Matius 9:35-38, Ringkasan Kotbah Pdt. Ferry Mamahit

Gereja atau komunitas Kristen seringkali dikritik karena tidak berdampak apa-apa bagi masya-rakat yang ada di sekitarnya. Penyebabnya bisa karena ada jarak antara gereja dan lingkung- annya, atau, karena orang Kristen terlalu sibuk di dalam gereja. JIka sudah demikian, bagaimana dengan panggilan untuk menjadi “terang dan garam dunia/di depan orang” (Mat 5:13) atau “pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus” (Mat 28:19-20)?

Persoalan ini juga dihadapi oleh para pembaca injil Matius, yang disebut komunitas Matius. Jika Injil ini ditulis pada 70-80 CE, ini berarti mereka sedang berada dalam masa-masa “perseku- si”/“penganiayaan” dari sesama orang Yahudi maupun penguasa Romawi (Nero [60]/Domitian [80-90], Paulus/Petrus ditangkap dan dieksekusi ([65]). Dalam keadaan seperti itu, pilihan murid-murid Matius yang paling masuk akal memang: “bersembunyi di balik tembok gereja, nikmati saja anugerah keselamatan/hidup kekal sampai Kristus datang untuk kedua kali.”

Karena ada kecenderungan ini, penginjil Matius menulis kisah Yesus untuk dibaca oleh para murid Kristus pada zamannya agar mereka tahu bahwa Tuhan mereka juga pernah mengalami hal yang sama. Ini adalah Yesus yang ditolak/di-bully oleh ahli Taurat/orang-orang Farisi (9:3, 11, 34; 12:14, 24, 38; 16:1-12), dan puncaknya, ketika Ia ditangkap, dihina, disiksa sampai mati di atas kayu salib. Ketika menceritakan tentang Yesus, peginjil Matius ingin agar para pembaca seharusnya belajar dari kisah Yesus bahwa: di tengah tekanan dan kesulitan, mereka tidak boleh menjadi pasif, tetapi sebaliknya, dapat menyatakan kemuliaan Allah kepada dunia di sekitar- nya. Mengapa demikian?

Karena di tengah situasi yang sulit, Yesus justru mau menjumpai orang-orang berdosa dengan berkeliling, mengajar, memberitakan Injil, dan melenyapkan penyakit dan kelemahan” (ay. 35). Ya Ia (terus sedang/imperfek) berkeliling di ruang publik melayani orang-orang yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ini berbeda dengan para Farisi dan pemimpin agama yang seharusnya menjadi “para gembala Israel” (bandingkan dengan sindiran Yesus kepada mereka dalam Mat. 12:9-14). Yesus adalah gembala Israel yang sejati yang telah dinubuatkan oleh para nabi terdahulu: “Dari Betlehem, akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel” (Mat 2:6; bdk. Mika 5:1), atau “Yahweh akan mengangkat satu orang gembala, yang seperti Daud, yang akan menggembalakan umat-Nya” (Yeh. 34:23; 37:24). Gembala ini yang tahu apa kebutuhan domba-domba-Nya yang terdalam.

Gembala ini memiliki keistimewaan: Ia mampu melakukan pelayanan yang membumi, menyentuh dan berdampak bagi orang-orang yang seperti itu karena belaskasihan (“tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan)”. Kalimat yang terdiri dari lima kata ini, dalam teks aslinya hanya satu kata: esplagchnisthei. Kata ini berasal dari sebuah kata benda Yunani splagchna atau “isi perut” (atau “jeroan”), yang bagi orang Yunani kuno menunjuk kepada perasaan hati (batin) yang paling dalam dan kuat. Ada perasaan batin yang dalam dan kuat ini yang menggerakkan/mendorong Yesus “dari dalam” untuk berbelaskasihan.

Kata “tergerak hati oleh belas kasihan” adalah kata yang unik, sebab dari semua pemunculan- nya dalam PB, khususnya dalam injil Matius, kata ini hanya dipakai untuk Yesus atau oleh Yesus dalam perumpamaan-Nya, dan itu khususnya dikaitkan dengan diri-Nya (14:14; 15:32; 20:34; bdk orang Samaria [Luk. 10]). Yesus selalu sebagai subjek dari kata kerja tersebut. Kata kerja ini tidak pernah dipakai untuk orang lain. Apa artinya ini? Belaskasihan adalah karakter dan natur ilahi yang unik, yang hanya dimiliki oleh Allah/Yesus secara eksklusif. Manusia hanya bisa merasa kasihan (“pity”), bersimpati (symphaty), atau paling jauh berempati (emphaty), tetapi tergerak hati oleh belaskasihan adalah sifat Allah yang eksklusif.

Gereja dan pelayanannya harus berdampak. Dampak itu hanya terjadi ketika ia menjadi saluran belas kasihan Allah di ruang publik. Ya hanya menjadi saluran-Nya, sebab kita tidak akan pernah bisa melayani seperti yang Yesus lakukan, melayani dengan hati yang mudah digerakkan oleh belas kasihan. Mengapa demikian? Karena kita tidak memiliki hati seperti hati Yesus. Paulus menjelaskan hal ini dalam Filipi 1:8, “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku merindukan kamu sekalian dalam “belas kasihan” (Yun. splagchnon) Kristus.” Paulus sadar perasaan belas kasihan yang terdalam bagi jemaat Filipi bukan berasal dari diriya sendiri, tetapi itu adalah milik Kristus. Ia hanyalah saluran belaskasihan Kristus.

Untuk tujuan menjadi berdampak dan saluran belaskasihan ilahi ini, maka Yesus memanggil murid-murid-Nya dengan berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (ay. 38). Jika Roh Tuhan melalaui firman Tuhan ini berbicara, maukah anda dan saya menjadi jawaban dari permintaan ini? Menjadi gereja yang pelayanannya berdampak di ruang publik, di tengah-tengah mereka yang lelah dan terlantar?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here