Pyramids of salt reflect the pink hues of predawn light rising above the Salar de Uyuni in the Altiplano of central Bolivia. The salt flat is one of the largest in the world and a remnant of an ancient lake.

Matius 22 : 15-22; Ringkasan khotbah Pdt. Hasan Sutanto

Bagian yang kita baru baca sebenarnya berkaitan dengan upaya jahat dari pemimpin agama pada zaman itu. Hal itu terlihat dalam ayat 18, “Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” Ayat ini lebih tepat diterjemahkan “Mengapa kamu berupaya mau mencelakakan atau menjebak Aku…” Tuhan Yesus memberi jawaban dengan hikmat, dan menggagalkan akal busuk mereka.

Untuk lebih memahami apa yang terjadi, kita boleh memperhatikan beberapa hal di bawah ini.

1. Siapa yang berada di belakang orang-orang yang diutus untuk menjebak Tuhan Yesus?
Dalam ayat 16 disebutkan “murid-murid mereka [orang Farisi] bersama-sama orang-orang Herodian” adalah orang-orang yang datang menemui Yesus. Namun mereka ini hanyalah utusan. Orang Farisi adalah orang yang berada di balik layar, dan mereka berasal dari kelompok konservatif. Mereka mau mencari kesalahan Tuhan Yesus.

Untuk maksud itu, maka memakai beberapa orang dari kelompok Herodian. Kelompok Herodian adalah para pendukung Herodes dan mereka meyakini bahwa Herodes adalah mesias yang sudah datang. Kelompok Farisi dan Herodian adalah dua kelompok yang bertentangan. Tapi, demi tujuan ini, mereka bersatu untuk menyerang Tuhan Yesus. Mereka sama-sama ingin mencelakakan Tuhan Yesus.

2. Bagaimana taktik yang mereka gunakan?
Taktik mereka terlihat di dalam 16, “Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.” Apa yang mereka katakan benar adanya bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang jujur, tidak takut kepada siapa pun dan tidak mencari muka. Akan tetapi, dibalik perkataan mereka, mereka sedang “memperdaya” dan “memojokkan” Tuhan Yesus.

Hal itu terlihat dalam ayat 17, “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Sebagai Pribadi yang berkata jujur, Tuhan Yesus dipojokkan dengan pertanyaan ini: boleh atau tidak? Jika dijawab “boleh” maka kelompok Farisi dapat menggunakan jawaban tersebut untuk menangkap Tuhan Yesus, tapi jika dijawab “tidak boleh” maka kelompok Herodian dapat menggunakan jawaban tersebut untuk menangkap Tuhan Yesus. Ini adalah pertanyaan yang menjebak.

Tapi, Tuhan Yesus tidak masuk ke dalam perangkap mereka. “Maka Ia berta- nya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

3. Apa kewajiban kita sebagai orang percaya?
Kita akan melihat kewajiban kita sebagai orang percaya berdasarkan penulis Injil Matius.

a. Belajar dari Tuhan Yesus: kita perlu bersikap bijaksana dalam menyikapi prilaku dan tindakan orang-orang yang bermaksud jahat.

b. Belajar dari Tuhan Yesus: bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Tuhan Yesus tidak berminat untuk membangun kerajaan-Nya di dunia ini. Ia juga tidak mengikuti pandangan berbagai kelompokyang ada di dalam masyarakat orang Yahudi pada zaman itu. Tuhan Yesus menyadari bahwa permasalahan manusia adalah di dalam hati manusia. Tuhan Yesus memberitakan Kabar Baik, yang mengubah hati manusia, walaupun Ia dan murid-murid-Nya hidup di dalam sistem masyarakat dan politik yang tidak ideal. Ingat, dunia ini memang tidak ideal. Selain itu, pada abad pertama, mayoritas orang Yahudi adalah petani yang miskin. Selain pengeluaran untuk berbagai persembahan dan pajak, mereka masih harus menanggung sewa tanah yang memberatkan. Walau pun mereka adalah orang-orang yang memiliki kerinduan untuk beribadah kepada Allah. Mereka le-bih rela membayar pajak Bait Allah untuk mencukupi kebutuhan bait yang ada di Yerusalem. Tidak demikian dengan pembayaran pajak kepada orang Romawi, yang menjajah mereka. Dari sikap Tuhan Yesus, kita belajar bukan saja menunaikan kewajiban yang kita suka, tetapi juga kewajiban yang sebenarnya kita tidak suka. Karena kita adalah anggota Kerajaan Allah yang harus menjadi terang dan garam di dunia ini.

c. Menjadi garam dan terang adalah sebuah pola hidup yang harus dilakukan oleh umat Tuhan di dalam negara kita. Ini adalah kewajiban kita sekaligus kesempatan kita bersaksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here