Ev. Esther G. Sulistio – Minggu, 18 Maret 2018

Lukas 23 : 32-43

SIAPAKAH KEDUA PENJAHAT TERSALIB BERSAMA DENGAN YESUS?
Pertama. Mereka sedang menjalani hukuman mati (salib) dan berada di titik akhir hidup mereka. Yang biasanya menerima hukuman salib adalah mereka yang punya pengaruh be- sar dalam kepemimpinan Yahudi dan yang terbukti melakukan usaha pemberontakan terhadap pemerintahan Romawi. Hukuman salib juga dikenakan bagi para kriminal ber- bahaya, budak, penyamun kelas kakap yang ‘menjadi masalah’ bagi pemerintahan Romawi. Apalagi di daerah Yudea yang terkenal sering terjadi pemberontakan, penyaliban dipandang sebagai sebuah ajang efektif untuk meredam perlawanan terhadap pemerintah. Proses penyaliban yang dicatat dalam Alkitab adalah: cambuk, pengangkatan salib oleh si korban sendiri menuju tempat penyaliban, dipaku di kayu salib dengan tangan terbentang lalu dinaikkan hingga posisinya berdiri tegak vertical, diakhiri dengan pematahan tulang kaki untuk mempercepat kematian. Salib adalah proses hukuman mati yang kejam, menya-kitkan dan memalukan sepanjang peradaban manusia.

Kedua. Mereka menyaksikan dan mendengar hal yang sama tentang Yesus di atas salib. Mereka sama-sama menyaksikan cemooh dari para pemimpin agama dan para prajurit Romawi kepada Yesus, menyaksikan Yesus disalib di tengah-tengah mereka dengan tulisan di atas salib-Nya yang menjadi pembeda dgn mrk dan juga sebagai alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi,” mendengar teriakan dan doa Tuhan Yesus di atas salib.

Ketiga. Mereka berespon secara berbeda terhadap Yesus. Mat 27:44 dan Mrk 15:32 men- catat ”kedua” penjahat itu mencela Yesus namun dalam Luk (ayat 39) dicatat “hanya satu” penjahat yang menghujat Yesus. Lukas rupanya mencatat dengan lebih komprehensif, mungkin saja mula-mula kedua penjahat itu mencela Yesus namun akhirnya salah satu dari penjahat itu bertobat.

PENJAHAT YANG PERTAMA
Ia menghujat Yesus dengan mengatakan: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamat- kanlah diri-Mu dan kami.” Sebagai seorang Yahudi, ia tentu tahu konsep Mesias yang dijanjikan Allah melalui para Nabi, tapi yang ia ingat adalah Mesias yang akan datang sebagai Raja dan pembebas bangsa Yahudi dari kemiskinan dan penderitaan secara fisik.

Pada waktu ia berkata demikian, Ia menantang Yesus untuk membuktikan identitas diri dan menyatakan kuasa-Nya. Di penghujung hidupnya, ia tidak memiliki hati yang hancur, rasa bersalah, penyesalan, ataupun kerendahan hati. Kedegilan ini membuat dirinya hanya bisa melihat Yesus sebagai “kekuatan” yang “mungkin” bisa menolongnya lolos dari salib. Ia tidak bisa melihat Kristus sebagai Mesias mampu menyelamatkan jiwanya (yg lebih utama dan bernilai kekal) dan bukan sekedar keselamatan fisik.

PENJAHAT YANG KEDUA
Ia menjawab hujatan penjahat yang pertama: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Ia mengingatkannya untuk bersikap takut akan Allah karena sudah mau mati! “the love and the fear of God” (kasih dan takut akan Tuhan) merupakan landasan moral dan pietis (kesalehan) bagi orang Yahudi.

Ia melanjutkan: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Pen-jahat ini sadar bahwa ia memang berdosa dan patut mati. Ia tidak lagi memiliki keinginan untuk membela dirinya sendiri. Yang menjadi fokus bagi dirinya, di ujung hidupnya adalah keselamatan jiwanya! Ia merasa begitu miskin rohani di hadaparan Allah dan membutuh-kan ampunan-Nya. Tuhan menyatakan rahmat-Nya bagi si penjahat yang bertobat ini. Ketika si penjahat itu memohon: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja,” Yesus menjawabnya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Dihadapan Allah, saudara dan saya tidak lebih baik dari para penjahat itu. Kita adalah orang berdosa yang berada dalam murka Allah! Kepada saudara dan saya diberi anugerah keselamatan sebagaimana penjahat yang bertobat, bukan karena kita baik atau karena perbuatan baik kita, namun karena belas kasihan Allah. Kita akan menghadap meja Perjamuan Kudus Tuhan pada Jumat Agung nanti, persiapkan hati kita, mari kita datang dengan segala hormat dan pengucapan syukur atas apa yang telah Yesus perbuat di atas salib.

SHARE
Previous articleWarta, 18 Maret 2018
Next articleWarta, 25 Maret 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here