Pdt. Hendra G. Mulia – Minggu, 25 Maret 2018

Yohanes 18 : 28-40

Salah satu kalimat dalam Pengakuan Iman Rasuli berisi tentang Yesus menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Akan tetapi penderitaan Yesus tidak hanya terjadi ketika di bawah perintah Pontius Pilatus, karena penderitaan Yesus sejak dari awal—kelahiran sam-pai kepada kematian-Nya. Dalam Pengakuan Iman disebutkan “menderita di bawah peme- rintahan Pontius Pilatus” ini sebenarnya ingin menyatakan legitimasi dan fakta dari sejarah kematian Yesus. Bukti sejarah penderitaan Yesus dan sejarah penyaliban Yesus dapat dite-lusuri dari sejarah pemerintahan Pontius Pilatus.

Injil Yohanes sendiri mencatat cerita tentang penderitaan Yesus paling utama terutama minggu-minggu akhir penderitaan Yesus dari pasal 13 sampai selesai. Bagi Injil waktu Ye- sus yang paling penting dan krusial adalah dalam minggu terakhir di hidup Yesus. Dari pasal 18 yang telah dibaca kita melihat serangkaian penderitaan Yesus, di mana Yesus di-bawa ke hadapan Pontius Pilatus. Sebelum diadili ke hadapan Pilatus, Yesus telah dibawa ke pengadilan orang Yahudi dahulu. Jadi ada dua pengadilan yang dilalui oleh Yesus yakni pengadilan orang Yahudi (Hukum agama) dan pengadilan orang Roma. Hanya pengadilan Roma lah orang dapat diadili untuk dihukum mati. Maka dari itu Yesus dibawa ke hadapan Pilatus (pengadilan Roma).

Dalam pengadilan Roma inilah Yesus ingin orang Farisi dan petinggi-petinggi agama dan orang banyak untuk dihukum mati (disalibkan). Sebenarnya Pilatus menyatakan tiga kali bahwa Yesus tidak bersalah. Akan tetapi orang banyak terus mendesak Pilatus untuk me-nyalibkan Yesus. Akhirnya dalam desakan itu Pilatus mengajukan sebuah pilihan untuk memilih menyelamatkan Yesus atau Barabas (karena ada kebiasaan menjelang Paskah memberikan grasi kepada orang yang akan dihukum mati). Namun orang banyak saat itu menyatakan untuk memilih Barabas untuk diselamatkan, dan Yesus disalibkan. Kita melihat orang-orang banyak ini sudah terprovokasi untuk menyalibkan Yesus.

Ada satu pernyataan yang baik “Never underestimate the power of stupid people in large groups” (“jangan meremehkan kekuatan orang-orang yang bodoh dalam jumlah yang besar”). Pernyataan ini cocok dengan kejadian yang terjadi dalam sejarah penyaliban Yesus. Orang-orang banyak digiring dan dihasut untuk meneriakan pernyataan agar Yesus disalibkan dan dihukum mati. Padahal sebelumnya orang banyak ini mengelu-elukan Yesus dengan menghamparkan daun palem, jubah sambil mengatakan “Hosanna anak Daud” yang mengindikasikan orang banyak itu menyatakan Yesus itu adalah Mesias. Melalui orang-orang banyak yang “bodoh” dan gampang untuk dihasut akhirnya mereka menjerit-jerit menyatakan agar Yesus untuk segera disalibkan. Di waktu inilah terjadi “keputusan yang paling tidak adil” dan “hari dari matinya keadilan.”

Namun kita harus meyakini bahwa Yesus memang harus menderita dan mati di kayu salib untuk menebus kita yang berdosa. Dalam ketidakadilan pada saat itu pun Tuhan berkarya untuk menyatakan keadilan dan kasih-Nya kepada manusia yang berdosa untuk disela-matkan. Kiranya dalam minggu prapaskah ini kita mau hidup untuk Yesus yang telah ter-lebih dahulu mau mati untuk kita.

SHARE
Previous articleWarta, 25 Maret 2018
Next articleWarta, 01 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here