KEMENANGAN DIBALIK PENGUASAAN DIRI
“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya”
(Amsal 25:28)

Ringkasan Khotbah Ev. Esther G. Sulistio, KU 1, 2 & 3; Minggu, 23 Februari 2020

Sekarang ini kita hidup di zaman yang bergerak ke arah anti-norma/otoritas. Zaman dimana kebebasan didengung-dengungkankan, sebaliknya penguasaan diri dianggap suatu kerugian, kebodohan bahkan kelemahan. Kebebasan bersuara, kebabasan melakukan apa yang dimau, gaya hidup konsumtif, menjadi kecenderungan semangat zaman ini. Sebagai contoh: tantangan dunia sosmed, dimana dengan mudah dan bebasnya orang mengemukakan pendapat, menumpahkan kekesalan, kejengkelan, kebencian bahkan menyerang orang lain melalui sosmed. Hal ini mengingatkan kita bahwa tema PENGUASAAN DIRI tetap menjadi tema yang relevan bahkan sangat penting.
Keunikan dari Kitab Hikmat Amsal adalah tidak mengajarkan secara langsung bagaimana cara mengambil keputusan yang benar namun bagaimana menjadi orang yang mampu membuat keputusan yang benar. Dalam Amsal 25:28, Penulis Amsal ingin menolong kita bagaimana menjadi orang yang mampu menguasai diri, melalui ‘imagery.’
Dalam konteks PL, sebuah kota tanpa tembok yang mengelilinginya adalah sebuah bencana, malapetaka. Mengapa?  Karena perampok bahkan musuh akan dengan mudah masuk merampok dan menghancurkan kota. Hanya tembok besar dan kokoh yang mampu membuat nyenyak tidur penduduk, membuat kondisi ekonomi dan keamanan kota terjamin. Tembok yang runtuh menggambarkan sebuah cela, cemooh dan aib besar bagi bangsa Yehuda karena hal tersebut menyangkut identitas atau harga diri mereka. Kisah Nehemia (Neh 1:3-4) memperjelas isu ini. Ia meratapi, berkabung, berpuasa serta berdoa berhari-hari untuk memohon ampun atas dosa-dosanya dan dosa-dosa kaum sebangsanya (bangsa Yehuda). Ia melakukan demikian mengingat kaumnya yang tertinggal di Yerusalem yang mengalami penderitaan karena tembok megah kota Yerusalem telah runtuh dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar! Tembok Yerusalem yang hancur itulah yang menggerakkan dia berani ambil resiko membangun kembali tembok Yerusalem.
Orang yang tidak dapat mengotrol dirinya adalah pribadi yang lemah, mudah hancur, mudah jatuh dalam dosa. Sedangkan orang yang dapat mengontrol dirinya adalah pribadi yang kokoh, tidak mudah hancur karena ia bersedia hidup di dalam tembok/pagar/batas.
Namun sayangnya, manusia manusia resistan terhadap Batasan. Pada mulanya manusia ditaruh di taman Eden dengan kebebasan penuh, Tuhan hanya memberi ‘satu pagar’ (buah pengetahuan baik dan jahat) namun akhirnya manusia tidak tahan godaan dan jatuh ke dalam dosa. Karena kecenderungan inilah, Yesus mengingatkan para murid bahwa roh penurut tapi daging lemah! Pauluspun berulang kali mengingatkan murid untuk menguasai/mengontrol dirinya karena keinginan daging yang masih melekat selama mereka hidup di dunia.

Bagaimana kita dapat memiliki penguasaan diri? Apa yang menjadi batasan kita?

1. Pagar Firman Tuhan

Firman Tuhan adalah pagar yang utama: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Juga menjadi pagar bagi kaum muda: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Maz 119:9)

2. Pagar Keluarga

Paulus dalam Titus 2, memetakan strategi pastoral keluarga tentang penguasaan diri (self-control family system) kepada 4 kelompok umur berbeda. Pria yang lebih tua: hiduplah sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Perempuan yang lebih tua: hiduplah sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, cakap mengajarkan hal-hal yang baik supaya mereka dapat mendidik perempuan-perempuan muda dapat bersungguh-sungguh dalam mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. Dan kepada pria yang muda agar menguasai diri, jadi teladan dalam berbuat baik, jujur, bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan.

3. Pagar Komunitas murid

Gereja adalah komunitas orang beriman yang akan sangat menolong kita berumbuh, saling mengingatkan, saling mendoakan dan saling menopang.

Penguasaan diri: adalah tembok/pagar/batasan, agar kita tetap berada dalam kekudusan. Penguasaan diri adalah pekerjaan Roh Kudus, buah yang keluar dari hati yang takut akan Tuhan, tanda kedewasaan rohani seorang murid. Kita dimampukan menjadi murid karena Kristuslah  teladan kita. Ia telah menjadi korban yang sempurna di atas salib. Ia adalah Allah yang telah membatasi diri-Nya menjadi manusia. Selama hidup sebagai manusia, Kristus mengontrol dan menguasai diri-Nya sedemikian rupa untuk hidup berkenan kepada Bapa. Ia bahkan rela dicemooh, dihina, disiksa, bahkan ditelanjangi di atas salib demi kita manusia berdosa.

SHARE
Previous articleWarta, 23 Februari 2020
Next articleWarta 01 Maret 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here