Efesus 4:1-6; Ringkasan Khotbah Ev. Matius Siswanto; Minggu, 14 Juli 2019

Gereja dipanggil untuk membawa damai bagi dunia ini. Namun sangat disayangkan banyak sekali konflik terjadi di gereja-gereja. Bahkan tidak sedikit konflik itu berujung pada perpecahan. Kondisi gereja yang kacau seperti inilah yang pernah di kuatirkan oleh Paulus terjadi dalam jemaat yang dilayaninya. Salah satu gereja yang mempunyai potensi timbulnya perpecahan adalah gereja di Efesus. Memang dalam surat Efesus ini tidak terlihat indikasi adanya perpecah- an. Tetapi dalam perkembanganya konflik ini muncul. Hal ini dapat kita lihat surat Tuhan Yesus yang ditulis oleh Yohanes untuk jemaat di Efesus dalam kitab Wahyu (Lihat Wahyu 2:1-7)

Di satu sisi jemaat di Efesus begitu giat melayani, tetapi disisi lainnya dalam menangani permasalahan yang ada tidak lagi berdasarkan nilai-nilai kekristenan. Emosi dan mau main hakim sendiri yang mereka tonjolkan sehingga mereka kehilangan kasih yang mula-mula. Untuk mencegah terjadinya konflik yang berdampak adanya perpecahan, maka rasul Paulus jauh-jauh sebelumnya telah mengingatkan mereka supaya:

BERPADANAN DENGAN PANGGILAN (EFESUS 4:1-2)
Tidak bisa dipungkiri bahwa gereja sejak awal didirikan bukan untuk golongan tertentu. Tetapi terbuka untuk umum. Siapapun dari latar belakang bangsa atau suku bangsa manapun bisa masuk di dalamnya.

Demikian juga ketika Allah memanggil Abraham dipanggil, supaya melaluinya bangsa-bangsa di muka bumi ini mendapat berkat (Lihat Kej 12:2-3)

Demikian juga dengan jemaat di Efesus; anggotanya terdiri dari orang-orang Yahudi, dan non Yahudi. Semakin banyak budaya yang melatar-belakanginya, maka semakin besar juga potensi konflik yang ditimbulkannya. Karena itu gereja dan pelayanan tidak boleh dilandasi latar belakang budaya, tetapi harus berpadanan dengan panggilan itu. Berdasarkan Efesus 2:19-22, maksud dari Panggilan itu adalah: Kita dikuduskan dan dijadikan anggota keluarga Allah, se- hingga kita bisa melakukan perbuatan perbuatan yang baik.

Contoh nyata dari kehidupan yang berpadanan dengan panggilan itu adalah Paulus sendiri. Sebelum percaya Tuhan Yesus, dia melawan Tuhan Yesus. Tetapi setelah ia berjumpa dengan Tuhan Yesus, dasar hidupnya adalah kehendak Tuhan Yesus (Lihat GALATIA 2:20).

Bagaimana dengan hidup kita? Apa tutur kata kita, tingkah laku kita, pikiran kita semua sepadan dengan panggilan itu?

MEMELIHARA KESATUAN ROH MAZMUR (Efesus 4:3-6)
Rasul Paulus menyadari, bahwa sekalipun jemaat Efesus mempunyai komitmen untuk hidup berpadanan dengan panggilan itu, namun tidak ada jaminan bahwa mereka akan tetap setia pada komitmen itu. Selama manusia masih hidup dalam daging ini, manusia penuh dengan kelemahan. Hari ini bisa begitu giat melayani, belum tentu besok masih mempunyai sema- ngat yang sama. Tuhan Yesus berkata “roh memang penurut tetapi daging itu lemah”. Contoh; setelah Petrus dengan lantang akan tetap mengikut Tuhan Yesus sekalipun murid lain meninggalkannya, tetapi tidak lama berselang Petrus menyangkal Tuhan Yesus.

Hal yang sama sangat mungkin bisa terjadi pada jemaat Efesus. Karena itu Paulus menging- atkan “BERUSAHALAH MEMELIHARA KESATUAN ROH”. Manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia memerlukan orang lain. Dengan adanya kesatuan Roh, maka jemaat satu dengan yang lain bisa saling mengingatkan dan saling menopang. Hal itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Kenapa Tuhan Yesus pada waktu hendak di Salib Ia berdoa kepada Bapa yang di Sorga? Karena Bapa memiliki kesatuan yang sangat kuat dengan Tuhan Yesus. Kesatuan yang sangat kuat ini sangat dibutuhkan apalagi dalam menghadapi saat-saat yang sulit. Dalam keberadaan-Nya sebagai manusia Tuhan Yesus sangat gentar menghadapi salib itu. Tetapi setelah Tuhan Yesus selesai berdoa untuk yang ketiga kalinya Dia mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Dia sekarang dengan tegar siap menghadapi salib itu. Kalau Tuhan Yesus adalah Allah yang sempurna membutuhkan kesatuan, apalagi kita. Kita sangat serius membutuhkan kesatuan Roh satu dengan yang lainnya.

Kesatuan Roh selain menghasilkan kekuatan yang yang luar biasa, hal itu juga akan bisa menghasilkan keindahan yang luar biasa. Rasul Paulus mengatakan dalam ayat 16 bahwa anggota tubuh yang terikat dalam kesatuan itu akan “tersusun rapi”. Sesuatu tersusun rapi itu akan tampak indah. Keindahan inilah yang menjadi daya tarik jemaat mula-mula, sehingga orang-orang yang ada di sekitar mereka menjadi tertarik untuk bergabung dengan mereka(Kisah Rasul 2:47).Keindahan dari kesatuan umat itu juga di akui oleh pemazmur (lihat Mazmur 133:1). De-ngan kesatuan Roh maka Yang besar menopang yang kecil sehingga bisa berdiri bersama. Yang kecilpun ternyata bisa mempunyai peranan yang besar dalam menjaga keseimbangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here