Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 10 Juni 2018

Ada banyak pandangan yang bisa muncul di benak kita ketika kita memikirkan tentang uang. Misalnya, uang bisa mengingatkan kita tentang jaminan masa depan, kekuasaan, prestasi, kehormatan, kesenangan, kerja keras, dan mendukung pekerjaan Tuhan. Dengan kata lain, orang bisa mempunyai pandangan dan sikap yang bermacam-macam mengenai uang. Bisa positif, tapi bisa juga negatif. Pada dasarnya, uang bersifat netral tapi tergantung pada orang yang menggunakannya. Dengan melihat pada konsep Alkitab, maka kita meyakini bahwa Allah memberikan uang dan berkat-berkat yang lain sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan bagi kita. Allah adalah sumber berkat dan Allah mengaruniakannya pada umat-Nya.

Akan tetapi, acapkali manusia tidak mengelolanya dengan bijaksana. Ada yang menggunakannya hanya untuk mencapai keinginan dan ambisi pribadi. Ada orang yang menggunakan uang untuk berbuat dosa. Ini sungguh ironis: berkat yang bersumber dari
Allah dipergunakan untuk melanggar hukum Allah.

Pesan Tuhan Yesus tentang Uang
Matius 6:19-24 adalah pesan yang sangat penting bagi kita tentang uang dan harta. Dalam ayat 21, disebutkan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. “Hati” dan “harta” memiliki kaitan yang sangat erat, dan tanpa kita sadari, kita telah menyimpan harta di dalam hati kita. Rasa kepemilikan dan rasa sayang yang sangat kuat di dalam hati kita.

Karena itu, melalui ayat ayat 22-23, yakni tentang mata yang baik dan mata yang jahat, Tuhan Yesus mau mengajarkan kepada kita tentang sikap yang benar tentang uang. Mata di sini memiliki pengertian tentang sudut pandang. Jika sudut pandang kita tentang uang benar, maka sikap dan tindakan kita pun akan benar pula terhadap uang. Tapi jika sudut pandang kita keliru tentang uang, maka sikap dan tindakan kita pun akan keliru terhadap uang. Kita akan diperbudak oleh uang. Kita mengejar uang untuk kepuasan diri kita sendiri.

Hal ini dipertegas lagi oleh Tuhan Yesus dalam ayat 24, yakni tentang mengabdi kepada
Allah atau kepada mamon. Kata “mengabdi” memiliki akar kata “doulos” yakni budak. Dengan kata lain, kata ini menyatakan sebuah kesediaan diri untuk diperhamba atau menghambakan diri kepada “seorang majikan” dan menuruti apa yang menjadi kemauan dari sang majikan. Jika kita melihat hirarki yang disebutkan Alkitab adalah Allah berada di tempat tertinggi, manusia sebagai wakil Allah untuk mengelola bumi berada di tengah, dan bumi berada di urutan terbawah. Jika kita mengabdi kepada uang/mamon, maka kita sebenarnya menaruh diri kita di bawah ciptaan yang lain. Kita melawan kodrat atau atur yang Allah tetapkan. Kita “mengabdi” kepada apa yang dipercayakan dan dikelola. Dengan kata lain, tatkala kita “mengabdi kepada Allah” maka kita menaruh diri kita di bawah Allah, dan memberikan otoritas penuh pada Allah untuk mengatur hidup kita, termasuk uang kita. Kita berupaya untuk melayani Tuhan, mencintai Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Uang bukanlah tujuan hidup, tapi Allah. Uang adalah sarana untuk mengerjakan apa yang Tuhan mau.

Di dalam 1 Timotius 6:10, rasul Paulus menyebutkan bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta kepada uang (bdk. Maz. 62:11; Pengkh. 5:9). Karena cinta itu, maka orang memburunya dan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dengan demikian, kita melihat bahwa uang bukan sekedar dicintai tapi sudah dipuja dan disembah. Uang dijadikan tujuan hidup.

Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya tentang uang dalam ayat 33 yang mengingat-
kan kita tentang keutamaan Tuhan dalam hidup kita, dan bukan uang. C. S. Lewis pernah menuliskan, “Jika kita mendahulukan hal-hal yang utama (primer), maka kita pun akan mendapatkan hal-hal yang sekunder. Tapi jika kita mendahulukan hal-hal yang sekunder, maka kita akan kehilangan keduanya, baik yang primer maupun yang sekunder.” Karena itu, utamakanlah Allah.

Apa yang harus kita lakukan?
1. Kumpulkan harta di surga, dan bukan kumpulkan harta di bumi.
Ayat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa orang Kristen tidak perlu bekerja, menabung dan menyimpan uang. Sebaliknya, ayat ini mendorong orang percaya untuk bekerja, dan itu seturut dengan bagian-bagian Alkitab yang lain.

“Mengumpulkan harta di surga” berarti kita melakukan perbuatan baik, salah satunya de-
ngan memberikan bantuan kepada orang lain. Agar kita bisa memberi bantuan kepada orang lain maka kita harus memiliki uang. Dengan demikian, kita harus bekerja dan menabung, sehingga kita bisa menggunakan uang dan harta tersebut untuk pekerjaan Tuhan, bukan untuk kepentingan diri sendiri.

2. Kelola keuangan dengan bijaksana.
Kita harus bisa membuat pengaturan keuangan (anggaran) secara bijaksana, sehingga seluruh keuangan yang kita miliki dapat digunakan dengan tujuan yang benar dan tepat. Ketika kita salah dalam penyusunan anggaran, maka kita bisa salah dalam penggunaannya. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah kita memberikan prioritas kepada hal-hal yang utama dalam kebutuhan dan kewajiban kita.

Saya berharap kita semua dapat menggunakan dan mengelola keuangan yang Tuhan per-
cayakan kepada kita dengan bijaksana. Berilah dirimu untuk dipakai oleh Allah menjadi saluran berkat. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here