Efesus 5:15-21 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Hendra; Minggu, 11 Agustus 2019

Fakta kehidupan yang mengisahkan banyaknya kasus kawin cerai, kumpul kebo, narkoba, maut karena posisi selfie, memperlihatkan banyak orang tidak memperhatikan sungguh-sungguh bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Dampak hidup yang sembarangan ini hanya me- nimbulkan luka, kepedihan, rasa bersalah bagi anggota keluarga. Bagaimana dengan kehidup- an orang percaya? Firman Tuhan selama 3 minggu ini berbicara tentang manusia baru. Orang percaya harus ingat bahwa kita punya status manusia baru, Ya manusia baru; secara khusus ditekankan ….. perhatikan hidup dengan seksama bagaimana kamu hidup. LAI menerjemahkan dengan tepat frasa ini menjadi “saksama” dengan suatu pengertian tepat, hati-hati.

Pesan Firman Tuhan hari ini: “Jangan hidup sembarangan, perhatikanlah hidup kita dengan saksama! Bagaimana memperhatikan hidup kita dengan saksama ?

1. Hidup Berhikmat (ay. 15)
Di ayat 15, Paulus berkata “janganlah seperti orang bebal tetapi seperti orang arif.” Kata “bebal” dalam bahasa aslinya mengacu kepada hidup tidak berhikmat. Jadi berbicara tentang hidup berhikmat atau tidak.

Paulus dalam Ef. 1:8-9 sudah berkata bahwa hikmat telah dilimpahkan kepada kita melalui penebusan oleh anugrah Allah (1:8-9) dan Paulus telah berdoa bagi orang-orang percaya agar mereka dan kita mengenal Allah dengan benar melalui hikmat tersebut (1:17-19) .Jika kita me- ngenal Allah melalui hikmat tersebut, dan menghidupinya dalam jemaat, itu sama artinya kita menyatakan hikmat Allah (3:10). Jika kita tetap merasa kurang hikmat, maka mintalah pada Allah (Yak. 1:5).

Wujud nyata dari hidup berhikmat adalah mempergunakan waktu yang ada. Harus gunakan waktu baik-baik, karena hari-hari ini adalah jahat. Kata “waktu” yang dimaksudkan oleh ayat ini bukanlah waktu yang terus berputar secara teratur , tetapi lebih tepatnya kesempatan (kairos). Jadi, pekalah pada Tuhan ketika Tuhan memberikan kairos kepada kita.

2. Hidup Mengerti Kehendak Tuhan (ay. 17)
Kontras kedua yang Paulus tuliskan pada perikop ini adalah: “jangan kamu bodoh; tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Saya duga tidak ada di antara kita yang suka dikatakan bodoh. jika ada yang mengatakan demikian, terasa merendahkan diri kita. Namun ayat 17 yang kita baca Paulus menuliskan : jangan kamu bodoh. Paulus mengaitkan kebodohan dengan kehendak Allah, yaitu:
• kegagalan memahami apa yag dikehendaki Allah bagi umat-Nya dan
• kegagalan untuk melakukan kehendak-Nya.

Syukur bagi kita ketika kehendak Allah itu telah dinyatakan.
• Rasul Paulus menjadi Rasul oleh kehendak Allah (Ef. 1:1).
• umat Allah telah ditentukan dari semula melalui kehendak Allah (1:5).
• pada akhirnya segala sesuatu di surga dan dibumi akan dipersatukan dalam Kristus (1:10)
• saat jemaat hidup sebagai jemaat yang benar, kehendak Allah sedang dikerjakan (5:17; 6:6)

Paulus menggunakan kata “kehendak Tuhan” mengacu kepada kehendak Kristus, berarti berkaitan dengan Kristus. Ketika kita mengenal Kristus, maka kita belajar segala sesuatu tentang kehendak Kristus dan taat melakukan kehendak-Nya di dalam hidup kita.

3. Hidup dipenuhi Roh Kudus (ay. 30)
Kontras ketiga yang digunakan oleh Paulus adalah “janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.”

Mengapa Paulus menggunakan perbandingan dipenuhi dengan Roh dengan mabuk anggur? Ini bukanlah berbicara mabuk anggur atau mabuk Roh Kudus. Jelas dua hal ini tidak setara diperbandingkan. Namun Paulus bertujuan untuk mengingatkan manusia lama yang sering mabuk oleh anggur dan sulit mengendalikan hawa nafsunya. Itulah penggambaran kegelapan manusia lama.

Sebagai manusia baru, hendaknya terus menerus dipenuhi oleh Roh Kudus. Kepenuhan yang dimaksud di dalam kehidupan orang Kristen akan menghasilkan kualitas hidup yang semakin serupa dengan Kristus dan bukan kecemaran yang berasal dari kemabukan. Memahami dipenuhi terus menerus oleh Roh Kudus, berdasarkan tujuan penulisan kitab Efesus, kita mendapatkan bahwa dalam kehidupan berjemaat, penting dipenuhi terus menerus oleh Roh Kudus agar dapat menjadi jemaat yang sesuai dengan maksud dan rencana Allah, berelasi dengan ciri 3 hal:
• Jemaat yang bernyanyi: tujuan bernyanyi selain untuk menyembah Tuhan, juga untuk mengajar, menguatkan dan memberi dorongan.
• Jemaat yang mengucap syukur: tanda kedua dari seseorang dipenuhi Roh Kudus adalah senantiasa mengucap syukur. Mengucap syukur bukan karena situasi tertentu yang dialami, tetapi dalam segala situasi
• Jemaat yang merendahkan diri. Pribadi yang dipenuhi Roh Kudus akan bersikap merendahkan diri satu dengan yang lain dalam kehidupan jemaat. Dasar saling merendahkan diri bukanlah untuk terkenal atau untuk kebanggaan diri, tetapi “takut akan Kristus“.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here