Mazmur 128:1-6 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Fri Suhandi, 19 Mei 2019

Surga di telapak kaki ibu. Nah di telapak kaki Bapak apa? Neraka…? Ditelapak kaki seorang papa seharusnya ada JEJAK PAHLAWAN. Pahlawan seperti apa? Konsep umum mengatakan bahwa kepala keluarga yang hebat dan bertanggung jawab seperti pahlawan besar adalah yang banyak uang. Dengan uang dapat berikan suatu kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Dengan uang dapat simpan dana untuk anak-anak kita masuk ke Perguruan Tinggi. Dengan uang dapat meratakan jalan bagi masa depan anak-anak kita. Namun dalam kehidupan ini ada hal yang tak dapat dibeli dengan uang.

Siapakah yang dimaksud “setiap orang” dan “engkau” dalam Mazmur 128 ayat 1 dan 2? Kata setiap orang ini dalam bahasa aslinya ditulis sebagai kata benda dalam bentuk maskulin (all men). Juga kata engkau ditulis dalam jenis kata orang kedua maskulin tunggal. Bahkan Ayat 4 memberikan penjelasan pasti dengan menyebut orang laki-laki. Jadi yang dimaksud setiap orang dan engkau dalam ayat ini adalah laki-laki sebagai kepala rumah tangga/keluarga. Artinya berkat rumah tangga turun melalui kepala keluarga yang takut akan Tuhan dan hidup menurut perintah-Nya, bukan cuma yang pintar cari uang! Kepala keluarga ditentukan sebagai untuk menjadi saluran berkat Allah bagi istri dan anak-anaknya. Bukan karena banyak uang berkat itu turun kepada keluarga, tetapi karena berfungsinya KK sebagai seorang suami dan ayah sesuai rancangan Tuhan bagi mereka.

Konsep ini bukan memberi arti bahwa KK tidak usah bekerja. Ayat 2 menyebut kata hasil jerih payahmu! Menyiratkan bahwa suami harus bekerja karena bekerja sebagai suatu mandat Ilahi (Kej. 2:15). Bahkan Rasul Paulus mengatakan bahwa orang yang tidak kerja, jangan makan (2 Tesalonika 3:10). Jadi seorang kepala keluarga yang tidak bekerja sesungguhnya telah menghancurkan jati dirinya sebagai seorang laki-laki. Bekerja untuk cari nafkah adalah wajar dan alkitabiah, namun ketika kita hidup hanya untuk bekerja mencari uang maka hal ini menjadi tidak wajar sebab kita telah melewati batas kebutuhan mencari nafkah. Ketika kita terjerat sikap ini, maka semua waktu hanya dipergunakan untuk kerja akibatnya kita membuang tanggung jawab lainnya.

Hari ini Firman Tuhan memaparkan ada dua hal lain yang penting dan utama bagi kepala keluarga selain bekerja agar berkat Tuhan tercurah bagi keluarga kita.

I. Hidup Takut akan Tuhan
Maksud takut akan Tuhan adalah hidup beribadah (hormat, taat, dan kagum) kepada Tuhan. Singkatnya, berusaha senantiasa untuk membuat Tuhan tersenyum. Ketika seorang kepala ke- luarga menghadapkan dirinya kepada Allah, sesungguhnya ia juga sedang mewakilkan seluruh keluarganya kepada berkat Allah. Tuhan sangat memandang penting kedudukan seorang kepala/bapa dalam pandangan-Nya. Buktinya dalam sejarah keselamatan Allah memandang penting kepala umat dan mengangkat mereka di dalam perjalanan umat Allah, seperti: Musa, Yosua, para raja, dan puncaknya Yesus Kristus. Roma 5:19 menyatakan bahwa Adam berdosa sebagai bapa semua ras manusia sehingga semua manusia berdosa. Tetapi Adam kedua (yaitu Kristus) juga mewakili sebagai kepala semua ras manusia yang dibenarkan karena percaya (Kristus adalah kepala dari jemaat). Karena itu ketika mulut seorang KK mengucapkan suatu pengakuan, maka Tuhan memandangnya sebagai pengakuan seisi rumahnya. Walau mungkin di rumah itu ada istri atau anak-anak yang memberontak terhadap Tuhan, maka cepat atau lambat mereka akan ditaklukan oleh kuasa Tuhan karena pengakuan kepala keluarga itu. Jika kita ingin keluarga kita diberkati, maka selain bekerja jadilah kepala keluarga yang hidup takut akan Tuhan. Anda para Ayah dan Suami ditetapkan Allah untuk menjadi pemimpin dalam hal ini.

II. Hidup Menurut Jalan-Nya
Bagaimana mungkin seorang laki-laki sebagai kepala keluarga dapat lakukan itu jika tidak pernah berusaha belajar Firman Tuhan? Tugas ini tidak dapat dialihkan pada istri karena Pria adalah penerima langsung firman Allah (Kej. 2:15-17). Perintah paling utama saat itu dititipkan pada kepala keluarga, sehingga hal yang utama selain bekerja adalah memperhatikan dan menerapkan firman Allah dalam keluarga. Kepala keluarga harus setia baca dan belajar firman Allah serta mengajarkan pada keluarganya. Jangan cuma bisa bekerja. Firman Tuhan sangat penting bagi kehidupan kepala keluarga karena melalui inilah seorang kepala keluarga memiliki otoritas Ilahi dalam rumah tangganya. Otoritas ini bukan untuk digunakan sembarangan melainkan untuk membawa hadirat Allah hadir di tengah keluarga. Ketika hal ini hilang maka keluarga hancur (lihat Adam, Kej.3:6).

Kondisi sekarang banyak keluarga hancur bukan karena laki-laki kurang pintar cari uang tetapi karena banyak kepala keluarga yang kehilangan otoritas Ilahi karena telah membuang firman Allah dalam hidup mereka. Otoritas Ilahi sesungguhnya telah disediakan Allah bagi setiap kepala keluarga orang percaya, yaitu di dalam ketertaklukan hidup terhadap firman-Nya. Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. (Yohanes 14:23). Ketika otoritas Ilahi hadir dalam hidup kepala keluarga, maka dampak besar pasti terjadi bagi seisi rumahnya. Mazmur 128:3-4 mengatakan: Istrimu seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu dan anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu.

Kesimpulan
Berkat rumah tangga sesungguhnya telah Tuhan sediakan bagi keluarga kita asalkan setiap pemimpin rumah tangga bersedia menjadi saluran yang baik bagi keluarganya. Hai para Papa, jejak apa yang engkau buat di keluargamu…? Di bawah langkah hidup seorang kepala keluarga yang sejati seharusnya selalu terukir jejak telapak kaki seorang pahlawan iman bagi keluarganya. Caranya: berfungsi dalam tanggung jawab penting yang Tuhan taruh dalam diri kita yaitu hidup takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya. Jadilah seorang papa yang meninggalkan jejak hidup seorang pahlawan bagi istri dan anak-anakmu. Ukirlah jejak pahlawan yang berani berdiri di antara keluargamu dan tahta Allah. Hari ini bagi para Ayah, jika posisi kita sebagai suami/ayah penuh kelalaian dalam tanggung jawab ini, mari kita mohon ampun kepada Tuhan. Akui kelemahanmu di kaki salib maka Kristus yang adalah kepala jemaat akan memampukan kamu untuk menjadi kepala bagi jemaat-Nya yang terkecil yaitu keluargamu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here