Efesus 3:14-21; Ringkasan Khotbah Ev. Esther G. Sulistio; Minggu, 07 Juli 2019

Charles H. Spurgeon pernah mengatakan: “Persekutuan doa adalah urat nadi gereja mula-mula. Doa adalah kekuatan yang menopang kehidupannya. Mungkin sangat akurat jika kondisi gereja diukur dengan persekutuan doanya. Kita dapat melihat pekerjaan ilahi dengan melihat seberapa sungguh gereja tersebut berdoa. Jika Tuhan dekat, artinya gereja itu berdoa. Jika tidak, salah satu penyebab fatal ketidakhadiran-Nya adalah kemalasan gereja dalam berdoa.” Dengan kata lain, gereja yang bertumbuh dan sehat ditopang oleh jemaat yang setia berdoa. Jika kita mau melihat pekerjaan Ilahi bekerja lebih dahsyat bagi gereja maka perlu lutut-lutut yang berdoa.

Rasul Paulus, selain seorang yang giat menginjili dan mengajar, ia juga adalah rasul yang berdoa. Surat-suratnya bukan sekedar ‘sound of docrine’ namun juga ‘sound of prayers.’ Hal ini menunjukkan dirinya sebagai seorang pelayan yang holistik dan dewasa dalam kerohanian. Doa-doa Paulus memberi penekanan kepada dua hal: kepada pelayanan penginjilannya, agar ia diberi keberanian dalam menginjili, dan kepada orang-orang kudus atau percaya yang ia layani, bagi pertumbuhan iman, hikmat, kekuatan iman, kesatuan dalam Roh, agar kehidupan mereka layak atau sepadan dengan panggilan mereka sebagai orang-orang yang telah diberi kasih karunia.

Efesus 3:14-21 adalah ‘doa Paulus’ yang ke-2 (yang pertama dicatat di Efesus 1:15-23), ia tulis dari dalam penjara. Paulus berdoa bagi gereja atau orang-orang yang sudah percaya di Efesus mengingat tantangan yang harus jemaat hadapi. Tantangan yang pertama berasal dari penduduk kota Efesus. Bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis dan pusat penyembahan berhala. Penduduk Efesus juga rusak secara moral karena banyak pelacuran, penyembahan berhala, serta kondisi keluarga-keluarga yang tidak berfungsi. Dalam konteks yang sulit seperti itulah jemaat Efesus harus berjuang mempertahankan iman mereka. Tantangan lain datang dari dalam jemaat Efesus itu sediri. Mereka terdiri dari golongan Yahudi dan non Yahudi. Paulus mengingatkan jemaat disana jika di dalam Kristus mereka tidak lagi dua golongan melainkan satu di dalam Kristus. Tidak ada lagi dua cara keselamatan, melainkan hanya melalui penebusan Kristus. Kepada gereja yang mesti bersatu inilah Paulus berdoa agar mereka:

    1. Mengalami kuasa Allah: Allah mengutus Roh Kudus menguatkan, meneguhkan dan masuk ke dalam batin, dan juga mengutus Kristus ‘diam’ di dalam hati orang percaya. Ini menunjukkan dua hal: pertama bahwa Roh Kudus dan Kristus adalah pemilik hidup kita, tinggal permanen di dalam diri kita, kedua bahwa ada kepastian keselamatan di dalam Kristus. Tujuannya supaya kita mengalami kepenuhan Allah.
    2. Mengalami kasih Kristus: kalau kita berakar dan berdasar dalam kasih Kristus, maka kita akan menjadi seperti pohon atau bangunan yang kokoh sehingga kita akan memahami keluasan kasih Kristus.
    3. Memuliakan Allah: ketika kuasa Allah memenuhi hidup kita dan kita telah berakar juga bertumbuh di dalam Kristus maka buah iman yang timbul dari diri kita akan memuliakan Allah (nampak secara holistic: pemahaman dotrin, spiritual, karakter.

Doa yang indah ini, sangat tepat juga menjadi doa bagi GKKK Malang yang kita kasihi ini. Agar sebagai jemaat kita sungguh-sungguh menjadi ‘murid Kristus’ dan bukan sekedar menjadi ‘orang Kristen.’ Jemaat GKKK Malang perlu untuk menjadi jemaat yang berdoa agar gereja ini bertumbuh dengan sehat. Gereja yang sehat adalah ketika semua jemaat tidak lagi berkata: ‘Apa yang gereja ini bisa berikan buat saya?’ namun sebaliknya berkata: ‘Apa yang bisa saya berikan buat gereja?’ Hal indah yang bisa kita berikan adalah doa-doa kita, sebagaimana doa yang indah yang diucapkan oleh Paulus kepada gereja di Efesus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here