Ef. 2:11-22; Ringkasan Khotbah Pdt. Hendra; Minggu, 13 Juni 2019

15 Mei 2019 terjadi pertikaian yang cukup hebat antara sesama anggota gereja di sebuah gereja di Pekanbaru. Pendeta yang lama beserta pengikutnya merasa berhak beribadah di sana dan pendeta yang baru merasa sudah waktunya memimpin gereja tersebut. Perkelahian pun tidak terelakkan dan akhirnya ibadah menjadi bubar dan menimbulkan trauma-trauma tersendiri bagi jemaat. Kenyataan miris demikian tentu sangat di sayangkan terjadi. Namun kita juga menyadari di gereja manapun peristiwa yang sama bisa saja terjadi, bahkan di gereja kita yang kita cintai ini juga bisa saja terjadi.

Hal yang senada juga diamati oleh Rasul Paulus terhadap jemaat Efesus. Jemaat Efesus yang merupakan pencampuran dari orang Yahudi maupun non Yahudi yang kemudian percaya pada Kristus. Umat Yahudi menyadari keberadaan mereka sebagai umat pilihan Allah, sering meng- anggap bangsa non Yahudi merupakan bangsa yang tidak dipilih Allah. Kesadaran demikian membuat mereka memandang rendah bangsa non Yahudi, bahkan sekalipun non yahudi menjadi saudara seiman (kaum procelit).

Melihat kenyataan yang terjadi dan bibit-bibit negatif ini ada, maka Rasul Paulus memberikan nasehat menguatkan kaum non Yahudi dan mengajarkan jemaat Yahudi karya agung pendamaian Kristus yang mulia dan pentingnya menjadi pembawa damai.

Kita akan belajar 3 hal bagaimana menjadi pembawa damai dalam gereja maupun dalam relasi antar sesama orang percaya.

1. Ingatlah masa lalu kita tanpa Kristus (v11-13)

Ayat 11 di mulai dengan kalimat “karena itu ingatlah dahulu kamu….. Kalimat karena itu… tentu saja berkaitan dengan periokop di atasnya pasal 2:1-10 yang merupakan pesan Paulus bagaimana keselamatan itu semata-mata anugrah dan bukan jerih lelah manusia maupun perbuatan manusia.

Ketika menyadari bahwa keselamatan itu anugrah, bukan berarti kita tidak perlu mengingat lagi masa lalu tanpa Kristus. Paulus mengingatkan kembali orang non Yahudi tentang masa lalu tanpa Kristus untuk memahami relasi Yahudi dan non Yahudi. Seruan untuk mengingat ini serupa dengan seruan dalam kitab Ulangan kepada Israel utk mengingat masa perbudakan mereka di Mesir (Ul. 5:15, 15:15, 16:12, 24:18, 22). Seruan ini bukan sekedar mengingat fakta atau situasi tertentu, bukan juga hanya sekitar aktivitas mental, tapi seruan yang menunjukkan suatu evaluasi terhadap apa yang telah terjadi dan bertindak atasnya.

Paulus menekankan keadaan masa lalu yang tanpa Kristus, berarti tanpa segala janji yang disediakan bagi orang yang percaya pada. tanpa Kristus berarti tanpa segala berkat rohani yang disediakan bagi orang percaya.

Paulus juga mengingatkan orang non Yahudi tidak termasuk kewarganegaraan Israel, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dunia. Ibarat spiral yang semakin mendalam, maka hidup tanpa mengenal Allah, tanpa relasi dengan Allah di dunia ini bukankah menjadi hidup yang tanpa tujuan dan hanya menuju kepada kebinasaan.

Tujuan diingatkan masa lalu agar mereka benar-benar menghargai keselamatan yang Kristus berikan. Hak istimewa sekarang dinikmati semakin dihargai dan dinikmati jika merenungkan masa lalu bagaimana kondisi mereka yang belum diselamatkan.

2. Ingatlah karya pendamaian Kristus yang mempersatukan (v 14-18)

v 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan ke dua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah.

Ayat ini jelas mengatakan karya pendamaian Kristus bertujuan mempersatukan. Sebelumnya terdapat tembok pemisah Yahudi dan non Yahudi yaitu hukum Taurat. Dengan kematian Kristus, maka hukum Taurat dibatalkan. Terjemahan dari bahasa aslinya menjadi tidak efektif karena Salib Kristus telah melenyapkan perseteruan tersebut. Menarik ketika Paulus jelaskan Paulus menyatukan ke dua pihak bukan dengan mengubah Yahudi menjadi Non Yahudi atau meng-ubah Non Yahudi menjadi Yahudi.

Kristus melalui karya pendamaian mengubah ke duanya menjadi ciptaan yang baru – satu manusia baru. “satu” disini satu kesatuan / satu kelompok yang berbeda dari sebelumnya.

Ketika Tuhan menjadikan kedua pihak menjadi manusia baru, maka sebagai ciptaan baru, tidak lagi melihat fakta-fakta lahiriah sebagai hal yang utama, tidak lagi membanggakan diri melebihi yang lain. karena apa ? Karena status dihadapan Tuhan sama yaitu ciptaan baru. Jadi jemaat, kita yang sudah mengalami pendamaian dari Kristus, maka ingatlah karya pendamaian itu menyatukan kita dengan saudara seiman kita. Bukan membuat kita bentrok / bermusuhan apalagi membenci.

3. Ingatlah kita sama-sama anggota Keluarga Allah (v19-22)

Pada ayat 19 Paulus menekankan sekali lagi, bahwa kamu (non yahudi) bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota ke- luarga Allah.

Karya pendamaian Kristus membuat semua pihak menjadi ciptaan baru dan dimasukkan pada kumpulan orang kudus dan anggota keluarga Allah. Sebagai anggota Keluarga Allah, bukan berbicara status saja tetapi ada peran yang harus masing-masing anggota lakukan. Paulus menekankan bahwa sebagai keluarga Allah, harus mengalami pertumbuhan iman yang di- bangun di atas dasar para rasul dan nabi. Zaman sekarang kita memandang bahwa sebagai anggota keluarga Allah / anggota jemaat maka peran kita adalah mengupayakan pertumbuhan iman. Pertumbuhan iman bukanlah mutlak upaya kita, tetapi kerjasama diri kita dan Tuhan yang memberikan pertumbuhan. Kita terus mengupayakan segala sesuatu untuk bertumbuh

Ayat 22, terjemahan ESV : in Him, you also are being builth together.
sebagai anggota keluarga Allah, hal penting tentang pertumbuhan adalah Allah mendesain pertumbuhan iman itu dalam kelompok bersama-sama, bukanlah individu. Jadi di dalam kelompoklah terjadi saling ajar dan belajar. Maka Tidak heran jika gereja dengan kelompok kecil yang kuat akan cepat perkembangannya dan jemaat yang ikut kelompok kecil akan bertumbuh lebih cepat dan dewasa dibandingkan jemaat yang hanya datang 1 x seminggu beribadah.

Memahami kehidupan sebagai anggota keluarga Allah yang berjuang untuk bertumbuh, berarti memberi suatu ruang untuk menerima perbedaan dan proses pertumbuhan iman masing-masing. memberikan waktu bagi sesama anggota untuk berproses bersama Tuhan dalam pertumbuhan imannya.

Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here