Ev. Lily Efferin – Minggu, 13 Mei 2018

Para ibu zaman “now” menghadapi tantangan yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipikirkan guna menjaga dan merawat keluarganya, terutama anak-anaknya: seperti masalah kesehatan, pendidikan, pergaulan dan masa depan. Satu hal yang utama yang mesti menjadi perhatian para ibu, secara umum para wanita, adalah: wanita harus menghidupi perannya sesuai dengan panggilan Ilahi. Dalam Kejadian 2:18 Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kata Ibrani yang digunakan dalam kata sepadan: ezerk’enegdo. Kata ini mengandung pengertian bahwa wanita atau para istri harus mampu menghayati,
menggali, mengembangkan kapasitas dirinya sebagai penolong yang tepat bagi suaminya, supaya sang suami mampu berperan dengan baik sebagai imam atau kepala rumah tangga sesuai dengan Firman Tuhan.

Wanita dikatakan sebagai permata, adalah wanita yang sepanjang hidupnya mengalami proses pembentukan yang luar biasa (sebagaimana pembentukan batu permata), sehingga ia timbul bagaikan permata. Dalam Amsal 17:25 dikatakan bahwa “Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.” Di ayat 25 dikatakan bahwa “Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.” Seorang wanita yang digambarkan dalam Amsal ini adalah wanita yang energik, pekerja keras, kuat dan memiliki kebanggaan akan perannya, serta wanita yang tidak khawatir dan takut akan masa depannya. Semua itu terjadi bukan dengan cara instan, namun melalui proses yang keras dan panjang, yang dilalui dengan ketundukan kepada Kristus dan Firman-Nya.

Bagaimana seorang wanita dapat berhasil timbul sebagai permata dalam perjalanan
hidupnya? Memiliki karakter sekaliber permata? Ada 4 hal yang harus diperhatikan :
1. Konsisten untuk terus berkoneksi dengan Tuhan
2. Berespon secara positif
3. Keterbukaan untuk belajar
4. Rindu bertumbuh dalam komunitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here