Ibrani 1:1-4; Ringkasan Khotbah Pdt. Hendra; Minggu, 13 Oktober 2019

Pendahuluan
Fakta bahwa adanya anak Tuhan yang pindah keyakinan sungguh menjadi perhatian tersendiri, dan yang paling bergumul dengan kenyataan ini adalah gembala sidang atau hamba Tuhan serta majelis suatu gereja. Perkara iman yang goyah dan berujung pada pindah keyakinan, bukan terjadi pada zaman sekarang ini. Jemaat penerima surat Ibrani juga mengalami tantangan demikian: ada jemaat yang goyah imannya, atau kembali kepada kepercayaan Yudaisme. Hal tersebut disebabkan karena adanya penganiayaan, pengajaran yang keliru, penyembahan kepada malaikat, ejekan karena janji kedatangan Tuhan Yesus yang belum terjadi. Sikap jemaat yang goyah dan gampang berubah ini tentu menimbulkan kegelisahan serta kepedulian bagi penulis bahkan geregetan lihat jemaat demikian, sehingga penulis menulis surat agar dapat menguatkan iman jemaat pada saat itu

Mengapa iman seorang anak Tuhan bisa goyah dan akhirnya pindah keyakinan? Tentu banyak alasan yang bisa kita berikan, namun satu alasan yang sangat penting dan mendasar adalah karena tidak memahami gambaran Kristus yang Agung.

“Bagaimana gambaran Kristus yang Agung yang perlu kita kenal ?

1. Yesus Kristus : Wahyu Khusus yang terakhir (1:1-2)
Bagaimana mengenal Allah yang tidak kelihatan? Allah telah memberikan wahyu umum melalui alam ciptaan, sejarah dan hati nurani manusia, tetapi semua wahyu umum ini tidak berbicara tentang solusi bagi dosa manusia.

Penulis Ibrani mengatakan pada zaman dahulu Allah telah berulang kali dan berbagai cara berbicara pada nenek moyang pembaca tersebut dengan perantaraan nabi. Lewat kurang le-bih 4000 tahun Allah sudah berbicara berulang kali melalu nabi-nabi yang ada. Di mulai dari manusia pertama kali Adam dan Hawa yang bersembunyi dari Allah ketika jatuh dalam dosa, manusia terus berusaha mengenal allah-allah dan menyembahnya seeprti membuat patung-patung, altar-altar penyembahan yang lengkap dengan ritual, doa dan mantera-mantera. Namun mereka tetap merasa terasing dari Allah yang benar

Melihat fakta demikian Allah yang berinisitif mengungkapkan siapa diri-Nya secara khusus melalui Firman yang disampaikan yang mencapai puncak dalam diri Yesus Kristus. Penulis Ibrani dengan jelas mengatakan Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaran Anak-Nya yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Ini sungguh jelas Allah katakan Yesuslah Wahyu Khusus yang terakhir.

Saudara sekalian, kalau Firman Tuhan menyatakan demikian, bahwa Yesus adalah Wahyu Allah yang terakhir untuk kita dapat mengenal dan berelasi dengan Allah, masih perlukah nabi setelah Yesus? Tentu tidak.

Di dunia kesehatan, kita kenal second opinion tetapi dalam hal iman, pengenalan akan Allah yang benar melalui Yesus Kristus, tidak perlu cari second opinion.
Melalui apa yang dinyatakan penulis Ibrani seakan berkata :

    • Yesus, Juruselamat kita, telah menyucikan kita dari dosa kita, dan tiada yang lain yang bisa menyucikan kita.
    • Yesus yang termulia dan kita tidak memerlukan perantara yang lain,
    • Yesus imam besar pembela kita, sehingga kita tidak perlu imam-imam lain, apalagi manusia yang mengaku diri sendiri sebagai imam.

2. Yesus Kristus : Juruselamat dan Tuhan kita (1:3-4)
Apa masalah terbesar dalam hidup manusia? Apakah pencarian jati diri? Kemiskinan? Pekerjaan? Masalah terbesar manusia: DOSA. Kejatuhan manusia pertama: Adam, mengakibatkan semua keturunan Adam berdosa (Roma 5:12) dan jatuh di dalam kuasa maut (5:15). Efek dosa pada manusia: gambar dan rupa Allah pada manusia masih ada tapi sudah rusak dan tercermin dalam pikiran, pertimbangan hati dan sikap hidup yang tidak lagi seperti yang Allah inginkan. Bersyukur ada anugrah Allah yang dicurahkan melalui karya Yesus Kristus. Masalah terbesar manusia: dosa, diselesaikan di atas kayu salib oleh Yesus Kristus. Dalam Ibrani 1:3 dikatakan bahwa Yesus mengadakan penyucian dosa di atas kayu salib dengan kematian-Nya

Menarik untuk diperhatikan bahwa penekanan penulis surat Ibrani ialah bahwa setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat. Pengertian “duduk di sebelah kanan yang Maha besar” bukan berbicara posisi siapa yang tinggi atau siapa yang lebih rendah. Salah pengertian perihal posisi sebelah kanan mengakibatkan salah pengertian tentang Yesus Kristus. Jika demikian, apa maknanya ?

    • Pengorbanan Yesus sempurna dan diterima/diperkenan oleh Bapa
    • Puncak dari Keagungan, kemuliaan Yesus = Yesus kembali kepada persekutuan Allah Tritunggal
    • Yesus punya otoritas terhadap segala yang di surga dan di bumi (Mat. 28:18)
    • Yesus memerintah atas semua ciptaannya termasuk semua umat tebusannya.

Menarik juga, bahwa dalam Kisah Stefanus yang mati Martir pada Kis. 7:56, Stefanus berada pada situasi kritis dan ia menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Yesus bukan duduk tetapi berdiri, yang berarti Yesus menjadi pembela orang percaya. Yesus menguatkan Stefanus, sampai ia dapat berkata seperti Yesus: Ya Tuhan terimalah rohku…. Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka. Stefanus dimampukan, dilayakkan dan dikuatkan Tuhan sampai akhir hidupnya.

Ya, Yesus bukan hanya sampai mengadakan penyucian dosa, tetapi masih aktif memerintah dunia sampai sekarang ini, Ia aktif memperhatikan kehidupan umat tebusan-Nya, termasuk setiap keputusan, perasaan, sikap dan tindakan kita.

Berdasarkan penggambaran Yesus yang adalah Juruselamat kita dan Tuhan kita, pemilik dan pemerhati hidup kita yang berkuasa, berotoritas dalam hidup kita, maka seharusnya kita dapat berkata: Christ is Enough (Kristus cukup bagiku), bahkan lebih dari cukup, karena Kristus segalanya bagi hidup orang percaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here