Yoh.4:31-34, par.5:17; 9:4; 14:2. Ringkasan Kotbah Pdt. Martin Tjen 曾祥锭

Bob Black berkata, “Tidak seorangpun yang harus bekerja!” Bekerja adalah sumber dari hampir semua kesengsaraan di dunia ini. (The Abolition of Work / penghapusan kerja, 1985). Karena hampir semua kejahatan berasal dari bekerja atau dunia yang dirancang untuk bekerja, jadi untuk menghentikan kesengsaraan ini, kita harus berhenti bekerja.” Tentu kita tidak setuju dengan pernyataan ini, bukan? Mengapa? Karena seseorang yang masih sehat/kuat/mampu maka ia harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan dirinya/keluarganya. Justu orang yang tidak mau bekerja, akan menimbulkan masalah bagi dirinya dan keluarganya. Lebih daripada itu, Firman Tuhan berkata, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2Tes. 3:10b).

Bekerja juga adalah sebuah aktivitas yang penting. Ada dua kata bahasa Tionghoa yang berbunyi, 活动(huódòng/live move) (活动,活动;人生要活动; 活着就要动; 若你不动;就可能你不能活: Huódòng- Huódòng; Rénshēng yào huódòng; Huózhe jiù yào dòng; Ruò ni bù dòng, Jiù kě néng ni bùnéng huó). Artinya: hidup bergerak; Manusia itu bergerak (bekerja); jika Anda tidak bergerak (bekerja); maka Anda sudah tidak hidup. Kalau begitu, tentu kita perlu tahu mengapa kita perlu bekerja? Apa yang harus kita dikerjakan dan apa tujuan kita bekerja? Lebih khusus lagi, “Apakah kita sudah bekerja seturut dengan kehendak Tuhan dan apakah pekerjaan kita sekarang, sudah memuliakan Tuhan?”

Mari renungkan!” Mengapa manusia bekerja ?
1. Bekerja adalah bagian hidup manusia sebagai gambar Allah memiliki beberapa sifat Allah, yaitu: Allah selalu bekerja (Yoh.5:17)
2. Bekerja a: Kehendak Allah (Kej.1:26, 28; 2:15; 3:17-19; 9:1- 2)
3. Bekerja adalah untuk kebaikan manusia (Kej.1:29; 2:16; 9:3)

Dapat disimpulkan bahwa perihal bekerja, di awal kitab Kej. 1:1-15, Allah digambarkan sebagai Pelaku utama penciptaan dunia. Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja selama 6 hari dan hari ke-7 Allah istirahat. Allah yang pertama kali melakukan pekerjaan di bumi; karena itu pekerjaan yang benar mencerminkan aktivitas Allah. Allah menciptakan manusia pertama menurut gambar dan rupa-Nya (Kej.1:26-31). Dia menciptakan manusia untuk bekerja bersama-Nya di dunia. Selain itu, Adam dan Hawa diperintahkan menaklukkan dan menguasai bumi. Inilah mandat Allah pertama bagi manusia untuk bekerja! Bekerja perlu dipandang sebagai bentuk melayani Allah dan tempat bekerja harus dipandang sebagai ladang misi Allah.

Jika kita perhatikan Yoh. 4:31-34; ada 4 kali kata ‘makan’ disebutkan, “Rabi makanlah” (31) “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” (32); “Adakah orang yang telah membawa se- suatu kepada-Nya untuk di makan?” (33); “Makanan-Ku . . .” (34). Ayat 31 dan33 sama dengan ayat 32 dan34 memiliki kata dasar yang sama (ay. 31 phage; ay. 32 brosin; ay. 33 phagein ; 34 brôma). Dari ke-4 ayat dalam Yoh. 4:31-34; kita melihat ada 2 kata yang saling berkaitan erat, yaitu “makan dan bekerja.” Secara jasmani, ketika seseorang makan maka ia mendapat tenaga/kekuatan fisik yang kuat untuk bekerja. Secara rohani, ketika seseorang mengerti makanan rohani yang ia butuhkan; maka ia akan memiliki iman dan kerohanian yang sehat/kuat. Dengan iman dan rohani yang baik maka ia akan mengerti apa yang harus/perlu ia lakukan dan ia akan mampu bekerja mengerjakan pekerjaaan yang sesuai dengan kehendak Allah. Seperti kata Tuhan Yesus, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yg mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yoh.4:34)

Apa yang kita perlukan dilakukan, agar kita dapat menyelesaikan pekerjaan-Nya?
(1) Kita harus mengenal siapa Empunya pekerjaan itu.
Yang Empunya pekerjaan itu adalah Allah Bapa. Namun apakah kita sdh mengenal Dia se- sungguhnya. Apa yang kita ketahui tentang Allah? Bagamana pengenalan kita kepada Allah? Seperti apakah posisi Allah dalam hidup kita? Ketika Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Makanan yang tidak dikenal murid-murid adalah: “makanan rohani.” Hal ini ingin mengungkapkan apa yang telah Yesus lakukan untuk perempuan Samaria. Saat itu para murid memang tidak mengenal apa yang Tuhan Yesus lakukan. Namun seiring berjalannya waktu murid-murid bersama Yesus; maka mereka semakin lama semakin mengenal siapakah Yesus yang telah memanggil mereka dan mereka mengenal “makanan” yang ada pada Yesus. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita mengenal sang Empunya pekerjaan itu? Sudahkah kita mengenal “makanan” yang ada pada Yesus/makanan rohani yang sesungguhnya ada pada diri Tuhan Yesus. Ketika kita telah mengenal Tuhan Yesus, maka kita dapat menikmati makanan yang ada pada-Nya, yaitu tubuh-Nya; hidup-Nya dan segala apa yang ada pada-Nya, itu artinya, tidak ada satu halpun yang tidak Yesus berikan kepada kita. (Yoh.6:51 b, 53, 54-59)

(2) Selain kita harus mengenal sang Empunya pekerjaan itu; kita perlu mengenal dan melakukan pekerjaan-Nya. Sudah tentu bahwa pekerjaan itu sesuai dengan kehendak-Nya atau keinginan-Nya. Ketika Allah berinkarnasi menjadi manusia, Ia pun bekerja berkeliling mengabarkan Injil, mengajar, melakukan mujizat/kesembuhan, dll. Allah selalu bekerja dan terus melakukan pekerjaan (Yun.: ἔργον- Ergon); inilah landasannya. Tuhan Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun (Yesus) bekerja juga (Yoh. 5:17b). Jika kita perhatikan Yohanes mulai pasal 1 dan seterusnya, dapat disimpulkan pekerjaan Allah di dalam diri Tuhan Yesus, “Mengasihi, Melayani, Mendoakan, Menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang.

Bagi Tuhan Yesus, melakukan pekerjaan yang dikehendaki Bapa adalah: bagaikan makanan bagi-Nya (Yoh. 4:34; 5:36). Tuhan Yesus berhasil menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tugaskan kepada-Nya di bumi (Yoh. 17:4); dan. puncaknya, ketika Yesus tergantung di kayu salib. Ia berkata, “Tetelestai!” (Sudah Selesai [Yoh. 19:30]). Tuhan Yesus menuntaskan dengan sempurna pe-kerjaan-Nya (Mission Complete). Dari skala 1–9, seberapa sering kita melakukan pekerjaan yang sesuai keinginan Bapa? Dan seberapa sering kita hanya melakukan pekerjaan yang sesuai de-ngan keinginan kita? Bisakah dalam pekerjaan yang kita lakukan setiap harinya, apapun profesi kita (pelajar, mahasiswa, karyawan; pedagang, buka warung/toko, arsitek, dokter, pengacara, ibu rumah tanggah, bisnisman); kita sekaligus dapat melakukan pekerjaan Bapa? Tentu bisa, karena sebagai anak Tuhan; hidup kita bukan milik kita; tetapi milik Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang kita lakukan dalam segala bentuk pekerjaan kita seharusnya mencerminkan pekerjaan Bapa yang ada dalam diri kita. Jika kita sungguh mengenal siapa Empunya pekerjaan dan kita tahu pekerjaaan Bapa dalam hidup kita; maka dalam segala aspek hidup dan pekerjaan kita akan dimampukan untuk mengasihi, melayani, mendoakan dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. “Teruslah bekerja melakukan pekerjaan Bapa.” Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here