Bp. Joseph Zhu – Minggu, 18 Februari 2018

Yohanes 1:1-18

Suasana Chinese Ney Year di Malang terkesan biasa-biasa saja. Tapi bagi Saudara dari China, ini adalah hari yang sangat berkesan. Perayaan yang sangat meriah dapat dilihat dari segala aspek: makanan, dekorasi, pakaian, warna merah yang digunakan sebagai lambang berkat, dsb. Yang tidak kalah penting yaitu tradisimakan bersama keluarga di malam tahun baru. Juga, ada ada istilah ‘da nien ye’ (begadang sepanjang malam); ‘ya sui qian’ (hongpao); dan berkunjung ke rumah keluarga/kerabat.

Banyak budaya atau tradisi Imlek berkaitan dengan takhayul atau penyembahan berhala (misalnya: monster nien). Sejarah budaya Imlek sudah ada ± 4000 tahun dan masih bertahan sampai hari ini karena budaya Imlek terkait erat dengan ritual Tiongkok kuno, yaitu menyembah langit-bumi, nenek moyang dan budaya “menghormati orangtua.” Karena budaya Imlek berkaitan dengan penyembahan berhala maka bertentangan dengan Tuhan. karena itu, bagaimana kita melihat dan menanggapi budaya Imlek? Apakah kita menjauhi? Atau ikut-ikutan? Adakah prinsip kebenarannya? Sebagai seorang Kristen, yang terbaik adalah belajar dari Yesus Kristus. Mari kita belajar dan berpikir tentang ‘inkarnasi Kristus’ yakni firman menjadi manusia (Yoh. 1:1-18), khususnya ayat 14. Apakah pesan kebenaran yang penting dan yang dapat diungkapkan?

Kalimat “Firman telah menjadi daging” merupakan berita nyata yang paling menggemparkan dalam sejarah manusia! “Firman telah menjadi daging” berarti “Tuhan telah menjadi manusia!” Menurut budaya manusia, “Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?” Karena pada zaman kuno, budaya Ibrani, “firman/tao” adalah: sesuatu yang amat suci. Namun orang Yahudi tidak akan per-nah percaya bahwa manusia bisa disebut Tuhan dan tidak percaya Tuhan menjadi manusia. Menurut filsafat Yunani, ‘logos’ adalah asas penalaran/gagasan tentang manusia, yang tidak dapat dilihat oleh mata. Bagi kaum Gnostis, ‘daging itu dosa’ dan sangat tidak mungkin bagi Tuhan yang kudus untuk dipersatukan dengan daging. Ini membuahkan pemahaman bahwa Yesus hanyalah sebuah ilusi Kristus, bukan tubuh yang nyata.

Dalam budaya manusia yang berkembang, terutama di bidang iptek, manusia tampak lebih rasional, semakin tidak percaya dan tidak membutuhkan Tuhan. Hal ini menimbulkan kejahatan dan masalah manusia semakin banyak dan menjadi fenomena budaya masa kini: Materialisme, Rasionalisme, Utilitarianisme, Individualisme, Relativisme, Feminisisme, Empirisisme,Nihilisme, Hedonisisme, Mamonisme, Konsumerisme. Karena semakin banyaknya masalah & dosa di masyarakat modern, “inkarnasi” dianggap sesuatu yang mistis dan hari ini pemahan tersebut semakin buruk. Dalam kondisi inilah seharusnya mereka butuh Tuhan. Di sinilah bahwa kebenaran Allah yang diwahyukan kepada Yohanes, ‘inkarnasi’ melampaui budaya manusia; karena inkarnasi membawa anugerah dan kebenaran yang dibutuhkan manusia! Dan proses ini juga menunjukkan kemuliaan yang sesungguhnya! Tuhan dalam PL secara tidak langsung hadir kepada umat-Nya melalui ‘kemah pertemuan’ dan menunjukkan kemuliaan-Nya. Sekarang Allah, melalui Yesus yang berinkarnasi, menyertai umat-Nya secara langsung dan menunjukkan kemuliaan-Nya.

Kemuliaan ini bukan hanya pada banyaknya mujizat yang Yesus lakukan namun yang terpenting terkandung di dalam Yesus yang disalibkan. Inilah sebabnya mengapa Yesus berkata “Telah tiba saatnya, Anak Manusia dimuliakan,” (12:23) dan “Jikalau Allah dipermuliakan didalam Dia (Yesus), Allah akan mempermuliakan juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” (13:32); lalu “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu,supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” (17:1). Saat Yesus disalibkan, dalam rencana keselamatan Bapa, Yesus berkata, “Sudah selesai!” (19:30). Kemuliaan Yesus dan kemuliaan Bapa, telah menjadi kemuliaan bagi semua orang Kristen! Pengorbanan Yesus, melalui darah yang tercurah di salib adalah lambang kemuliaan Yesus yang tertinggi! Keselamatan yang ditunjukkan di kayu salib adalah: kasih karunia terbesar yang Yesus bawa kepada manusia! Kebenaran penebusan yang diwujudkan di salib adalah kebenaran terpenting bagi umat manusia! Cinta kasih kayu salib dikorbankan bagi orang berdosa dan semua musuh, melampaui cinta tertinggi dari budaya manusia. Cinta yang mengorbankan diri bagi semua sahabat!

“Firman yang menjadi daging” terpaku di kayu salib! Dia adalah Allah teragung dan tertinggi, Tuhan Maha Kuasa, Raja kemuliaan, Allah yang kudus, berinkarnasi dalam rupa bayi di palungan; menjadi Anak yang terbatas; menjadi Hamba yang hina; menjadi Anak Domba Allah yang dikorbankan. Akhirnya menjadi Juruselamat dan Tuhan bagi manusia dan dunia. Ini berarti Kristus menjadi terang bagi dunia yang gelap, harapan bagi kehancuran budaya. Respon kita adalah kita perlu mengikuti teladan inkarnasi Kristus. Kita perlu melihat di balik semua gemerlap budaya/tradisi: masih banyak orang miskin, menderita dan mengalami sakit-penyakit. Masih banyak orang berdosa dan menderita dibelenggu si jahat; mereka sedang menunggu pertolongan Juruselamat! Tuhan menantikan kita untuk menolong mereka! Kita disebut terang dan garam dunia. Tuhan ingin kita membawa harapan ke dunia ini! Meski demi menyelamatkan satu jiwa, Kristus mau mati untuk dia! Sesungguhnya, kita memerlukan inkarnasi Kristus. Kita perlu belajar untuk mengasihi Tuhan Allah, dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita! Mari kita sehati sepikir dengan Kristus dan memandang dunia dengan mata-Nya. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk mempraktekkan hal tsb dalam gereja, keluarga, pekerjaan, studi dan kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here