Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 26 November 2017
Kejadian 6:1-12

Kisah dalam buku Perjalanan Musafir menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Kristen. Diceritakan bahwa dalam perjalanan hidup ini, banyak sekali tantangan dan godaan. Hal ini mengingatkan kita dengan firman Tuhan bahwa kita berada di dalam dunia, tapi kita tidak berasal dari dunia. Karena itu, kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia. Ketika kita membaca kisah hidup Nuh, maka kita menemukan seorang yang melakukan perintah Tuhan ini.

Perhatikan keterangan yang diberikan oleh Alkitab: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya (ay. 9). Menjalani hidup yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang hidupnya bercela bukanlah sesuatu yang gampang. Karena sulit, maka ada orang-orang Kristen yang bersikap “mengikut saja” dengan arus dunia. Nuh tidak demikian. Tuhan menginginkan agar kita memiliki prinsip seperti Nuh ini: hidup benar di tengah-tengah masyarakat yang hidup dengan tidak benar.

Bagaimana keadaan masyarakat waktu itu? Dalam ayat 11-13, disebutkan: “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi….” Jika demikian, maka kita menemukan bahwa Nuh, sebagai minoritas, sangat sulit untuk tetap bertahan dan menjaga hidup berkenan di hadapan ketika berada di dalam masyarakat yang menentang Allah.

Bagaimana Nuh bisa menjalani hidup yang benar dan tidak bercela? Karena “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Hal ini bisa terjadi hanya karena anugerah Allah, dan anugerah Allah ini direspons Nuh dengan cara “hidup bergaul dengan Allah” (ay. 9). Hal ini seperti yang dilakukan juga oleh rasul Paulus, bahwa kasih karunia Allah yang diterimanya tidak disia-siakannya, tapi ia menggunakannya dengan sungguh-sungguh, dan ia “bekerja lebih keras” lagi untuk Tuhan. Itu sebabnya, Nuh menjalani hidup yang berkenan di mata Allah.

Keadaan yang kita alami sekarang ini juga sama. Kita berada di dalam dunia yang terus menerus menekan dan menyerang kita, dengan tujuan untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita. Kasih karunia Allah yang telah kita terima akan terus ada di sepanjang hidup kita, sehingga Tuhan akan memampukan kita untuk bisa menghadapinya. Karena itu, berjalanlah terus bersama dengan Allah. Bergaullah akrab dengan Dia. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here