1 Yohanes 4:7-21; Ringkasan Khotbah Ev. Bedjo Lie; Minggu, 25 November 2018

Tanda utama kita mengenal dan hidup di dalam Tuhan, bukanlah pengetahuan atau peng- alaman rohani kita, namun “kasih kepada Tuhan” dan “kasih kepada sesama.” Kita diajarkan, bahwa kasih bukan berasal dari inisitif atau komitmen kita, karena kita bukanlah orang-orang yang penuh dengan kasih. Kasih dimulai atau inisitif dari Allah. Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi kita (ayat 7, 8, 16). Sebelum segala sesuatu ada, kasih telah ada di dalam diri Allah Tritunggal dalam kekekalan. Allah adalah kasih maksudnya adalah bahwa kasih adalah esensi dari Allah itu sendiri. Bahkan murka Allah juga manifestasi dari kasih-Nya. Allah tidak bisa tidak mengasihi.

Kasih Allah dinyatakan bukan dalam kenikmatan dan keberhasilan hidup manusia, itu cuma sebagian dari manifestasi kasih Allah, bukan esensi utama dari kasih Allah tersebut. Kecenderungan manusia adalah memandang egois dan sepele akan kasih Allah, Allah itu kasih karena Allah ‘sekadar’ memenuhi kebutuhan kita. Lalu apa bukti kasih Allah? Bukti kasih Allah yang tertinggi dinyatakan ketika Ia mengutus Putra-Nya sebagai Juruselamat mati di salib bagi manusia (ayat 9). Kasih Allah bagaikan kasih seorang ibu terhadap anaknya yang selalu menangis dan meronta, namun ketika melihat sang ibu dengan sabar dan penuh kasih merawatnya, akhirnya sang anak mulai mengerti kasih sang ibu dan bertumbuh dengan baik.

Setelah mengenal kasih-Nya yang besar, maka kita juga harus saling mengasihi. Ini adalah respon kita terhadap kasih Allah. Kita bukan produsen kasih, tapi distributor kasih tersebut. Dua hal yang harus kita lakukan sebagai distributor kasih Allah:

1. Menjadi pekabar-pekabar Injil Kristus.
Dalam 1 Yohanes 1:2-3, Yohanes dan para murid adalah saksi mata Injil itu sendiri sehingga mereka menjadi pekabar Injil tersebut. Injil itu telah mengubah hidup mereka dengan radikal. Demikian pula hidup kita sebagai orang percaya, Injil itu telah mengubah kita secara radikal sehingga kita menjadi orang-orang yang digerakkan untuk menjadi pekabar Injil. Ini yang terjadi dalam diri para murid Kristus, terus menaburkan Injil dengan setia, salurkan kasih-Nya yang besar. Gereja harus menjangkau dan memuridkan banyak orang.

2. Menjadi penolong bagi sesama yang membutuhkan pertolongan kita.
Dalam 1 Yohanes 3:16-18, kasih itu harus diwujudnyatakan dengan saling menolong sesama yang membutuhkan. Dalam Yakobus 2:14 dan 17 dijelaskan bahwa iman itu harus dinyatakan dalam perbuatan. Jika ada sesama yang membutuhkan pertolongan kita wajib menolongnya. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati, tidak ada gunanya. Jika kita berkata bahwa kita sudah menjadi orang percaya namun kita tidak tergerak terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, maka kita perlu mempertanyakan kasih kita kepada Allah. Apakah kita sung- guh-sungguh telah menerima dan menghayati kasih Allah tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here