Efesus 4:26-27 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Benny Solihin; Minggu, 28 Juli 2019

Dalam hidup kita banyak hal yang dapat membuat kita tidak bersukacita ketika bangun pagi. Ada hal-hal yang membuat kita marah. Anak-anak ribut, tetangga berisik, suara kendaraan yang distarter. Kita juga bisa marah ketika kita tidur tetapi pintu kamar dibuka tutup begitu keras. Di kantor banyak juga hal yang dapat membuat kita marah. Banyak sekali hal yang dapat membuat kita kesal dan marah.

Yang jadi pertanyaan, apakah kita boleh marah? Boleh. Jika kita membaca Alkitab, Tuhan pun bisa marah, tetapi bukan pemarah. Kepada Salomo, Tuhan bisa marah ketika Salomo menyembah berhala yang disembah oleh 700 orang dari bangsa lain menjadi istrinya. padahal ia sudah diberikan hikmat oleh Tuhan. Tuhan Yesus pernah marah ketika bait Allah digunakan untuk berjualan: seharusnya itu tempat untuk orang-orang percaya yang bukan Yahudi berbakti.

Yang pertama harus kita lihat adalah mengapa Tuhan marah? Tuhan marah karena ketidakbenaran yang dilakukan oleh umatnya, inilah yang disebut dosa. Ia sensitif terhadap dosa. Ia tidak ingin umatnya berjalan di dalam kekotoran dosa, sehingga Ia marah karena ingin umatnya menjadi baik dan bisa hidup benar.

Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dalam ayat-ayat ini.
1. Marahlah bukan demi kepentingan diri sendiri tetapi karena ketidakadilan dan ketidakbenaran yang terjadi

Paulus memberitahu kepada kita untuk boleh marah tetapi bukan demi kepentingan kita, tetapi ketika melihat ketidakbenaran atau ketidakadilan yang terjadi di depan kita. Inilah hal yang jarang terjadi, kebanyakan kita marah karena urusan kita pribadi. Seperti contohnya Abraham Lincoln begitu marah karena melihat ada manusia hidup diperbudak oleh manunsia lainnya. Martin Luther King Jr. marah ketika menyaksikan tindakan diskriminasi. Mereka marah karena ada kepentingan umum yang harus diperjuangkan dan bukan kepentingan sendiri.

Jika kita melihat ketidakbenaran dan ketidakadilan di depan kita dan kita tidak marah, justru harus dipertanyakan. Marahlah ketika anak kita berlaku tidak sopan kepada orang tua. Tidak mungkin kita membiarkan anak 5 tahun menendang mamanya, di masa dewasanya ia bisa saja menjadi orang yang menganiaya orang lain jika kita hanya diam. Kita juga salah ketika di dalam gereja kita melihat banyak hal yang tidak beres tetapi kita tidak marah. Marah tentunya tidak dengan emosional (berteriak-teriak, atau meledak-ledak, dll), sehingga kita harus marah untuk mendatangkan kebaikan.

Jika kita bisa mulai menegur ketidakbenaran yang terjadi di rumah tangga kita dengan benar pasti akan mudah membuat kita mempraktekannya dalam gereja. Jika di dalam rumah tangga hal itu sulit untuk dilakukan, maka kita akan menjadi orang yang sulit untuk melihat ketidakbenaran dan ambil bagian dalam memberikan teguran dan masukan, kita akan menjadi orang yang cuek. Jadilah jemaat yang punya rasa memiliki yang mau marah ketika melihat ketidakbenaran dalam gereja untuk membangun komunitas ini.

Kita juga harus berhati-hati ketika marah yang benar sudah menjadi marah yang tidak benar. Hati-hati karena sebentar lagi kita akan masuk ke dalam dosa. Misalnya, saran kita untuk membangun tidak pernah diterima maka kita akan menjadi marah kepada orang-orang yang selalu menolak saran kita. Kita harus terus kembali kepada alasan terpenting kita harus marah, bukan demi kepentingan diri sendiri karena tidak dianggap.

2. Cepatlah padam amarahmu sebelum iblis masuk dan membuat kita jatuh dalam dosa, Ijinkan Tuhan menolong kita.

Karena itu, rasul Paulus menyarankan agar kita tidak terlalu lama menyimpan amarah kita. Ia mengatakan bahwa janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu, seolah-olah matahari sedang menunggu untuk kita untuk reda dari amarah. Marah yang dibiarkan akan menjadi kebencian; jika kebencian tinggal lama maka akan mungkin menjadi dosa.

Ketika kita memperpanjang kemarahan kita, itulah kesempatan iblis bisa masuk. Ketika iblis sudah masuk, semua akan menjadi kacau balau. Iblis membuat kita tidak mampu mengendalikan kemarahan kita. Sehingga sebetulnya sulit bagi kita untuk dapat menahan kemarahan kita untuk tidak jatuh dalam dosa. Tetapi anugerah Tuhan yang membuat kita menjadi manusia baru yang memungkinkan kita mengendalikan kemarahan kita sehingga kita harus mengandalkan Tuhan untuk bisa melakukan firman ini. Karena kita diberikan Roh Kudus untuk membimbing kita.

Jadilah umat Tuhan yang bisa marah karena ketidakbenaran dalam dunia, tetapi terus meng- andalkan kekuatan Tuhan agar kita dapat meredakan amarah kita dan tidak jatuh di dalam dosa sehingga iblis tidak memanfaatkan kesempatan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here