Lukas 9:57-62 ; Ringkasan Khotbah Prof. Dr. Sen Sendjaya; Minggu, 27 Januari 2019

Ada satu langkah mutlak harus kita ambil sebagai orang Kristen yang sejati: membayar harga menjadi seorang murid. Jika kita belum melakukan ini, maka sebenarnya kita belum menjadi murid Yesus! Hal inilah yang sering diabaikan oleh orang-orang Kristen, mereka ‘merasa telah jadi murid yang baik, namun Yesus yang mereka ikuti sebenarnya bukanlah sunguh-sungguh Yesus, namun Yesus yang adalah “buatan” mereka.

Dalam perikop ini, Tuhan Yesus melakukan 3 pendekatan berbeda kepada ketiga orang:

1. Orang yang berkata: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (ayat 57).
Tipe orang yang sangat idealis, punya tuntutan tinggi, namun antusias terhadap antusiasme itu sendiri. Mengikut Yesus nampak begitu mudah dan menarik: miskin jadi kaya, sakit disembuhkan, susah jadi berkelimpahan. Ketika para pemimpin lain menawarkan kemewahan, kenyamanan, status dan sebagainya, namun Yesus malah memberi jawaban yang realistis: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (ayat 58). Dengan kata lain Yesus tidak menjanjikan ke-nyamanan, kekayaan atau status namun menjanjikan ‘Shalom Allah’ di muka bumi. Antusias itu baik, namun murid harus tahu harga yang harus dibayar. Seperti yang dicatat dalam Roma 14:17 bahwa menikmati Kerajaan Allah adalah menikmati Shalom Allah dengan segala kesiapan hati membayar harga karena Yesuspun tidak menikmati kenyamanan, kekayaan ataupun status di dalam hidup-Nya.

2. Orang yang berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (ayat 59). Awalnya memang Yesus yang mengajak orang itu. Respon Yesus: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (ayat 60). Bukan berarti Yesus meminta ia mengabaikan dan menelantarkan orangtuanya, namun Yesus menuntutnya untuk memprioritaskan diri-Nya, bukan yang lain walaupun itu adalah hal-hal yang baik. Dalam menjadi murid Yesus, jangan kita menempatkan ‘hal-hal yang baik’ (orangtua, anak, jabatan, status) menjadi yang utama untuk menggantikan Yesus yang mulia. Jangan juga mengikut Yesus dengan meminta ‘jaminan’ Yesus memberkati keluarga atau pekerjaan kita dalam kondisi yang baik. Kita harus menjadikan Yesus sebagai TUHAN atas dalam hidup kita, bukan menjadikan-Nya penjamin (atau jimat) bagi keinginan kita.

3. Orang yang berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (ayat 61). Respon Yesus: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (ayat 62). ‘Menoleh ke belakang’ tidak berguna bagi murid Yesus, karena itu berarti kita menganggap Yesus tidak lebih besar, sebagai satu-satunya (PRIORITAS) dalam hidup kita. Yesus adalah teladan sempurna seorang murid, seharusnya ia mendapatkan yang reward di akhir hidup-Nya, namun sebaliknya, Ia malah mati terhukum di salib. Namun kematian-Nya itu telah membenarkan dan memampukan kita membayar harga sebagai seorang murid, yakni memprioritaskan Yesus di dalam hidup kita. Walau sebenarnya kita tidak akan mampu membayar harga tersebut, namun karya Kristus di salib telah memampukan kita!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here