kebenaran tentang salib adalah untuk semua orang percaya, tidak peduli siapa mereka. Petrus meminta mereka untuk meneladani Yesus, karena Yesus telah menderita untuk mereka. Walaupun mereka hidup ditengah penderitaan, Yesuspun telah menderita bagi mereka (ay. 23). Keteladanan Yesus ini harus menjadi pola atau contoh di dalam hidup mereka. Ini adalah panggilan bagi semua orang percaya, bahwa kita “wajib” hidup sebagaimana Kristus hidup. Ini bukan suatu pilihan tapi keharusan.

Petrus juga mengajak para budak itu untuk lebih lagi berespon (ay. 24-25). Karena mereka telah mati di dalam dosa, mereka harus hidup dalam kebenaran. Cara hidup mereka harus berkarakter Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Yesus sudah memikul salib dan mati sebagai suatu bayaran bagi kita, karena seharusnya itu adalah “milik” kita. Untuk apa? Supaya kita sungguh-sungguh meninggalkan dosa dan hidup dalam kebenaran.

Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan, sehingga kita mampu hidup dalam kebenaran. Ini adalah kesembuhan secara rohani sehingga dari domba yang tadinya hidup dalam kesesatan, kita berbalik menuruti supervisi Sang Gembala Agung. Inilah akibat dari salib. Salib efektif mencapai apa yang Allah ingin capai. Salib menciptakan hidup dan menciptakan manusia baru.

Mari kita mengevaluasi diri, supaya kita jangan sekedar “tahu” akan karya salib itu, tetapi tidak mau menjadi domba-domba yang disupervisi oleh-Nya. Kita masih hidup di dalam dosa dan tidak mau tunduk kepada Firman-Nya. Marilah kita menjadi orang-orang Kristen yang meneladani Yesus, hidup dengan bertanggungjawab dan tidak lagi diperbudak dosa. Jadilah domba-domba yang tunduk dan rela disupervisi oleh Sang Gembala Agung tersebut, selama kita masih diberi kesempatan menjalani hidup ini.

 

SHARE
Previous articleWarta, 01 April 2018
Next articleWarta, 08 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here