Markus 5:1-20; Ringkasan khotbah Ev. Jemmy Waroka

Istilah “kasih” bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Untuk mengasihi, maka harus ada unsur-unsur penting yang menunjukkan bahwa kita mengasihi, misalnya kesediaan untuk “memprioritaskan yang kita kasihi” dan kita “rela berkorban” baginya. Ujian terhadap “kasih” kita terjadi ketika kita berada pada beberapa pilihan: pilihan yang kita pilih menunjukkan apa yang kita kasihi.

Dalam perikop yang kita baca, kita akan belajar tentang apa yang Tuhan kasihi; tentang apa yang kita kasihi. Untuk dapat mengasihi apa yang dikasihi-Nya, maka kita harus mengetahui apa yang dikasihi-Nya.

1. Roh Jahat Diusir (ay. 1-13)
Dalam ayat 3-5 digambarkan tentang kondisi orang yang kerasukan tersebut. Orang yang dalam kondisi seperti termasuk dalam kategori “sampah mas- yarakat” yakni orang yang tidak diingini oleh masyarakat sekitarnya. Orang tersebut datang menemui Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus mengasihinya. Tuhan Yesus mengusir setan yang merasuki orang tersebut.

2. Yesus Diusir (ay. 14-17)
Dalam ayat 17 disebutkan bahwa “mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.” Mengapa mereka mengusir Yesus? Karena mereka mengalami kerugian materi yang sangat sangat besar. Tuhan Yesus mengizinkan setan-setan itu masuk ke dalam 2000 ekor babi dan babi-babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati. Jadi, mereka lebih menyayangi harta (babi).

Dalam kisah ini kita belajar untuk merenungkan tentang hati/kasih Allah bagi kita. Tapi kita juga diajak untuk merenungkan “apakah kita mengasihi yang Allah kasihi?” Tentu saja ini merupakan sebuah pergumulan yang tidak mudah untuk dihadapi, seperti yang terjadi pada para pemilik babi-babi (harta) itu.

Alkitab sangat banyak membahas tentang uang/harta: di mana hartamu berada, di situ hatimu berada; kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon; carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu; Tuhan Yesus menghargai persembahan janda miskin; dan kisah tentang orang muda yang kaya yang lebih menyayangi uangnya daripada mengikut Tuhan Yesus. Tuhan sedang mengingatkan kita untuk kita lebih mengasihi Allah.

Dari kisah ini, Tuhan Yesus sedang memberi sebuah pelajaran penting tentang harta dan jiwa: lebih mengasihi jiwa atau harta? Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa Ia lebih mengasihi jiwa, tapi manusia lebih mengasihi harta.

Ini merupakan pergumulan kita: apakah kita lebih mengasihi Allah dan jiwa-jiwa yang dikasihi-Nya ataukah kita lebih mengasihi harta kita? Jika kita mengasihi Allah, beranikah kita berkorban bagi jiwa-jiwa yang dikasihi oleh Allah? Beranikah kita memprioritaskannya?

3. Orang Waras “Diusir” (ay. 18-20)
Setelah disembuhkan, orang tersebut ingin mengikut Tuhan Yesus. Tapi Tuhan Yesus menolaknya. Sebaliknya, Ia memerintahkannya untuk kembali ke daerahnya dan rumahnya, dan menceritakan tentang apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidupnya. Tuhan Yesus mengutusnya untuk menjadi saksi-Nya: menceritakan kasih Allah.

Kita sudah mengalami kasih Allah dan Allah mengutus kita untuk menceritakan kasih-Nya itu kepada orang-orang di sekitar kita. Tujuan hidup kita bukan sekedar diselamatkan, tapi juga supaya kita memuliakan Allah.

Pertanyaan refleksi: mengapa kita tidak mau diutus?
Bisa jadi kita tidak memiliki pengalaman tentang karya dan kasih Allah. Atau, kita tidak mau meninggalkan kenyamanan. Atau, kita merasa takut bila kita mengalami tekanan dan perlakuan buruk dari orang lain. Atau, kita tidak tahu caranya (jika tidak tahu, maka kita perlu memperlengkapi diri dengan metode-metode penginjilan). Atau, kita tidak yakin seratus persen bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat (jika ini yang terjadi, maka kita perlu merenungkan lagi firman-Nya).

Mari kita bersama semakin bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih dan Pribadi Kristus. Dialah satu-satunya Juruselamat. Dialah Allah yang mengasihi kita. Kiranya pengenalan ini mendorong kita untuk mengasihi Allah dan jiwa-jiwa yang dikasihi-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here