1 Petrus 2:11-17; 19-23; Ringkasan kotbah Pdt. Gindo Manogi

Salah satu tantangan yang dihadapi gereja mula-mula adalah fitnahan-fitnahan yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitar mereka, yakni orang-orang yang tidak mengenal Allah. Sebagai kelompok minoritas dan tidak memiliki kekuasaan, mereka tidak bisa melakukan pembelaan diri dan memberikan penjelasan tentang tuduhan-tuduhan yang disampaikan.

Pergumulan ini ditambah lagi dengan sebuah fakta bahwa sesungguhnya mereka sudah menunjukkan sebuah teladan hidup yang baik, tapi fitnahan (kata-kata yang buruk, tuduhan-tuduhan jahat) masih terus dilontarkan. Apakah masih tetap menunjukkan cara hidup yang baik (ketaatan kepada Allah) atau berhenti untuk melakukannya?

Berkaitan dengan hal ini, rasul Petrus memberikan nasehat kepada jemaat-jemaat pada waktu, “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (ay. 11). Sarannya adalah agar jemaat menjaga kekudusan hidup mereka walau pun dosa masih ingin bercokol dan menguasai diri kita. Kudus bukan hanya tidak melakukan dosa, tapi juga secara aktif melakukan kebaikan dan kebenaran.

Memang hal ini merupakan ranah hidup pribadi (privasi). Akan tetapi, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, perilaku dan perkataan yang terlihat berasal dari dalam hati. Karena itu, menjaga hati kudus sangat penting, bukan hanya untuk kehidupan rohani pribadi, tapi juga dalam kesaksian hidup di tengah masyarakat.

Hal itu yang dijabarkan oleh Petrus bahwa sebagai pendatang dan perantau di dunia ini (karena kewargaan kita bukan dari dunia ini), maka orang Kristen harus menunjukkan cara hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat. Cara hidup yang baik berawal dari sikap hati yang taat pada Allah, atau relasi yang akrab dengan Allah. Berkaitan dengan fitnahan yang disampaikan kepada orang Kristen, maka kita perlu bersikap bijaksana. Kita memohon agar Tuhan menolong kita untuk bisa mengendalikan diri dan tidak membiarkan kemarahan itu yang akhirnya mengatur dan mengendalikan diri kita.

Jika kita beroleh kesempatan untuk bisa menjelaskan secara verbal tentang fitnahan yang disampaikan, maka itu merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menjelaskannya. Namun, acapkali kesempatan itu tidak ada. Karena tidak ada, maka cara yang paling baik adalah dengan menunjukan cara hidup yang baik, sehingga, “…apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (ay. 12) dan dengan demikian, dapat “membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh” (ay. 15).

Di saat seperti ini, integritas/kekudusan hidup menjadi sesuatu yang sangat penting. Jika mereka memfitnah dan kita berhenti untuk menjaga integritas atau kekudusan hidup kita, maka dunia akan mentertawakan kita. Tapi, jika kita tetap menjaga integritas kita, maka hal itu bisa membuat mereka terdiam.

Menghadapi kenyataan seperti ini, timbul pertanyaan penting: mengapa orang Kristen harus bersikap demikian? Bukankah hal itu sesuatu yang merugikan? Petrus mengajarkan bahwa kita melakukan semuanya ini karena Tuhan. Kita menghormati Tuhan yang memberikan perintah tersebut, (ay. 13-14, “Tunduklah, karena Allah, …”). Jika kita memperhatikan konteks jemaat pada waktu itu, mereka difitnah dan dianiya, tapi Tuhan tetap memerintahkan mereka untuk menghormati pemerintah yang memperdaya mereka. begitu juga dengan rasul Paulus. Jadi, kita tetap menghormati orang yang memfitnah dan merugikan kita karena kita sedang belajar menghormati Allah yang memerintahkan kita untuk melakukannya.

Kita memiliki teladan yang sangat indah: teladan Tuhan Yesus. Perhatikan ayat 20-21, “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Dia tidak membalas caci maki dengan caci maki. Malahan, Dia menyatakan pengampunan dosa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya.

Tuhan Yesus sudah meninggalkan jejak yang sangat indah. Sebagai umat-Nya yang telah ditebus-Nya, hendaklah kita pun meninggalkan jejak-Nya di lingkungan di mana kita berada.

SHARE
Previous articleHati Raja di Tangan Allah
Next articleBakti Bagi Negeri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here