Ringkasan Khotbah, Pdt. Soetjipto Notonegoro – Minggu, 24 Juni 2018

Saat kita mencari pegawai, asisten, atau bahkan teman kerja, tentu kita punya kriteria tertentu. Bisa saja itu berupa karakter, kemampuan kerja sama, kerajinan, ketekunan, kejujuran, kecakapan kerja, atau kriteria-kriteria lainnya. Bagaimana dengan Allah kita? Adakah kriteria-kriteria tertentu yang diharapkan-Nya dari kita sebagai hamba-hamba-Nya? Berkaca dari perikop di atas, ada beberapa kriteria yang perlu muncul dari diri kita selaku hamba-hamba-Nya, yaitu:

1. Seorang hamba yang senantiasa menyadari bahwa kesempatan untuk hidup bersama Tuhan dan melayani-Nya adalah kesempatan yang sangat terbatas.

Kepada pembaca suratnya, Petrus menuliskan bahwa “kesudahan segala sesuatu sudah dekat.” Bukan bermaksud untuk meramalkan tentang waktu kedatangan Tuhan tapi kepastian tentang hari itu. Setiap manusia akan menghadapi akhir kehidupannya, baik secara pribadi atau bersama–sama di akhir jaman. Karena itu kita sebagai hamba–hamba-Nya harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk hidup bersama Tuhan dan melayani-Nya dengan sebaik–baiknya.

2. Seorang hamba yang mendasari hidup dan pelayanannya dengan kasih yang sungguh–sungguh.

Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan orang untuk melayani. Petrus mendorong kita untuk melayani karena dasar kasih. “Kasihilah sungguh–sungguh” demikian pesannya. Bukan sekedar kasih yang basa–basi atau verbal, tapi kasih yang konsisten, yang tidak mudah berubah oleh situasi yang berubah, yang bahkan rela membayar harga yang mahal. Kasih yang demikian bisa “menutupi banyak sekali dosa,” yang artinya bisa berupa pengampunan yang kita tunjukkan kepada yang bersalah kepada kita, yang bahkan bisa mencegah seseorang dari perbuatan dosa yang akan dilakukannya. Kasih yang sedemikian akan berdampak besar bagi sesama.

3. Seorang hamba yang motivasi pelayanannya semata-mata adalah untuk memuliakan Tuhan.

Pada akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa kita hanyalah hamba-hamba Tuhan.
Kekuatan, kemampuan, dan bahkan kuasa kita untuk melayani datangnya dari Tuhan yang
adalah tuan kita yang memanggil kita untuk mengerjakannya. Karena itu satu–satunya mo
tivasi yang boleh muncul adalah untuk kemuliaan Tuhan semata. Bahayanya, motivasi cen-
derung berubah seiring jalannya waktu dan berbagai keuntungan yang bisa saja kita nikmati saat melakukan pelayanan. Pujian, popularitas, kuasa memerintah atau mengatur, keuntungan finansial atau materi, atau keuntungan-keuntungan lainnya bisa saja menyelewengkan motivasi kita dari kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Karena itu kita harus terus memeriksa hati kita dengan teliti untuk menjaganya dari motivasi yang menyimpang.

Dengan demikian, kita mempersembahkan diri kita sebagai penatalayan atau hamba – hamba Tuhan yang baik dan setia. Selamat melayani, Tuhan memberkati kita semua !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here