Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 04 Maret 2018

Matius 26:17-29

Ada “kemiripan” latar belakang antara perayaan Paskah (pesakh) yang dilakukan oleh bangsa Israel dan Perjamuan Kudus yang gereja kita lakukan. (1) Bangsa Israel meraya-
kan Paskah karena mereka mengingat kasih dan kuasa Allah dalam membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, dan kita merayakan Perjamuan Kudus karena kita mengingat kasih dan kebaikan Allah dalam membebaskan kita dari perbudakan dosa; (2) Percikan darah domba di pintu rumah menyebabkan adanya keselamatan (tidak ada kematian anak sulung) di dalam rumah bangsa Yahudi (tulah ke 10), dan kita menerima percikan darah Kristus sehingga kita beroleh kehidupan; dan (3) Keluarnya bangsa Israel hanya karena kuasa Allah, dan kita pun diselamatkan hanya karena anugerah Allah semata. Dengan kata lain, kita mengadakan Perjamuan Kudus untuk merayakan kasih Allah yang besar bagi kita, sama seperti bangsa Israel merayakan Paskah.

Dalam perikop ini, Tuhan Yesus menyebutkan “waktu-Ku hampir tiba” (ay. 18). Hal ini untuk menyatakan bahwa waktu penggenapan karya keselamatan Allah akan segera terlaksana. Dengan kata lain, bukan hanya ada “kemiripan” tapi penggenapan. Di dalam Injil Yohanes, beberapa kali disebutkan bahwa Tuhan Yesus akan ditangkap, tapi karena belum waktu-Nya, maka hal itu tidak terjadi. Tuhan menggenapkan jalan keselamatan-Nya menurut waktu-Nya sendiri (Gal. 4:4).

Pada malam ketika Tuhan Yesus akan merayakan Paskah, Ia memberi makna yang baru terhadap roti dan anggur yang dimakan dan diminum waktu itu. Ia mengarahkan bahwa semuanya itu tertuju kepada diri-Nya. Dengan kata lain, seluruh nubuat tentang keselamatan akan digenapi di dalam diri-Nya.

Tuhan Yesus mengatakan, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” dan “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dari pernyataan ini: (1) Roti dan anggur tidak mengalami perubahan apa pun, dan dengan demikian kita tidak menyetujui konsep transubstansia; (2) Penggunaan roti dan anggur bermakna figuratif. Tuhan Yesus sering menggunakan cara ini, misalnya “Aku adalah pintu.” Tuhan Yesus tidak berubah menjadi pintu, tapi dengan media tersebut, Tuhan sedang menyampaikan pesannya; dan (3) Roti yang dipecah melambangkan tubuh yang terluka-luka dan anggur yang dituangkan melambangkan darah yang menetes, dan ini meng-gambarkan tentang penderitaan yang menggantikan, yakni pengampunan dosa (bdk. Yes. 53).

Rasul Paulus menyimpulkan karya Allah ini dengan menyatakan “Ia, yang tidak menya-yangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32). Ini menggambarkan tentang hati Allah yang penuh dengan kasih untuk manusia yang berdosa. Jika hati Allah sedemikian besar untuk kita, apakah yang masih kita ragukan dari hati Allah?

Perjamuan Kudus mengajak kita untuk merenungkan tentang karya Allah dalam hidup kita: masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Masa Lalu. Dalam tradisi orang Yahudi, perayaan paskah selalu disertai dengan makan sayur pahit. Tujuannya adalah untuk mengingatkan bahwa Israel tentang pahitnya hidup di tanah perbudakan. Kita juga perlu merenungkan hal ini, bahwa hidup di dalam dosa (masa lampau) adalah hidup yang pahit. Anugerah Allah yang kita terima adalah manis, sehingga memotivasi kita untuk hidup dalam kekudusan.

Masa Kini. Perjamuan Kudus yang kita lakukan mengingatkan kita tentang kasih Allah selalu cukup di sepanjang kehidupan kita. Dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, bangsa Israel menghadapi berbagai pergumulan. Akan tetapi, Allah selalu menyertai mereka. Dalam perjalanan iman kita pun Allah menjanjikan penyertaan bagi kita. Jangan pernah ragukan hati dan kasih Allah bagi kita semua.

Masa Depan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita akan bersama-sama dengan Dia di
dalam Kerajaan Bapa-Nya. Ini menyatakan pengharapan eskatologi bagi semua orang
percaya (bdk. Why. 19:9, 17).

Mari kita persiapkan hati kita dalam merayakan Paskah tahun ini dengan kita meng-
ingat segala kasih-Nya bagi kita semua. Amin.

SHARE
Previous articleWarta, 04 Maret 2018
Next articleWarta, 11 Maret 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here